emmmmmmmm slmt sctv ngetoppppp


----- Original Message ----
From: United Singkawang <[EMAIL PROTECTED]>
To: Singkawang Yahoogroups <[email protected]>
Sent: Sunday, July 27, 2008 5:18:44 PM
Subject: [Singkawang] [SCTV] Kawin Foto untuk Keluar dari Kemiskinan


http://www.liputan6 .com/daerah/ ?id=162891

27/07/2008 14:05 Perdagangan Manusia
Kawin Foto untuk Keluar dari Kemiskinan 

Liputan6.com, Singkawang:Kota Singkawang, Kalimantan Barat, terkenal dengan 
julukan Kota Seribu Kuil. Tapi, tahukah Anda jika kota yang mayoritas dihuni 
etnis Tionghoa ini juga memiliki budaya kawin foto atau pengantin pesanan dari 
Singkawang. Budaya ini biasanya dialami para amoy, sebutan bagi wanita 
Tionghoa, yang menikah dengan pria asal Taiwan.

Inilah yang dilakoni tiga anak perempuan Chin Fui Ha. Berkat seorang perantara, 
ketiga putri Chin Fui kini berada di Taiwan. Prosesnya sangat singkat. Cukup 
berkenalan sehari, esoknya mereka berfoto dan perkawinan dianggap sah. Sebagai 
timbal balik, keluarga Chin Fui mendapatkan uang Rp 5 juta. Tak hanya itu, 
kepergian tiga anak mereka ke Taiwan membuat keluarga ini juga memperoleh uang 
tambahan Rp 1 juta setiap bulan.

Motif ekonomi ada di balik kawin foto. Chin Fui harus menanggung hidup sembilan 
anaknya. Tentu ini bukanlah perkara mudah. Apalagi, pekerjaan Chin Fui hanya 
membuka konveksi pakaian kertas untuk kebutuhan orang meninggal. Dari pekerjaan 
itu, dia paling banyak menerima Rp 20 ribu sehari.. Sementara sembilan anaknya 
tak ada yang mengenyam pendidikan hingga tamat sekolah dasar.

Namun, tak semua kisah amoy Singkawang sukses. Setidaknya ini dialami dua anak 
perempuan Tung Shui Chin yang ditipu sang calo. Meski pernah ditipu, wanita 
dengan tujuh anak ini masih berharap ada orang Taiwan yang datang melamar 
anaknya. "Dia (kehidupannya) bisa baik. Makan ada, pakaian ada, tidak pikir 
orang," kata Tung Shui Chin.

Saat ini, hampir 30 ribu amoy ada di Taiwan. Mereka sudah tak peduli lagi 
pendidikan. Tercatat presentase anak sekolah tak tamat SD di Singkawang 
mencapai 35,91 persen. Sementara data Komisi Nasional Perlindungan Anak 
mencatat perdagangan manusia mencapai 12 ribu kasus. "Sebagian besar mereka 
berangkat secara ilegal. Dengan pemalsuan dokumen, ancaman, jeratan utang, 
penipuan," kata Rosita, aktivis dari Lembaga Bantuan Hukum Peka.(YNI/Anastasya 
Putri dan Erwin Arief)

Video: http://www.liputan6 .com/mediaplayer /?program= 
news&id=162891&m_id=736458


 


      

Kirim email ke