Yth. Presiden Republik Indonesia
Bapak Susilo Bambang Yudhoyono
di
Jakarta
Salam Sejahtera dan Rahayu,
Seiring rasa syukur, perkenalkan saya semar samiaji salah satu anak
negeri tercinta ini menyampaikan SURAT TERBUKA kepada Bapak Presiden selaku
Pimpinan Pemerintah di Indonesia.
Surat ini tercetus dari hasil permunajatan pada tanggal 18 Juni 2008 sekitar
pukul 00.34 WIB. Dan ini merupakan kata hati terdalam yang bisa tersampaikan
kepada Bapak.
Bersandar kepada Undang-Undang 1945 Pasal 28E ayat (2) yang menyatakan:
setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan
sikap, sesuai dengan hati nuraninya
maka, ijinkan saya menyampaikan titipan permunajatan tertanggal di atas.
Inti isi permunajatan adalah:
Buka Mata Hati Demi Tegak dan Ujudnya Jiwa Pancasila di Bumi Pertiwi
INDONESIA Berbendera Merah Putih
Bapak Presiden yth,
Seiring perjalanan waktu kehidupan bangsa kita, maka sudah bisa terasa dan
ujud beberapa tatanan kehidupan bersama masyarakat Bangsa Indonesia. Mulai apa
yang terasa sebagai kebahagiaan, kesusahan, kesedihan, gegap gempita, dan
bentuk kehidupan bermasyarakat lainnya. Dan semua itu, sudah diujudkan dalam
laku hidup saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air di bawah naungan
Pancasila.
Kemerdekaan yang teraih tanggal 17 Agustus 1945 merupakan pintu gerbang awal
untuk mengantarkan bangsa ini berdiri tegak dalam nuansa KESUJATIAN
KEMANUSIAAN, baik sebagai satu negara mau pun sebagai tetangga yang baik bagi
negara-negara lainnya. Dan seiring ruang waktu atas ujud Ijin dan Kuasa dari
SANG MAHA PENGUASA, maka bangsa tercinta ini masih berdiri tegak, walau panas
dan hujan mengiringi perjalanannya.
Menurut apa yang terkaji, sesungguhnya Indonesia adalah bangsa yang TELAH
diberi RAHMAT dan KODRAT sebagai bangsa besar di masa datang, JIKA ujud
kehidupan berbangsanya di bawah naungan JIWA Pancasila. Hanya dengan JIWA
Pancasila yang diawali dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, maka bangsa ini akan
melalui satu fase besar yang tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun, akan
melibatkan seluruh jagad raya menuju satu tatanan kehidupan yang LEBIH
MANUSIAWI. Di mana semua kehidupan di bangun atas dasar JIWA nilai-nilai
manusia yang sadar berTuhan dalam bentuk LAKU BUDI LUHUR.
Dengan segala kerendahan hati, semua ini adalah KEYAKINAN diri atas JIWA
Pancasila yang PERNAH ujud di Pulau Jawa atau Pulau Nyawa saat di mana Prabu
Siliwangi ujudkan kehidupan NILAI-NILAI atau JIWA Pancasila. Dan dengan segala
kerendahan hati dan penghormatan yang terdalam, Bapak Soekarno adalah PENGGALI
dan PERUMUS atas apa yang pernah terujud tersebut. Sehingga Bapak Soekarno
TELAH menjalankan AMANAH para karuhun bangsa ini, walau pun badai besar
menerjang cara pandang dan sikap beliau.
Terlepas dari pro dan kontra atas segala bentuk kehidupan yang terjadi di
tanah tercinta ini, semua esensi kehidupan berbangsa TELAH dirajut atas
NILAI-NILAI atau JIWA Pancasila dan ternyata mampu mengantarkan kehidupan
seperti saat ini, walau pun semakin dahsyatnya hantaman berbagai bentuk badai
untuk tunjukkan bahwa Pancasila tidak lagi memiliki ruh bagi bangsa ini.
Bapak Presiden yth,
Sesuai hati nurani dan keyakinan diri ini, Pancasila adalah HAK UMAT SEJAGAD
RAYA. Berintikan HUKUM TUHAN dalam bermasyarakat dan bernegara. Sehingga, tidak
akan ada yang mampu untuk merubuhkannya, karena ini adalah KODRAT dari ILLAHI.
Dan jika kita merujuk kepada perjalanan sejarah sudah banyak bukti yang
demikian. Dan ini pun, diketahui oleh negara-negara lain, sehingga
berbondong-bondonglah dari luar Indonesia hadir ke tanah tercinta ini dengan
membawa segala bentuk nuansa kehidupan.
Hanya melalui penyadaran kembali nilai-nilai kehidupan yang berakar dari
budaya Bangsa Indonesia yang sujati, maka setiap individu yang hidup dan sadar
sebagai bangsa Indonesia akan memberi warna sujati dari setiap manusia
Indonesia yang berkesadaran demikian. Apa yang termaktub dalam UUD 1945 pasal
28I ayat (3):
identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban
adalah pintu masuknya. Diperlukan kesadaran setiap individu dan bahu membahu
dari setiap individu berkesadaran demikian yang akan diberi kesempatan
MENGANGKAT harkat kehidupan bangsa Indonesia dalam melewati badai kebudayaan.
Untuk itu, ijinkan diri ini memberi masukan agar
dengan seluruh kuasa dan kewenangan yang telah dititipkan ILLAHI kepada
Bapak, gunakan seoptimal mungkin untuk mengangkat harkat NILAI-NILAI atau JIWA
Pancasila. Para karuhun, begitu pun semua bentuk Kuasa dan Ijin Illahi akan
melindungi semua keputusan dan kebijakan yang Bapak ambil, untuk MEMPERTAHANKAN
dan MENGEMBANGKAN kehidupan ber Pancasila bagi bangsa ini dan kehidupan antar
bangsa
Bapak Presiden yth,
Apa yang tersampaikan di atas, TIDAK digerakkan atas satu isu tertentu. Ini
menyangkut sejauh mana setiap individu yang berkesadaran hidup dengan jiwa
Pancasila MAU dan SUNGGUH-SUNGGUH ujudkan kehidupan demikian.
Akhir kata,
Tersampaikan sudah apa yang diri ini mampu dan kepada Gusti Nu Maha Agung
semua hasil akan dipastikan. Hanya melalui pintu kesadaran diri kepada JIWA
Pancasila, maka proses selamat dan diselamatkan akan ujud bagi yang meyakininya.
Jika ada kata atau kalimat yang tidak patut, mohon dibukakan pintu maaf.
Terima kasih atas perhatian dan kesediaan untuk membaca surat ini. Semoga
seluruh alam semesta, para karuhun, kesadaran individu, dan kepastian Yang Maha
Kuasa ujud dalam kehidupan kemanusiaan yang luhur di atas bumi ini di bawah
sinar Kuasa dan IjinNYA melalui jiwa Pancasila.
Hampura Gusti Nu Maha Agung
..
Jakarta, 18 Juni 2008
salam hormat,
semar samiaji
PS.
Mengingat keterbatasan diri, Mohon bantuan kepada siapa saja yang tergerak
hatinya untuk meneruskan surat ini kepada Yth. Bapak Presiden Republik
Indonesia dan Saudara-Saudara sebangsa dan setanah air. Terima kasih.