Linda Kusumawati; Duta Lingkungan Hidup Kal-Bar 2008 Pontianak,- Linda Kusumawati berhasil menyabet gelar Duta Lingkungan Hidup Kal-bar 2008. Kesuksesan yang diraihnya bukanlah tanpa halangan. Cibiran pendek dan gendut pernah diterimanya. Hal tersebut membuat dara Singkawang ini pesimis dan hilang semangat. Namun ketegaran dan optimismenya membuat dia berhasil mengharumkan Kota Singkawang.
Hari Kurniathama, Pontianak SENANG sekaligus bimbang. Begitulah kondisi yang dialami Linda sapaan akrab Duta Lingkungan Hidup Kalbar 2008 ini. Senang, karena prestasi mahasiswa STIE Mulia Singkawang ini membuat bangga orang tua dan teman yang dicintainya. Sedangkan bimbang, karena takut tidak bisa bekerja secara maksimal. "Saya terus belajar agar program sosialisasi lingkungan ke masyarakat dapat berjalan optimal," ujarnya mengawali pembicaraan sebelum check-out dari Kapuas Palace, kemarin. Anak pasangan Amir Syarifudin dan Syahyani ini, mengaku banyak pengalaman dan cobaan yang dialaminya ketika menginjakkan kaki dalam kompetisi ini. Cibiran dan perkataan tidak mengenakkan selalu datang kepadanya. "Saya sempat dibilang pendek dan gendut oleh teman dan orang lain yang menilai saya tidak berhak menyabet gelar duta lingkungan," ungkapnya. Ditambah lagi, Kota Singkawang akan kalah, jika dirinya dipastikan mewakili kota yang meraih Adipura 2008 tersebut. "Bahkan dampak tersebut membuat pikiran saya terbawa. Karena kebanyakan duta lingkungan secara fisik memiliki tinggi, bentuk tubuh cukup ideal apalagi wanita," kata Linda. Cibiran itu, sambung dia, membuat diri Linda tidak percaya diri bahkan pesimis bisa bersaing di tingkat provinsi. Gadis yang bercita-cita menjadi pegusaha ini terus dihantui ketidak percaya diri. Namun dia mengaku tetap bertahan karena seseorang yang dicintainya selalu memberi dukungan, termasuk kedua orang tuanya. "Optimis dan tenang itulah pesan dan motivasi yang diberikan kerabat serta orang yang saya cintai membuat diri ini tetap tegar menghadapi proses ini," tegasnya. Sampai di Kota Pontianak, untuk menjalani karantina dan pembekalan, dia mengaku belum percaya diri sepenuh hati. Bahkan untuk menutupi tubuhnya yang pendek, dia harus bersudah payah setiap saat mengenakan sandal hak tinggi. "Hak tinggi sangat menyiksa diri, sakit," timpalnya sambil geleng kepala. Namun ketika berhadapan dan berkenalan dengan peserta finalis duta lingkungan lainnya, kepercayaan diri gadis kelahiran Pontinak 10 September 1987 ini kembali bangkit. "Saya tak seharusnya bersedih dengan cibiran orang. Saya akan buktikan bahwa kualitas diri merupakan anugerah yang perlu di optimalkan," ujar gadis yang hobi menari tradisional ini. Dia pun mulai menerapkan pembekalan sewaktu karantina di Singkawang. Dimana Ibu Wali Kota Singkawang, Emma Hasan Karman, kata dia, selalu mengingatkan lewat perbincangan telepon. "Bahwa semangat dan optimisme jangan sampai pudar buktikan bahwa diri kita mampu," ujar Linda mengulangi pesan ibu wali. Pesan itu, membangkitkan semangat dirinya dan teman lainya dari Singkawang. Dia tidak lagi memikirkan soal fisik apa kata orang kepadanya. Namun hanya memikirkan bagaimana memberikan manfaat kepada orang lain. Dengan tugas sebagai duta lingkungan, Linda siap turun ke jalan untuk mengkampanyekan pentingnya arti lingkungan hidup. "Dengan bahasa akrab ditelinga masyarakat, dan terus semaksimal mungkin mensosialisaikan pentingnya linkungan hidup. Saya yakin pikiran dan perilaku masyarakat akan berubah," tegasnya. Source : http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=163095
