http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=160412
*Sabtu, 21 Juni 2008* *Satwa Bunbin Pontianak Dititipkan ke Singkawang * *Pontianak,-* Sebanyak 51 ekor satwa yang dilindungi penghuni Kebun Binatang (Bunbin) Pontianak dititipkan sementara ke lembaga konservasi Sinka Island Park (Sinka Zoo). Hal ini bertujuan untuk menyelamatkan hewan tersebut dari kepunahan mengingat kondisi Bunbin Pontianak yang sudah tidak layak dan kurang menyejahterakan satwa. Proses pemindahan satwa tersebut dilangsungkan Jumat (20/6). Pengelola Sinka Zoo mengirimkan sebanyak 23 orang petugas khusus untuk memindahkan satwa-satwa tersebut. Satwa dilindungi yang melakukan eksodus tersebut diantaranya; 6 ekor orangutan (Pongo pygmaeus), 4 ekor klempiau (Hylobates muelleri), 3 ekor beruang madu (Helarctos malayanus), 1 ekor binturung/kucing beruang (Artictis binturong), dan 1 ekor harimau dahan (Neofelis nebulosa). Sementara yang berjenis reptil yakni; 5 ekor buaya muara (Crocodylus porosus), dan 5 ekor buaya senyulong (Tomistoma schlegellii). Juga ada 23 ekor jenis burung yang dititipkan ke Sinka Zoo. Jenis burung tersebut diantaranya; Kangkareng, julang emas, elang bondol, elang laut, rajawali, pecuk ular, bangau tong-tong, dan kasuari. Pemindahan satwa yang disaksikan langsung oleh Koordinator Pengendalian Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Tridibyo Sumbogo dan Hadiatul Sidik, kasubag TU BKSDA Kalbar, Direktur Sinka Island Park Antony Suwandi, dan Sekretaris Yayasan Bunbin Pontianak Suparno, berlangsung dramatis. Khususnya binatang-binatang buas seperti buaya dan harimau dahan, para petugas harus bekerja ekstra hati-hati untuk memasukkannya dalam kerangkeng. Maklum, peralatan yang digunakan untuk memindahkan hewan-hewan tersebut tidak dilengkapi dengan obat bius. Seperti di kolam buaya, para petugas harus waspada untuk menangkapnya. Soalnya, di dalam kolam, mereka harus menangkap satu persatu buaya tersebut. Sementara buaya yang lain masih berkeliaran bebas dalam kolam yang sama. Bisa saja sewaktu-wakttu menerkam para petugas yang sedang mengikat buaya yang lain. Proses pemindahan tersebut juga disaksikan oleh warga sekitar kebun binatang. Beberapa pengunjung yang kebetulan berwisata di bunbin itu juga ikut menikmatinya. Seakan-akan menjadi pertunjukkan tambahan. Saat proses pemindahan buaya, salah seorang warga yang ikut membantu bernasib nahas. Ia yang saat itu dekat dengan salah satu buaya muara yang telah diikat, 'ditanduk' oleh binatang ganas itu dengan moncongnya. Walau telah diikat, buaya itu mengamuk dan menggelapar. Tandukan buaya itu mengenai jidat warga tersebut hingga berdarah dengan luka gores yang cukup dalam. Oleh petugas dan warga lainnya, pria itu segera diobati. Menurut Tridibyo Sumbogo dari BKSDA Kalbar, penitipan sementara hewan-hwan langka di Bunbin Pontianak ke Lembaga Konservasi Eksitu Sinka Island Park dilakukan setelah ada pertemuan antar instansi terkait yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar, Syakirman belum lama ini. "Karena ini menyangkut satwa yang dilindungi UU, kemudian melihat kondisi bunbin yang saat ini tak memungkinkan. Untuk sementara binatang-binatang ini dititipkan ke lembaga konservasi eksitu Sinka Island Park. Satwa tersebut dititipkan dengan status barang negara," katanya. Ia mengatakan, kondisi serta sarana dan prasarana bunbin yang dibangun di era Gubernur Kalbar H Soedjiman pada akhir 1970-an ini sudah tidak memenuhi persyaratan dan kesejahteraan satwa. "Persyaratan dari sebuah lembaga konservasi eksitu untuk Bunbin Pontianak ini tidak masuk dalam kategori baik. Sesuai hasil rapat dengan instansi terkait, maka satwa-satwa terutama yang dilindungi, kita titipkan ke Sinka," katanya. Kondisi yang memprihatinkan dari bunbin ini juga sempat menjadi sorotan oleh penggiat satwa dilindungi dari dunia internasional. "Terutama kondisi orangutan. Sempat menjadi perhatian dunia internasional, karena kondisi sarana dan prasarananya yang memprhatinkan. Ada 6 ekor orangutan yang kita titipkan ke Sinka," katanya. Bagaimana dengan pembiayaan untuk ke-51 ekor binatang tersebut, menurut Tridibyo, menjadi kewajiban dari pihak yang dititipkan dalam hal ini Sinka Zoo. Sementara Sekretaris Yayasan Bunbin Pontianak, Suparno, mengakui bahwa dari waktu ke waktu, kondisi Bunbin Pontianak menjadi semakin memprihatinkan. Untuk penganggaran pengelolaan saja, pada tahun ini telah dipangkas sebanyak 50 persen. "Sebelumnya anggaran untuk mengelola bunbin ini Rp100 juta. Sekarang tinggal Rp50 juta," katanya. Keputusan untuk memindahkan sebagian satwa bunbin ini ke Sinka Island Park, kata dia, juga setelah diadakan rapat dengan instansi terkait termasuk oleh pihak ketiga pengelola bunbin dalam hal ini PT Citra Indo Khatulistiwa. Direktur Sinka Island Park, Antony Suwandi, mengatakan bahwa pihaknya siap menerima titipan satwa-satwa tersebut."Kami sebagai satu-satunya lembaga konservasi di Kalbar yang telah mendapatkan izin dari kementerian kehutanan wajib menyelamatkan dan melestarikan hewan-hewan langka dari kepunahan," katanya. Kehadiran satwa-satwa tititpan ini semakin menambah jumlah penghuni Lembaga konservasi yang terletak Jalan Malindo, Teluk Karang, Sedau, Kota Singkawang ini. "Kalau untuk jenis, hewan yang berasal dari bunbin Pontianak ini kita sudah miliki. Sekarang sudah ada 79 jenis species di Sinka Zoo. Dalam waktu dekat kita akan melengkapi lagi beberapa hewan langka seperti singa, harimau putih, dan onta serta hewan langka lainnya dari Bunbin Surabya," katanya. Sinka Zoo yang berdiri di atas lahan lebih dari 100 hektar ini kelak akan dikonsep seperti Taman Safari. "Kita ke depan menuju ke arah seperti itu. Pengembangannya akan dilakukan secara bertahap. Kita akan menyiapkan mobil untuk jalan-jalan seperti di Taman Safari," ujar pengusaha muda ini. (zan)
