Besok Ng Nyiat ciat:)

---------------------



Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Peh_Cun



Duanwu Jie (Hanzi: 端午節) atau yang dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di 
kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan 
dan sejarah Tiongkok. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan (Hanzi: 
扒船, bahasa Indonesia: mendayung perahu). Walaupun perlombaan perahu naga bukan 
lagi praktek umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap 
digunakan untuk menyebut festival ini.

 

Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek 
dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou. Perayaan 
festival ini yang biasa kita ketahui adalah makan bakcang (Hanzi: 肉粽, hanyu 
pinyin: rouzong) dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara 
luas di seluruh Tiongkok, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga 
berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih 
besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.

 

Asal Usul

 

Dari catatan sejarah dan cerita turun temurun dalam masyarakat Tiongkok, asal 
usul festival ini dapat dirangkum menjadi 2 kisah:

 

Peringatan atas Qu Yuan

Qu Yuan (Hanzi: 屈原) (339 SM - 277 SM) adalah seorang menteri negara Chu (Hanzi: 
楚) di Zaman Negara-negara Berperang. Ia adalah seorang pejabat yang berbakat 
dan setia pada negaranya, banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, 
bersatu dengan negara Qi (齊) untuk memerangi negara Qin (秦). Namun sayang, ia 
dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada 
pengusirannya dari ibu kota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan 
masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo. Ini 
tercatat dalam buku sejarah Shi Ji.

 

Lalu menurut legenda, ia melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang 
kemudian merasa sedih kemudian mencari-cari jenazah sang menteri di sungai 
tersebut. Mereka lalu melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan 
maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang 
menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai 
tersebut maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai 
bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan 
berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap 
tahunnya.

 

Bermula Dari Tradisi Suku Kuno Yue di Tiongkok Selatan

Perayaan sejenis Peh Cun ini juga telah dirayakan oleh suku Yue di selatan 
Tiongkok pada zaman Dinasti Qin dan Dinasti Han. Perayaan yang mereka lakukan 
adalah satu bentuk peringatan dan penghormatan kepada nenek moyang mereka. 
Kemudian setelah terasimilasi secara budaya dengan suku Han yang mayoritas, 
perayaan ini kemudian berubah dan berkembang menjadi perayaan Peh Cun yang 
sekarang kita kenal.

 

 

Kegiatan dan Tradisi

* Lomba Perahu Naga : Tradisi perlombaan perahu naga ini telah ada sejak Zaman 
Negara-negara Berperang. Perlombaan ini masih ada sampai sekarang dan 
diselenggarakan setiap tahunnya baik di Tiongkok Daratan, Hong Kong, Taiwan 
maupun di AS. Bahkan ada perlombaan berskala internasional yang dihadiri oleh 
peserta-peserta dari manca negara, kebanyakan berasal dari Eropa ataupun 
Amerika Utara. Perahu naga ini biasanya didayung secara beregu sesuai panjang 
perahu tersebut.

* Makan Bakcang : Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah 
satu kegiatan dalam festival Peh Cun sejak Dinasti Jin. Sebelumnya, walaupun 
bakcang telah populer di Tiongkok, namun belum menjadi makanan simbolik 
festival ini. Bentuk bakcang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat 
sekarang hanya salah satu dari banyak bentuk dan jenis bakcang tadi. Di Taiwan, 
di zaman Dinasti Ming akhir, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari 
Fujian adalah bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita 
lihat sekarang. Isi bakcang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging. Ada 
yang isinya sayur-sayuran, ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi 
yang kemudian dimakan bersama serikaya, gula manis.

* Menggantungkan Rumput Ai dan Changpu : Peh Cun yang jatuh pada musim panas 
biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga 
rumah-rumah biasanya melakukan pembersihan, lalu menggantungkan rumput Ai 
(Hanzi: 艾草) dan changpu (Hanzi: 菖埔) di depan rumah untuk mengusir dan mencegah 
datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi 
menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.

* Mandi Tengah Hari : Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal 
dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong (Teochiu, Kengchiu, Hakka) dan 
Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun 
ini, dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi 
ataupun diminum setelah dimasak.

 

    * Dan masih banyak kegiatan dan tradisi lainnya yang berbeda-beda di 
masing-masing propinsi di Tiongkok. Suku Manchu, Korea, Miao, Mongol juga 
merayakan festival ini dengan tradisi mereka masing-masing.

Kirim email ke