Source : http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2008070410045328

WAYANG gantung. Bagi sebagian warga etnis China pasti pernah
menyaksikan pertunjukan kesenian tradisional ini. Pertunjukannya mirip
wayang kulit atau wayang golek di Jawa, menampilkan pesan-pesan moral
dan pembangunan bagi masyarakat.

Ceritanya kebanyakan cerita klasik. Ada cerita kesatria, ada pula
percintaan. Bedanya saat tampil pertunjukan wayang kulit membawa semua
wayangnya. Wayang gantung hanya dibawa 10 boneka, sesuai dengan jalan
cerita.

Ada boneka tokoh berbentuk dewa, panglima perang, bangsawan, kaum
China terpelajar, maupun rakyat biasa. Ada boneka lelaki, ada pula
boneka perempuan.

Wayang gantung dimainkan dengan bantuan benang. Ini berbeda dengan
wayang kulit yang dimainkan dengan memegang kayu. Wayang golek
dimainkan dalang dengan memegang boneka wayang. Sedang wayang gantung
dimainkan dengan sarung tangan.

Di Lampung, pertunjukan wayang gantung tidak pernah terdengar
gaungnya. Tapi kalau di Singkawang, Kalimantan Barat, warga etnis
China gemar "menangkap" pertunjukan itu. Seperti saat kami mengikuti
Rakernas Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Indonesia di
Pontianak dan mengunjungi Singkawang, disuguhi pertunjukan Wayang
gantung (shin thian chai) mengusung cerita pentingnya membina keluarga
sejahtera.

Kami terkesima walaupun tidak mengerti jelas jalan cerita yang
dituturkan dalang dalam bahasa Kek (salah satu bahasa daerah China).
Warga etnis China di Singkawang sangat akrab dengan kesenian ini.

Kendati penggemarnya kebanyakan generasi tua atau orang-orang tua yang
sudah bungkuk-bungkuk dan pakai tongkat, kesenian ini tumbuh dan
berkembang dengan baik.

Generasi ketiga dalang wayang gantung, Chin Nen Sin (62), menjelaskan
wayang gantung dibawa ke Singkawang dari China daratan pada 1929. Kali
pertama dibawa A Jong yang mengais uang dari pergelaran keliling
wayang gantung.

Cerita wayang gantung dibawa dari China. Ada cerita kesatria, ada pula
percintaan. Kebanyakan cerita klasik, berdasar pada penuturan para
tetua atau didongengkan dari ibu ke anak.

Soal ceritanya bergantung pada permintaan. Bila perayaan ulang tahun
dewa atau panglima perang, biasanya tuan rumah minta cerita klasik.

Sebaliknya, pada ulang tahun perkumpulan tertentu disajikan cerita
yang "ringan" sesuai dengan keseharian. Kendati sudah dimodifikasi,
pertunjukan ini belum mampu menyedot penonton generasi muda.

Padahal tontonan ini sangat bagus dan menarik karena banyak
pesan-pesan moral yang disampaikan. Tidak ada salahnya bila generasi
muda mencintai kebudayaan adiluhung nenek moyang etnis China ini.
WIWIK HASTUTI/L-1

Kirim email ke