Senin, 12 Mei 2008 Polda Olah TKP, Kantongi Petunjuk Pembunuhan Kasus Pembantaian Kakek-Nenek
Singkawang,- Pembunuhan kakek nenek di rumah tua No 25 Jalan RA Kartini, Kelurahan Sekip Lama, Kecamatan Singkawang Tengah, Sabtu (9/5) lalu masih misterius. Guna mengungkap pembunuhan sadis tersebut keesokannya, Minggu siang Polres Singkawang menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi Polda Kalbar lengkap dengan peralatan laboratorium forensik juga turut hadir serta bekerja. Dalam tempo empat jam sejak pukul 13.00, petugas terus mendalami petunjuk yang ada. Mulai dari percikan darah, jejak kaki yang berlumur darah, lemari yang terbuka serta parang yang diambil dari dalam bak mandi. Keterangan para saksi juga langsung dikonfrontir di rumah berukuran 10 meter x 12 meter tersebut. Merasa penasaran, ratusan warga menyemut di sekitar rumah papan yang telah dipolice line tersebut. Ditemui pada olah TKP, saksi mata yang pertama sekali menyaksikan mayat Jiu Han Djan, 97, tampak tegang. Hanya saja dengan lancar membeberkan setiap informasi yang dimilikinya. "Kemarin siang saya melihat satu lelaki bersepeda motor bebek dengan mengenakan helm masuk ke rumah melalui pintu samping. Bahkan sempat menertawai saya yang tengah menunggui warung," tandas ABG ini. Saksi bekerja di warung ayam penyet yang tepat berdampingan dengan rumah korban. Dan pintu samping terbuat dari seng hanya berjarak satu meter dari posisinya berdiri. Hanya saja, dia tidak menaruh rasa curiga sedikit pun. Hingga sampai sore hari, pintu jendela korban tetap terbuka. Ditambah lagi seluruh pekarangan dan isi rumah gelap gulita. Sementara saksi lain menjelaskan sekitar pukul 13.00 ada mendengar suara keluhan yang dipastikan dari mulut Ng Chun Khim, 80, yang mayatnya telentang di dapur. Tidak itu saja, suara ketukan keras berkali-kali benda keras juga turut mewarnai. Senada, Ahon yang sudah sejak satu bulan lalu bertugas mengganti pagar kayu menjadi tembok semen di belakang rumah korban mengaku terkejut dengan peristiwa ironis tersebut. Padahal, pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini ada mampir ke TKP, dua jam sebelum mayat ditemukan. "Saya sudah satu bulan membangun tembok rumah korban. Dan saya bekerja hanya pada hari Minggu dan bila ditotal baru empat kali," ujar lelaki yang bermukim di Sekip Lama ini. Lebih jauh Ahon menuturkan tujuannya mampir adalah menitipkan peralatan tukang sebelum bekerja keesokan harinya. Dan proses pembangunan pagar setinggi dua meter dengan panjang sekitar 12 meter tersebut nihil penolakkan para tetangga alias berjalan lancar. "Dahulu saya juga turut membangun garasi korban," ungkap pria yang mendapat upah Rp 50 ribu untuk satu hari bekerja ini. Sementara, putra sulung korban, Jit Min, 60, yang bermukim di Kota Pontianak menuturkan, mengetahui musibah tersebut dari sanak keluarga. Dan melihat langsung mayat ayah dan ibunya sekitar pukul 23.00. "Orang tua saya tidak pernah menyimpan uang tunai dalam jumlah besar. Demikian juga barang-barang berharga. Kami juga para anak dan cucunya bila datang tidak selalu memberi uang tunai sebaliknya makanan maupun minuman," beber Jit. Lelaki yang bekerja sebagai teknisi bengkel ini memastikan jenazah orang tuanya dikebumikan di Singkawang. Dan hingga berita ini diturunkan masih berada di RS Vincentius Singkawang. "Saya dan kedua adik lahir dan besar di rumah ini. Dulunya ayah saya pernah bekerja sebagai suplai makanan tentara. Selanjutnya fokus berdagang kelontong di rumah," lirih ayah beranak tiga ini. Di sisi lain, Syafii yang bertempat tinggal di Gang Citra, Jalan RA Kartini, tepat di belakang rumah korban menceritakan nihil mendengar percakapan, suara teriakan, benturan maupun aktivitas membasuh anggota tubuh. Sementara bila para anak korban datang dan terlibat pembicaraan, biasanya masih bisa terdengar sayup-sayup. "Pak tua yang biasa disapa Sinsang tersebut sudah sangat tua. Sehingga nada bicaranya sangat lemah dan kurang jelas terdengar," aku Saiful, warga sekitar. Secara terperinci dia mengatakan kehidupan sehari-hari kedua korban tersebut sangat damai dan sederhana. Usaha dagangan hanya sekadar mengisi hari tua tanpa mengejar target keuntungan besar. Untuk musuh diperkirakan tidak ada sama sekali. "Kalau orang asing, mustahil bisa dengan mudah masuk rumah. Terlebih bila warung sudah tutup saat kedua pasangan suami istri tersebut istirahat siang, mandi maupun makan biasanya pembeli tidak dilayani," sebut lelaki yang terhitung sebagai tetangga korban ini. Usai menggergaji papan tertempel jejak kaki pelaku dengan berlumur darah, tim identifikasi bergegas pulang. Kapolres Singkawang AKBP Parimin Warsito SH yang ditemui di sela-sela olah TKP memastikan telah memperoleh petunjuk-petunjuk seputar peristiwa tragis tersebut. Dan terus mendalami motif para pelaku. Dari informasi yang berhasil dirangkum, para pelaku diperkirakan masuk dan keluar dari pintu seng depan. Setelah tuntas menghabisi nyawa kedua korban, bergerak membuang tiga senjata tajam ke dalam bak. Bahkan sempat membasuh kaki maupun tangan. Selanjutnya menggerayangi almari. (man) Source : http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=72662 <http://www.equator-news.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=72662> ========= Minggu, 11 Mei 2008 Kakek Nenek Ditemukan Tewas Dibunuh Secara Sadis Motif Diduga Perampokan [TEWAS : Anggota Polres Singkawang melakukan pemeriksaan di TKP. Tampak Jasad Ng Cun Khim yang tergeletak di dapur rumahnya. Foto Zulkarnaen Fauzi/Pontianak Post] Singkawang,- Pasangan kakek dan nenek, Jiu Han Djam (97) dan Ng Cun Khim (80), Sabtu (10/5) malam sekitar pukul 18.00 WIB ditemukan tewas di rumahnya, Jalan RA Kartini No 25, Singkawang Tengah. Mayat Jiu Han Djam ditemukan tak bernyawa dengan bersimbah darah di ruang keluarga (ruang tengah). Dibagian leher ditemukan luka bekas benda tajam, kepala, tangan dan berapa luka dibagian lainnya. Posisi mayat terlentang dan sudah kaku. Sementara istrinya ditemukan dengan posisi terlentang di dapur. Wajahnya dipenuhi darah yang hampir mengering. Terdapat luka di leher dan tubuh lainnya. Informasi yang dihimpun Pontianak Post di tempat kejadian, penemuan mayat suami istri ini berawal saat Vina, tetangganya, melihat lampu rumah Jiu belum menyala. Dia kemudian berinisiatif pergi ke rumah pasangan suami istri yang membuka toko ini. Vina pun mengetuk pintu bagian samping yang terbuat dari seng. Saat mengetuk pintu dan memanggil nama Ace, panggilan akrab korban, Vina mendorong pintu yang tak terkunci. Vina pun lantas masuk ke dalam rumahnya. Alangkah terkejutnya dia, ketika melihat sosok mayat terkapar dan bersimbah darah. Vina kemudian keluar dan berteriak histeris memberitahukan kejadian tersebut kepada warga sekitar. Tak lama berselang, petugas kepolisian mendapatkan laporan peristiwa pembantaian tersebut segera mendatangi lokasi kejadian yang sudah dijejali warga. Di TKP, polisi melakukan pemeriksaan disetiap sudut rumah korban untuk mencari barang bukti. Polisi berhasil mengamankan empat buah senjata tajam berupa parang dan barang bukti lain guna penyelidikan lebih lanjut. Salah satunya adalah sabit (arit) yang berdarah dan ujungnya terlihat bengkok. Kemungkinan besar, arit tersebut dipakai untuk menghabisi korban hingga mengena tulang. Senjata tajam ini ditemukan di atas meja dekat mayat Ng Cun Khim. Tiga senjata tajam lainnya ditemukan di bak yang berisi air. Di rumah korban terdapat dua kamar yang sudah terbuka. Lemari yang ada pintunya juga sudah terbuka. Kuat dugaan, usai membunuh, pelaku mengambil barang berharga. Sampai berita ini diturunkan polisi masih mengeledah rumah tersebut. Apakah benar ada barang-barang berharga tersimpan dan hilang. Polisi sudah menghubungi pihak keluarga termasuk anak-anaknya yang tinggal di Pontianak. Ketua RT setempat, Rinoso mengatakan, pasangan tersebut selama ini dikenal sebagai pedagang kelontong kecil-kecilan dengan memanfaatkan rumahnya. "Mereka memang tinggal berdua saja," kata dia. Saksi mata lainnya mengatakan, sejak pagi pagi tokonya tak dibuka. "Setiap harinya memang sepi, karena dia berdua saja tinggal," kata saksi mata kepada Pontianak Post, kemarin. Kapolres Singkawang AKBP Parimin Warsito SH juga berada di tempat kejadian, termasuk Kasat Reskrim AKP Sarjono SH, Kasat Intelkam AKP Mulyadi SH, Kapolsek Singkawang Tengah AKP Antonius Sinaga dan sejumlah perwira lainnya. Kapolres menjelaskan, pihak belum mengetahui secara pasti motif dari kejadian pembunuhan tersebut dan apa saja yang hilang. "Polisi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut apa motif, berapa jumlah pelaku dan apa saja yang diambilnya. Apakah korban ini memiliki barang berharga," kata Parimin. Analisis Parimin, pelakunya kemungkinan lebih dari satu. "Sekarang kita sudah memanggil saksi yang kali pertama menemukan mayat tersebut. Doakan saja, polisi berhasil mengungkap misteri kematian pasangan suami istri ini," kata Parimin di lokasi kejadian. Setelah itu, mayat pun dibawa ke rumah sakit. Di tempat kejadian, rumah korban dipadati oleh sejumlah masyarakat yang ingin melihat dan mengetahui secara langsung kejadian. Polisi melarang warga untuk masuk ke halaman korban dan menutup pagar. (zrf) Source : --http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Utama&id=157600
