Waduh... masih diskriminasi, saya nggak ngerti kok kehadiran Patung Naga di 
kota bisa merasa terganggu, sedangkan kehadiran Mesjid dimana-mana dan suaranya 
keras sekali dari dulu kita nggak pernah merasa terganggu. FPI buka dong mata 
kalian sekarang bukan jamannya saling diskiriminasi, lihat aja di negara lain 
(China dan Mexican town disetiap kota di Amerika), Sedangkan di Mexico china 
townnya juga dimana-mana. Mereka bebas membangun Kelenteng dan Patung. Selain 
di Amerika dan Mexico negara2 lain juga bebas, banyak contohnya nggak kayak di 
Singkawang umumnya di Indonesia. Dulu orang Hitam cuma boleh jadi Budak di 
Amerika sekarang boleh jadi Presiden. (Bukan jaman diskriminasi lagi). Apa 
diantara FBI yg dari Singkawang udah ada yg pernah keluar negeri? dari 
situ kalian bisa lihat contohnya. Kalian mengerahkan massa ingin merobohkan 
Patung Naga yg nggak menggungu kepentingan umum itu adalah perbuatan ANARKIS. 
Justru kehadiran Patung itu memperindah kota
 Singkawang, seperti juga Mesjid dan Kelenteng bisa terlihat dimana-mana di 
kota Singkawang. Lagi pula kerukunanan beragama kita terasa. Saya pikir udah 
jaman reformasi nggak ada diskriminasi lagi, dan saya pingin pulang kampung 
dengan modal hasil kuli di luar negeri dan buka usaha di Singkawang. Setelah 
kejadian ini saya pikir waduh...nggak jadi nih!!! karna perasaan sebagain orang 
cina di Singkawang masih nggak aman. Selama diskriminasi dan kurang aman masih 
ada kita dan dan investor nggak akan berbisnis di kota Singkawang. Dari situ 
kemiskinan kota Singkawang akan berlarut.
 
Salam dari
Alin 
USA - Jakarta - Singkawang - Hongkong - Macau - USA


      

Kirim email ke