Mantan Wakil Menhan Jepang Akui Terima Suap

*TOKYO--MI:* Mantan pejabat tinggi Departemen Pertahanan Jepang, Senin
(21/4), mengakui bersalah telah menerima uang suap bagi perjanjian kontrak
militer yang merupakan skandal yang sangat mempermalukan pemerintah.

Takemasa Moriya, 63, yang diberi julukan nama *the Emperor* (sang kaisar)
karena pengaruhnya yang cukup kuat di Departemen Pertahanan sampai ia
memasuki masa pensiun tahun lalu, telah mengakui bahwa dia menerima uang
suap pada sidang pembukaan pengadilan terhadap dirinya.

"Saya meminta maaf kepada seluruh rakyat dan para pejabat negara karena saya
telah berada dibalik kejahatan tersebut," kata Moriya dalam pernyataan
pembukanya di pengadilan negeri wilayah Tokyo, seperti yang dikutip oleh
kantor berita *Jiji* dan *Kyodo*.

Moriya sebelumnya telah mengakui bahwa dia dan istrinya telah menerima
hadiah berupa jamuan makan malam, wisata golf dari sebuah perusahaan
kontraktor militer. Namun Moriya telah menyangkal perbuatannya itu sebagai
perbuatan yang salah karena kontraktor tersebut adalah kawannya.

Kemunculan Moriya dalam sidang pendahuluan tersebut adalah penampilannya
yang pertama kali sejak dia yang merupakan mantan wakil menteri pertahanan
dibebaskan dengan jaminan pada Januari lalu. Dia ditangkap pada 28 November
tahun lalu.

Menurut tuduhan yang diajukan kepadanya, Moriya telah menerima uang suap
sebesar 12,5 juta yen atau US$125 ribu yang merupakan imbalan atas
pengaruhnya sehingga kontraktor tersebut memenangkan kontrak, selain uang
sebesar 3,63 juta yen dalam bentuk tunai yang didepositokan atas nama
istrinya dan putrinya.

Kasus itu merupakan satu masalah besar yang menjadi beban bagi Perdana
Menteri Yasuo Fukuda yang menduduki jabatan nomor satu pemerintahan di
Jepang sejak September lalu yang menginginkan pemerintahannya dimulai

dengan awal yang bersih setelah pendahulunya Sinzo Abe dibebani dengan
sejumlah skandal di jajaran pemerintahannya.

Namun dukungan bagi Fukuda telah mencapai catatan rekor terendah
ditengah-tengah kontroversi serta penolakan keras pihak oposisi atas
agendanya. Oposisi memenangi pemilu parlemen pada tahun lalu.

Departemen Pertahanan khususnya telah diterpa oleh berbagai skandal. Pada
Februari, kapal penghancur Jepang yang canggih telah menabrak sebuah perahu
penangkap ikan yang menyebabkan kematian si nelayan dengan

putranya. (Ant/AFP/OL-03)

Kirim email ke