Selasa, 25 November 2008 , 05:36:00 Siswa SMP dan SMA Advent Tuntut Kepsek Diganti <http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=6640#>
Singkawang, Para siswa SMP dan SMA Advent Singkawang berdemonstrasi di halaman sekolahnya, Senin (24/11) pagi. Kepala Sekolah Drs Arifin S harus mundur menjadi isi tuntutan. Aksi yang mereka gelar ini dijaga aparat Polsek Singkawang Timur, Polres Singkawang dan TNI AD. "Kepala sekolah kami harus diganti," seru orator dengan berapi-api. Sikap kepala sekolah yang mendeskreditkan siswa dengan latar belakang tertentu, menjadi alasan para demonstran mendesak penggantian. Demikian juga dengan perilaku sewenang-wenang dan ketidakharmonisan dengan para guru. Sesungguhnya, selain kepala sekolah, para siswa yang tinggal di asrama milik yayasan tersebut juga mendesak mundur tiga guru lainnya. Masing-masing NS, ES dan GT. "Kelakuan keempat guru tersebut sudah tidak sesuai. Karena itu, perlu pergantian mereka demi kemajuan Perguruan Advent Singkawang," papar demonstran ketika membacakan pernyataan sikap dihadapan kepala sekolah. Kebobrokan yang diutarakan para siswa mengarah kepada pribadi masing-masing guru. Diantaranya, suka memfitnah orang lain tanpa fakta, sering menyombongkan diri di hadapan banyak siswa, sering menegur guru di hadapan orang banyak, menusuk dari belakang dan mempebesar masalah yang sepele. "Kita juga sering dikasari bahkan ditantang berkelahi," sesal mereka. Para siswa yang mengenakan seragam sekolah menyatakan, akan melanjutkan demonstrasi hari ini (Selasa, red) jika tuntutan tidak dipenuhi. Bahkan sebagian siswa memilih absen mengikuti proses belajar mengajar. "Pokoknya tuntutan kita harus dipenuhi," tandas para remaja ini. Sementara itu, Kepala Sekolah Drs Arifin S secara tegas menyatakan tuduhan para siswa itu fitnah belaka. "Itu tidak benar," tegasnya. Sebagai kepala sekolah menurut Arifin, dirinya menerapkan aturan yang berlaku. Kemungkinan para siswa kecewa dengan penegakan disiplin tersebut. "Kalau tuduhan para mahasiswa terbukti, maka saya siap dipindahkan," ujarnya. Arifin yang menjabat kepala sekolah sejak Juli 2008 memperkirakan, dari sekitar 30 penghuni asrama hanya 16 orang saja yang menuntutnya mundur. Para siswa nekat berdemonstrasi karena diprovokasi oknum guru yang berstatus honorer. Para orangtua pun tegasnya, tidak merestui aksi tersebut. "Saya sudah menghubungi masing-masing orangtua mereka. Bila ada siswa bertindak anarkis, maka saya tidak segan-segan melaporkan ke polisi," ujarnya. Walaupun penuh emosional, namun demonstrasi berakhir dengan aman. Hal itu setelah para rohaniawan maupun aparat keamanan turut mengajak para demonstran agar kembali belajar. (man)
