*Kamis, 24 April 2008* *Demi dapat 5 Liter Berdesak-desakan, Bahkan Pingsan * *Minyak Tanah Langka, Warga Masih Antri *
*Pontianak,-* Beli di warung harganya lebih tinggi. Beli di pangkalan pasti antre. Antrian minyak tanah sudah menjadi pemandangan umum. Dimana-mana, setiap ada pangkalan, warga berduyun-duyun mendapatkannya. Tak perduli hujan atau panas. Dengan dirigen di tangan, harapkan pulang bawa isi. M Kusdharmadi Pontianak SETIAP hari warga antrian panjang untuk mendapatkan minyak tanah beberapa liter. Seperti yang terjadi di pangkalan KPN Gubernur, Jalan Aris Margono kemarin, antrian panjang warga terlihat. Tidak saja ibu rumah tangga, bapak-bapak pun juga ada. Bahkan ada pula ibu yang menggendong anak. Satu tangan memegang dua dirigen isi lima liter, satu tangan memegang payung dan selendang di bahu untuk menggendong anaknya. Sementara itu, warga lainnya berdesak-desakan untuk masuk ke dalam pagar rumah. Sebenarnya, tempat antriannya sudah di buat sedemikian rupa sehingga para warga bisa tertib. Namun banyak yang tidak sabaran dan ketakutan tidak mendapatkan jatah minyak, nyaris saja pagar seng tersebut sempat roboh. Beruntung situasi ini bisa dikendalikan oleh anak buah pangkalan milik Hajjah Miyani ini. Sementara itu, seorang warga yang tinggal di Pasar Flamboyan, Lilis, mengakui setiap hari Rabu memang mengantri minyak di sini. Menurut dia, jika membeli di warung harganya bisa lebih mahal dari pada di pangkalan. Mungkin ini juga salah satu penyebab mengapa warga rela antri panas-panasan dan berjam-jam di pangkalan, ketimbang membeli di warung. "Dimana ada minyak, biasanya di situ saya ngantri. Kalau di sini (pangkalan, red) Rp 2400 per liter. Sedangkan kalau di warung-warung Rp 3500 per liter," ungkap Lilis yang mengaku berjalan kaki dari Pasar Flamboyan tersebut. Pembeli sudah diwajibkan menyerahkan kartu keluarga (KK). Hal ini memudahkan pembagian jatah, agar tidak ada yang dapat dua kali. "Kecuali minyaknya lebih bisa kita berikan dua kali," ungkap suami pemilik pangkalan yang enggan namanya dikorankan. Setiap pembeli hanya di jatah sebanyak 10 liter. Bisa dihitung, jika satu tangki memuat sebanyak 5000 liter, maka dengan 10 liter per orang bisa kebagian sebanyak 500 pengantri. Lalu kenapa mesti berdesak-desakan? Ini juga yang harus disadari. Seorang ibu yang mengaku menderita penyakit parkinson, tiba-tiba menyeruduk masuk. Sambil berteriak-teriak dia melewati pagar pembatas. Dengan tubuh gemetar perempuan yang mengaku bernama Bibah ini ingin segera mendapat minyak. Oleh penjual akhirnya wanita tua ini diberikan juga, karena dia juga sudah menyerahkan KK. "Memang beginilah kondisinya," ungkap suami Hajjah Miyani. Seorang ibu lainnya mengaku pernah pingsan antri minyak tanah. "Waktu itu saya didorong-dorong. Cuaca panas waktu itu," kenang Rusmini, warga gang Dungun. "Kalau pakai KK jadi tertib. Baru ini pakai KK. Tidak bisa lebih dari 10 liter," tambahnya. Sementara itu, ketika di konfirmasi ke kantor cabang Pertamina Unit PPDN VI Kalbar, Jalan Sutoyo, ternyata pegawainya sedang beristirahat makan siang. Namun sempat dilakukan wawancara oleh salah seorang wartawan Anteve kepada pihak pertamina. "Jatah tidak dikurangi. Isu kenaikan harga, dikhawatirkan akan terjadinya penimbunan," kata Asisten Layanan Jual Pertamina unit PPDN VI Kalbar, Fery Artadinata. Di Pontianak, kata dia, setiap bulan sudah dijatah sebanyak 16.000 kilo liter (kl). Satu kilo liter sama dengan 1000 liter. Jadi 16.000 kiloliter sama dengan 16 juta liter. Kok masih ada yang antri dan masih sering langka? Dia mengatakan, "Mengantisipasi penyelewengan, Pertamina sudah bekerja sama dengan aparat kepolisian. Jika ada yang menyeleweng bisa di tangkap," tukasnya. (*)
