Suatu fenomena yang sudah sangat wajar terjadi tetapi terus membuat
hati ini miris!
Apakah terus menerus kondisi ekonomi mau dijadikan sebagai alasan?
Ataukah mental orang tua yang terlalu mudah pasrah serta tidak ada
pengaturan yang baik sejak dini di kota tercinta kita Singkawang?

Adakah wanita Singkawang yang telah berhasil di luar kota, luar pulau
serta luar negeri yang bersedia untuk membantu mengatasi ini semua?
Memang bukan tugas mudah, tetapi bisa kita mulai sejak sekarang tanpa
menunda!

Saya baru membaca salah satu majalah khusus masyarakat KalBar 'Peduli
Kalimantan' -- Banyak anak2 terancam tidak bisa melanjutkan sekolah ke
SMP karena kurang biaya.

Juga sudah seringkali Permasis melakukan baksos, begitu juga Peduli
Kalimantan melakukan baksos. Tetapi yang harus kita lakukan adalah
suatu program berkesinambungan serta berkaitan satu sama lainnya.

- Program KB yang harus terus disosialisasikan
- Program penyuluhan bagaimana mengatur keuangan sejak awal
- Program beasiswa untuk sekolah (kalau perlu tidak usah memakai baju
seragam, yang penting sopan -- karena biaya sekolah gratis tapi
terbebani biaya seragam serta buku)
- Program penyuluhan bagi petani serta masyarakat kecil
- Program pemberdayaan perempuan

Memang semua program di atas sudah ada di pemerintahan...tetapi kalau
kita hanya menunggu pemerintah yang bergerak (ada ribuan pulau di
Indonesia....tidak mungkin bisa diatasi semuanya),maka semua sudah
terlambat.

Mari kita bertindak meski mungkin hanya terlihat sebagai sebuah
gerakan kecil...tetapi berkesinambungan dan konsisten.

Bagaimana para pengurus Permasis serta Peduli Kalimantan serta kita
semua sebagai warga Kalbar (baik yang tinggal di Kalbar maupun di luar)?


Majulah Kota Kelahiranku

Budi Suryanto
Budi Trainer & Consultant
Achieving Your Best
- Private Business Consultant
- Management Trainer & Consultant
- Private Financial Planner
www.budiconsultant.com
email : [EMAIL PROTECTED]

--- In [email protected], "United Singkawang" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> http://www.liputan6.com/daerah/?id=162891
> 
> 27/07/2008 14:05 Perdagangan Manusia
> *Kawin Foto untuk Keluar dari Kemiskinan*
> *
> Liputan6.com, Singkawang:* Kota Singkawang, Kalimantan Barat, terkenal
> dengan julukan Kota Seribu Kuil. Tapi, tahukah Anda jika kota yang
mayoritas
> dihuni etnis Tionghoa ini juga memiliki budaya kawin foto atau pengantin
> pesanan dari Singkawang. Budaya ini biasanya dialami para amoy,
sebutan bagi
> wanita Tionghoa, yang menikah dengan pria asal Taiwan.
> 
> Inilah yang dilakoni tiga anak perempuan Chin Fui Ha. Berkat seorang
> perantara, ketiga putri Chin Fui kini berada di Taiwan. Prosesnya sangat
> singkat. Cukup berkenalan sehari, esoknya mereka berfoto dan perkawinan
> dianggap sah. Sebagai timbal balik, keluarga Chin Fui mendapatkan
uang Rp 5
> juta. Tak hanya itu, kepergian tiga anak mereka ke Taiwan membuat
keluarga
> ini juga memperoleh uang tambahan Rp 1 juta setiap bulan.
> 
> Motif ekonomi ada di balik kawin foto. Chin Fui harus menanggung hidup
> sembilan anaknya. Tentu ini bukanlah perkara mudah. Apalagi,
pekerjaan Chin
> Fui hanya membuka konveksi pakaian kertas untuk kebutuhan orang
meninggal.
> Dari pekerjaan itu, dia paling banyak menerima Rp 20 ribu sehari.
Sementara
> sembilan anaknya tak ada yang mengenyam pendidikan hingga tamat sekolah
> dasar.
> 
> Namun, tak semua kisah amoy Singkawang sukses. Setidaknya ini
dialami dua
> anak perempuan Tung Shui Chin yang ditipu sang calo. Meski pernah
ditipu,
> wanita dengan tujuh anak ini masih berharap ada orang Taiwan yang datang
> melamar anaknya. "Dia (kehidupannya) bisa baik. Makan ada, pakaian ada,
> tidak pikir orang," kata Tung Shui Chin.
> 
> Saat ini, hampir 30 ribu amoy ada di Taiwan. Mereka sudah tak peduli
lagi
> pendidikan. Tercatat presentase anak sekolah tak tamat SD di Singkawang
> mencapai 35,91 persen. Sementara data Komisi Nasional Perlindungan Anak
> mencatat perdagangan manusia mencapai 12 ribu kasus. "Sebagian besar
mereka
> berangkat secara ilegal. Dengan pemalsuan dokumen, ancaman, jeratan
utang,
> penipuan," kata Rosita, aktivis dari Lembaga Bantuan Hukum
> Peka.(YNI/Anastasya Putri dan Erwin Arief)
> 
> Video:
> http://www.liputan6.com/mediaplayer/?program=news&id=162891&m_id=736458
>


Kirim email ke