*Tahu Disco* Di suatu tempat tidak jauh dari keramaian kota Singkawang, tepatnya di dekat eks pabrik es Chai Jun Fui, selama ini dikenal dengan jalan Kang Bui Fui No.264 - Hok Lo Nam sana terdapat satu keluarga pembuat tahu yang sangat unik. Caranya lain dari biasanya, keluarga pembuat tahu yang ini sudah lama menarik perhatian banyak orang, termasuk redaksi Buletin Permasis.
Pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2008 sekitar jam 19.30 waktu setempat, Buletin Permasis dengan diantar oleh Sdr.Bong Bui Khiong bersama keluarga Phang Djit Hie, berkesempatan mengunjungi keluarga pembuat tahu ini. Buletin Permasis mendapat sambutan yang ramah sekali dari Kepala Keluarga bernama Bong Hian Choi (54 th). Menurut Choi Ko (nama yang biasa dipanggil), keluarganya ini sudah beberapa kali mendapat kunjungan dari wisatawan dan wartawan, bahkan pernah dari orang bule sekalipun, sehubungan dengan keunikan caranya membuat tahu. Dari pengamatan Permasis, cara membuat tahu ini memang menarik dan menyegarkan, semuanya ditangani oleh isteri (Then Siu Jung) dan anak-anaknya. Di dalam numahnya yang terbilang besar dan luas, mereka sekeluarga bahu membahu membuat tahu petak mulai dari jam 10 pagi sampai dengan jam 8 malam. Setelah semuanya dibersihkan, sekitar jam 12.00 tengah malam, Choi Ko bersama anaknya yang sudah besar mulai bergerak dengan mobil pick-up mengantar dan menjual tahu petaknya ke pelanggannya sampai jam 3 —4 pagi. Rata-rata sehari menghabiskan antara 50 kg sampai dengan 80 kg kedelai tergantung keramaian pesanan, tapi setiap hari terjual habis sekitar 1.000 buah tahu petak. Karena keistimewaan tahunya, ada pelanggan yang datang dari Bengkayang, Sambas dan Pontianak. Usaha ini sudah dirintis oleh Choi Ko bersama isteri mulai dari 20 tahun lalu sampai sekarang, dan berhasil membesarkan 11 anak-anaknya. Istilah "JOGET DISCO" ini bermula dari gerakan tubuh yang serba dinamis dari anak-anaknya, seperti gerak tangan yang sangat cekatan dalam mencetak dan menyusun tahu-tahu petak. Gerak tubuh, kaki dan kepala yang simultan mengimbangi gerak tangan sehingga kelihatannya seluruh bagian tubuh anak-anak itu bergerak cepat selama proses pencetakan dan penyusunan tahu itu berlangsung. Gerakan-gerakan tubuh, kaki - tangan dan kepala mereka akan lebih dinamis lagi kalau diiringi dengan musik dan lagu, apalagi lagunya itu lagu anak-anak muda yang keras dalam hentakan dan cepat ritmenya. Mereka persis seperti orang-orang yang sedang menari disco, tapi sambil membuat tahu. Barangkali terbiasa dengan musik yang sering mengiringi kerja mereka, sehingga tanpa musikpun gerak tubuh mereka sudah terlihat menyatu dengan sikap keseharian (kebiasaan) dalam membuat tahu. Hanya saja kalau diiringi dengan musik lebih terlihat intens gerakan tubuh mereka. Kemahiran membuat tahu petak sambil "BERDISCO" ini sudah berlangsung lama, sehingga sejak kecil anak-anak Choi Ko sudah terbentuk kebiasaan berdisco ria menirukan kakak-kakaknya, sehingga anak-anak yang Permasis saksikan waktu itu sudah merupakan generasi yang lebih muda, yang gaya bikin tahunya mungkin sulit ditiru oleh orang lain. Berikut sekilas bincang-bincang Buletin Permasis dengan Choi Ko di rumahnya: *Buletin Permasis (BP): Sejak kapan Choi Ko mulai menjalani bisnis tahu?* Bong Han Choi (BHC): Sejak 20 tahun lalu. Sebelumnya saya bekerja sebagai tukang kayu selama 15 tahun, setelah itu menjual sayur berkeliling (dengan sepeda) ke rumah-rumah orang. Dari jualan sayur itulah, bersama isteri sudah mulai membuat tahu. Selanjutnya karena anak-anak kian hari kian bertambah (sekarang memiliki 11 anak: 8 laki-laki dan 3 perempuan), maka mau tidak mau kami mencari akal untuk bisa menghidupi keluarga kami. Rupanya tahu buatan kami laku sekali, sehingga jadilah kami sekeluarga membuat dan menjual tahu. * ** BP: Apa Choi Ko sebagai agen tahu saja atau juga mengecer ke pelanggan?* BHC: Dua-duanya, tahu-tahu kami tersebar ke penjual-penjual tahu di pasar-pasar di Singkawang dan juga dijual kepada orang perorang. Bahkan ada pembeli yang berasal dari Bengkayang, Sambas dan Pontianak ke tempat kami. *BP: Dengan omzet tahu petak yang lakunya sampai 1000 potong per hari, berapa orang yang dilibatkan selama pembuatannya, dan pendistribusiannya bagaimana?* BHC: Yang membuat semuanya adalah anak-anak dan isteri, dan proses penggilingan (pakai mesin) kedelai, memasak dan mengolahnya sampai pencetakannya. Mereka setiap hari bekerja dari jam 10 pagi sampai malam, mereka bekerja dengan cepat sekali karena sudah terlatih dari kecil, sehingga kelihatannya seluruh bagian tubuh mereka terlihat bergerak seperti sedang menari, apalagi diiringi dengan musik dan lagu anak-anak muda. * BP: Lalu pendidikan anak-anak Choi Ko bagaimana?* BHC: Rata-rata anak-anak saya berpendidikan formal sampai lulus SMP. Bagi kami, pendidikan sampai SMP sudah cukup. BP: *Apa tidak terpikir masa depan mereka kalau hanya sampai SMP saja, lalu Choi Ko sendiri bagaimana?* BHC: Ya menurut saya sih sekolah sampai SMP sudah cukuplah, saya sendiri tidak bersekolah.(S) Sumber: Buletin Permasis Edisi Ke-10 <http://www.permasis.org>
