http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?berita=Metropolis&id=140341

*Senin, 16 Juli 2007*
*Kabupaten Natuna Bakal ke Kalbar?
* *Kelola Gas Natuna*

*Pontianak,-*  Inisiatif Pemerintah Provinsi Kalbar mengelola gas Natuna
menjadikan sejumlah persoalan seperti akankah Natuna bergabung dengan
Kalbar? Zainuddin Isman mengungkapkan bisa saja memungkinkan, namun semua
tentu berdasarkan kehendak dari masyarakat Natuna.

"Kalau itu terjadi saya katakan tidak ada yang krusial, secara legalitas
formal Natuna saat ini berada di wilayah (Kepulauan) Riau," ujar Zis, sapaan
akrabnya kepada sejumlah wartawan belum lama ini. Dia menambahkan jika
memang didukung kehendak masyarakat Natuna, maka harus dilakukan secara
resmi dengan pembicaraan antara masing-masing provinsi. Tentu saja dalam hal
ini adalah Provinsi Kalbar bersama Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Alasan memungkinkannya Natuna bergabung dengan Kalbar menurut Zis bisa
dilihat dari letak geografis antara kepulauan tersebut dengan Kalbar.
Menurut dia, masyarakat Natuna lebih diuntungkan karena kedekatan, jika
bergabung dengan wilayah provinsi ini.

Sementara di sisi lain dia menambahkan, tidak sedikit mahasiswa Natuna yang
menuntut ilmu ke Kalbar, dibanding ke Kepri langsung. "Maka tak heran mereka
ditugasbelajarkan ke Fakultas Kedokteran (Untan) misalnya, ini karena begitu
dekatnya mereka ke Kalbar," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Persatuan
tersebut.

Menjadikan Natuna bagian dari Kalbar tentu harus dilakukan secara formal,
dengan usulan resmi melalui mekanisme tertentu. Yang pasti dikatakan dia,
bakal terjadi perubahan pada Undang-Undang Pembentukan Provinsi Kepulauan
Riau, termasuk juga Undang-Undang Pembentukan Kabupaten Natuna. Perubahan
yang sama juga bakal terjadi pada Undang-Undang Pembentukan Provinsi Kalbar.


Namun sekali lagi dia mengingatkan, pengelolaan Provinsi Kalbar atas gas
Natuna tak serta merta menjadikan Kalbar mencaplok kekayaan alam milik
kabupaten tersebut serta menjadikannya bagian dari wilayah Kalbar. Menurut
dia, jika berbicara mengenai pengelolaan sumber-sumber perekonomian, maka
pengelolaan gas Natuna bukan menjadi sebuah persoalan. "Silahkan saja
pemerintah Kalbar mengelola gas Natuna, biarkan saja Natuna tetap menjadi
bagian dari Provinsi Kepulauan Riau," tandasnya.

Proyek pengelolaan gas Natuna sendiri seperti pernah diungkap Gubernur Usman
Jafar akan memakan waktu panjang. Diperkirakan proyek tersebut akan memakan
waktu 4-5 tahun setelah terbit Ijin Presiden. Selain mengurus perijinan,
Pemerintah Propinsi Kalbar dan Kabupaten Sambas telah menyiapkan lahan
seluas 4.200 hektar. Lahan ini dipersiapkan untuk pusat pengolahan gas dan
dengan segela industri pendukungnya. (ote)


*Selasa, 9 Oktober 2007*
*Perjuangkan Natuna Sudah Seharusnya
* *Lebih Dekat Paloh dan Sajingan*

 *Singkawang,-*  Pemerhati Politik dan Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa
se-Jawa, Zulfidar Zaedar Mochtar SE MM mengatakan, keberadaan Pulau Natuna
yang secara geografi lebih dekat ke Kalbar, khususnya wilayah Pantai Utara
Kalbar sudah sepantasnya diperjuangkan.

Keberadaan dan kekayaan alam pulau tersebut diyakini mampu memberikan income
dan kesejahteraan bagi masyarakat daerah ini. Menurutnya, Pulau kaya akan
minyak bumi, gas alam dan hasil laut tersebut, selama ini menjadi gonjang
ganjing di masyarakat Kalbar, karena keberadaannya di sebalah Timur lebih
dekat ke daerah ini (Paloh dan Sajingan Kabupaten Sambas)

"Sayang sekali keberadaan pulau yang kaya akan gas alam dan hasil laut
tersebut, lebih dimanfaatkan pihak Riau dan Pusat, padahal dari sisi
geografis Pulau tersebut lebih dekat ke daerah kita, sudah sepantasnya kita
minta bagian dan ini harus diperjuangkan oleh segenap elemen, pemerintah
maupun para pejuang daerah yang memiliki lobi tingkat tinggi," kata dia.

Beberapa waktu lalu, salah satu tokoh pejuang dan kandidat Gubernur Kalbar
Dr H Oesman Sapta, menemui Presiden SBY untuk membicarakan masalah ini. Dia
meminta Pemerintah Pusat menjadi fasilitator antara Kalbar dan Natuna,
perihal pembagian hasil.

Masih menngenai Pulau Natuna, Hingga saat ini Pemerintah Kalbar masih
menunggu kepastian pemerintah pusat mengenai kemungkinan dikelolanya gas
alam di bagian timur Kepulauan Natuna oleh investor Malaysia (Anshar Anshari
Group bersama Shell dan Petronas).

Jika pengelolaaan itu disetujui, dipastikan, daerah yang berdekatan dengan
kegiatan ekplorasi gas tersebut yakni kawasan Paloh, Sajingan, Kabupaten
Sambas, akan kecipratan kemajuan pembangunan dan aktifitas perekonomian yang
luar biasa.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalbar, Drs
Iskandar Zulkarnain beberapa waktu lalu mengatakan, potensi gas tersebut
memang bukan berada di wilayah Kalbar. Akan tetapi, jika eksplorasi itu
direalisasikan, pengembangan kawasan Paloh Sajingan yang termasuk dalam
Kabupaten Sambas, otomatis akan berkembang. "Multiplier effect nya sangat
luar biasa bagi daerah Paloh yang dekat dengan kegiatan eksplorasi
tersebut," katanya.

Berdasarkan tata ruang yang telah disiapkan, kata Iskandar, wilayah Paloh
dipersiapkan untuk kawasan industri, pemukiman, perdagangan dan pengolahan
gas alam. Potensi gas alam di wilayah timur Natuna, diprediksikan olehnya,
akan bertahan hingga 30 tahun. Sekedar untuk diketahui Kabupaten Natuna
adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Kepulauan Riau.

Natuna terletak paling utara Indonesia. Di sebelah utara, Natuna berbatasan
dengan Vietnam dan Kamboja, di selatan berbatasan dengan Sumatera Selatan
dan Jambi, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia, Riau, dan di bagian
timur dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat. Natuna berada pada jalur
pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea dan Taiwan. Kabupaten ini
terkenal dengan penghasil Minyak dan Gas. Cadangan minyak bumi Natuna
diperkirakan mencapai 14.386.470 barel, sedangkan gas bumi 112.356.680
barel. (bdi)


*Sabtu, 22 September 2007*
*Megaproyek Gas Alam Natuna Segera Terealisir* *

Pontianak,-*  MEGA proyek pipanisasi gas alam natuna di Paloh Kabupaten
Sambas akan segera terealisir. Pembangunanan mega proyek dengan nilai
investasi sebesar Rp 200 trilyun tersebut disamping menciptakan lapangan
kerja baru, juga akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat
Kalbar.


Hal itu diungkapkan Gubernur Kalbar, H Usman Ja'far, yang didampingi Bupati
Sambas Ir. Burhanudin dan sejumlah pejabat lainnya, pada acara
penganugerahan gelar kehormatan dari Istana Alwatzikhoebillah kepada tokoh
masyarakat Sambas, Minggu (16/9).

"Terdapat beberapa rencana dan proyek pembangunan telah disiapkan oleh
Pemerintah Provinsi untuk memajukan Kalbar," tegas Usman Ja'far.

Proyek pembangunan yang dimaksud antara lain pembangunan gate/border lintas
batas negara serta penyelesaian jalan Trans Kalimantan. "Pembangunan PLB di
Senaning-Jasa, Sintang akan dimulai pembangunannya begitu pula dengan gate
di Aruk-Biawak, Sambas. Kita juga sedang mempercepat pembangunan Jalan Trans
Kalimantan," jelas Usman Ja'far lagi.

Usman Ja'far menyebutkan, jika pembangunan Jalan Trans Kalimantan tersebut
berlangsung lancar, maka di tahun 2010 akses ke provinsi lain di Pulau
Kalimantan dapat dilakukan lewat darat.

"Saat ini sedang dibangun jalan Trans dari Tayan hingga Aur Kuning di
Ketapang. Nanti kita bisa berjalan-jalan keliling Borneo, dari Sambas bisa
Sabah, Brunii dan Sarawak," ujarnya. Dia menambahkan, dengan dibangunnya
proyek-proyek infrastruktur dasar tersebut, mobilitas dan pertumbuhan
ekonomi dapat dicapai.

"Kalau pembangunan ini bisa di selesaikan kita harap pemerataan terjadi di
Kalimantan, sehingga kesejahteraan Kalimantan tidak saja dinikmati oleh
Sabah Sarawak dan Brunei," imbuh Usman Ja'far lagi.

Lebih lanjut Usman Ja'far menyinggung penanggulangan krisis listrik di
Kalbar. "Saat ini Pemprov sedang berupaya mendapatkan izin pengelolaan
energy plant kepada Pemerintah Pusat. Namun, hingga kini izin tersebut belum
didapat, meskipun sudah dimulai sejak zaman Wapres Hamzah Haz. Tetapi kita
akan terus berusaha," ungkapnya.

Acara penganugerahan gelar Datuk Panglima diberikan kepada Haji Djuhardi bin
Haji Alwi yang dianggap sebagai tokoh yang memiliki jasa besar bagi warga
Sambas. Selain pengabdiannya di bidang olah raga seni bela diri, Haji
Djuhardi adalah sosok penting dalam perjuangan pemindahan ibukota Kabupaten
Sambas ke Kecamatan Sambas. Oleh karena jasanya tersebut, Pangeran Ratu
Sambas, Raden Winata Kusuma menganugerahinya gelar kehormatan kekerabatan
Datuk Panglima.

Acara penganugerahan gelar tersebut dihadiri oleh warga dari berbagai
lapisan dan semua etnis yang ada di Sambas.

"Keharmonisan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. merupakan kondisi yang
sangat sesuai dengan visi harmonis dalam etnis," kata Usman Ja'far
mengunkapkan apresiasinya kepada masyarkat yang telah menjaga keharmonisan.

Sebelum mengakhiri pidatonya, Gubernur Usman Ja'far sempat menyinggung soal
Pilkada. "Saat ini kita sedang memperbaiki data P4B. masyarakat diharapkan
mendaftarkan namanya yang belum terdaftar. Bantulah petugas dan panitia KPU
dan penyelenggara di desa masing-masing," imbaunya.

Dalam kunjungan safari ramadhannya Gubernur juga berpesan pada warga yang
hadir untuk tidak terjebak pada masalah Pilkada. "Jangan terprovokasi ulah
pihak yang ingin mengacau," kata Gubernur. "Pilkada itu amanah undang-undang
yang bercorak demokrasi. Konsekuensi demokrasi adalah pemimpin dipilih oleh
rakyatnya. Perbedaan-perbedaan itu hal yang wajar dalam demokrasi. Kita bisa
berbeda-beda di bilik suara, keluar dari bilik kita harus kembali
bersaudara," pesan gubernur. (*/r)

*Rabu, 20 Februari 2008*
*Pertamina Kelola Blok Natuna
* *Investasi Rp 279 T, Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia*

 *Jakarta,-*  Pemerintah akhirnya secara resmi menyerahkan pengelolaan Blok
Natuna D Alpha ke PT Pertamina (Persero). Kemarin Presiden SBY meminta
Pertamina mempersiapkan diri dengan membuat rencana aksi dan feasibility
study terkait pengelolaan ladang gas di laut dalam Natuna, Riau, itu.
Waktunya ditarget dua atau tiga minggu dari sekarang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro
mengatakan, studi kelayakan itu meliputi soal partner Pertamina dan skema
pendanaan. Pertamina diberi hak sepenuhnya untuk menentukan mitra yang akan
digandeng. ''Persiapan ini sangat penting. Jangan sampai Pertamina kembali
tidak bisa melangkahkan kaki dengan baik," ujar Purnomo seusai mengikuti
rapat terbatas khusus mengenai perkembangan negosiasi Blok Natuna D-Alpha
dengan ExxonMobil Indonesia di Kantor Presiden kemarin (19/2).

Penunjukan Pertamina itu mengakhiri ketidakpastian selama tiga tahun tentang
siapa pengelola blok yang diperkirakan memiliki cadangan gas hingga 46
triliun kaki kubik tersebut.

Sebelumnya, pemerintah menunjuk ExxonMobil sebagai pengelola utama. Namun,
pada 2005 pemerintah memutus kontrak perusahaan eksplorasi migas asal AS
itu. Pasalnya, hingga 20 tahun lamanya tak kunjung berproduksi. Dalam
kontrak lama, Exxon menguasai 76 persen saham dan Pertamina 24 persen.
Namun, porsi bagi hasil kontrak lama sangat timpang karena Exxon mendapat
100 persen, sedangkan pemerintah nol persen.

Menurut Purnomo, nilai investasi untuk mengelola Blok Natuna D Alpha
mencapai USD 30 miliar (Rp 279 triliun). Itu menjadi investasi terbesar
sepanjang sejarah Indonesia. Karena itu, semuanya harus benar-benar
dipersiapkan.

Terkait penunjukan Pertamina, presiden juga meminta dibentuk tim pemerintah
untuk menunjangnya. ''Tim pemerintah diminta merumuskan langkah-langkah ke
depan yang sifatnya lebih makro. Termasuk di dalamnya pengembangan daerah
perbatasan agar bisa dilakukan dengan baik,'' katanya.

Rapat kabinet terbatas kemarin juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla,
Menko Polhukam Widodo A.S., Menko Perekonomian Boediono, Menko Kesra
Aburizal Bakrie, Menteri BUMN Sofyan Djalil, Mendagri Mardiyanto, Dirut
Pertamina Ari Sumarno, dan Kepala BP Migas Kardaya Warnika.

Dirut Pertamina Ari Sumarno menambahkan, dengan penunjukan itu, Pertamina
akan segera mencari partner. Kriterianya, kata Ari, menguasai teknologi
penghapusan dan penyimpanan CO2 serta teknologi lepas pantai. Pasalnya, Blok
Natuna memiliki kandungan CO2 yang tinggi dan terletak di laut, sehingga
membutuhkan teknologi dan biaya besar.

Dengan kebutuhan tersebut, ExxonMobil masih mungkin digandeng Pertamina
lagi. Purnomo tidak menjawab saat ditanya tentang kemungkinan itu.
Sementara, Ari mengakui hal itu memang terbuka. "Kami akan menggandeng
sejumlah perusahaan migas multinasional yang mampu, seperti Shell, Star Oil,
Total, dan ExxonMobil,'' kata Ari. (tom/kim)

*Rabu, 9 April 2008*
*Sambas Tetap akan Kelola Gas Natuna
*
*Pontianak,-*  Bupati Sambas Burhanuddin A Rasyid menegaskan, siapapun yang
nanti akan mengelola Blok Migas Natuna, lokasi pabrik proses pengelolaannya
akan berada di Kecamatan Paloh, Sambas.

"Pendekatan lebih lanjut sudah kita lakukan, baik dengan Gubernur Kepri
maupun bupatinya. Ada win-win solution. Kita sama sekali tak ganggu gas
mereka. Satu sen Dollar pun tak kita ganggu. Seperti orang berkebun pisang,
buahnya tetap mereka yang ambil. Kita hanya bikin pisang gorengnya saja.
Artinya duit hasil gas tetap ke mereka, kita hanya siapkan tempat proses
pengolahannya," kata Burhan, diwawancarai di sela-sela seminar perbatasan
yang diselenggarakan oleh BEM Untan, kemarin (8/4) di Pontianak.

Menurutnya, kabupaten yang mempunyai julukan Bumi Serambi Makkah ini telah
menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektar di Pulau Temajo untuk pabrik
pengolahan gas Natuna. "Kalau Natuna, mereka tidak memiliki pulau dengan
lahan seluas itu," katanya.

Apa bentuk solusi saling menguntungkan antara Kabupaten Sambas dan Natuna
itu? Menurut Burhan, beberapa diantaranya yakni dalam penyediaan tenaga
kerja untuk pabrik pengolahan gas itu. Pemkab Sambas menyilakan kepada
masyarakat Natuna yang memenuhi kualifikasi untuk ikut menjadi tenaga kerja
di sana.

"Diperkirakan akan ada 100.000 tenaga kerja lokal, di luar tenaga kerja
asing yang akan bekerja di perusahaan itu. Ayo sama-sama kita sediakan. Juga
dengan pendidikan, nanti sama-sama lah antara masyarakat Natuna dan Sambas
bergandengan dalam mendidik tenaga ahli dalam bidang gas," ujarnya.

Dalam hal pendidikan itu, jika pabrik pengolahan gas jadi dibangun di Paloh,
maka kemungkinan besar Kabupaten Sambas akan memiliki Politeknik yang fokus
pada jurusan pendidikan gas.

"Pihak dari Malaysia juga sudah janji ke kita akan membantu dalam hal
pendidikan. Mereka berjanji akan mendidik 40 orang sarjana Sambas ditambah
Natuna untuk dididik di Bintulu. Mereka nantinya akan menjadi tenaga ahli
dalam pabrik pengelolaan gas itu sekaligus menjadi dosen politeknik,"
jelasnya. Akan tetapi, sambungnya, bantuan dari Malaysia itu akan
terealisasi jika Petronas ikut dalam pengelolaan Blok Migas Natuna.

Burhan mengaku, hingga kini belum mendapatkan informasi lanjutan tentang
perusahaan mana yang nantinya ikut mengelola blok tersebut. "Hasilnya saya
belum tahu. Tapi yang jelas sudah ada kunjungan Petronas ke para
menteri-menteri kita. Sepertinya sudah ada kesapahaman G to G, tapi sudah
sejauh mana, informasinya belum jelas," ujarnya.

Burhan kemudian menegaskan, "Sekarang pengelolaannya ditawarkan terbuka.
Perusahaan dari Malaysia ikut nawar, beberapa negara juga menawar. Siapapun
yang nanti mengelolalnya, yang jelas pengelolaan prosesnya harus berada di
Paloh."

Tambahnya lagi, "Jika Paloh menjadi tempat pabrik pengolahannya. Kita juga
bisa memiliki pembangkit listrik tenaga gas. Suplai listrik s-Kalbar bisa
dikirim dari Paloh. Sehingga kita bisa keluar dari krisis energi
klistrikan." (zan)

Kirim email ke