Sebelumnya saya mengucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1929 bagi umat muslim

Dibawah ini ada sedikit artikel yg saya ambil dr Harian PP yg menurut saya bisa 
sedikit menyejukkan suasana yg lg hangat (padahal hujan melulu) di Kota 
tercinta kita, Singkawang.



Sesuaikan Ikon Daerah


 Polemik berkepanjangan yang berbuntut dengan keinginan beberapa pihak untuk 
merobohkan patung naga yang sedang dikerjakan di Singkawang, Ismayanto SE, 
anggota tim sekretariat Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) provinsi Kalbar 
urun rembuk. Menurutnya karena patung naga tersebut berada di lokasi public. 
’Lain halnya kalau patung tersebut berada di lingkungan tertentu seperti di 
kelenteng atau vihara,’’ katanya. Menurutnya, dengan didirikannya patung naga 
hanya keinginan dari satu kelompok saja. Artinya tidak mewakili seluruh warga 
Singkawang. Buat PNS di Kesbang Linmas Provinsi Kalbar,yang jua Sekretaris 
Forum KOL Kalbar, dan mantan sekjen ACC Kalbar ini Singkawang adalah daerah 
kedua setelah Pontianak. Cukup lama saya berdomisili di Singkawang, disamping 
itu banyak kerabat yang masih tinggal di sana, hingga polemik semacam ini sudah 
selayaknya dihentikan.

‘’Saya fikir kalau bukan naga objeknya tidak akan jadi masalah,’’ tambahnya. 
Karenanya dia berharap kalau Pemkot ingin membangun sebuah patung, tetapkanlah 
ikon kota Singkawang. Nah, kalau ikon sudah ketemu dan kemudian dibangun secara 
artistic mungkin mereka akan memakluminya. Di Sintang misalnya, di dekat Bukit 
Kelam, Patung Pak Tani di Mempawah toh tidak ada masalah. ‘’Kalau mau skop luar 
ya di kota Surabaya ada patung ikan hiu dan buaya. Bali dengan patung Hanoman 
atau Rama. Kenapa masyarakatnya bisa terima? Karena sesuai dengan ikon 
daerahnya,’’ katanya lagi.

Lantas di Singkawang? Ada banyak. Salah satunya yang pernah dibaca adalah ikan 
Tembakol yang ingin dijadikan maskot ataupun ikon. Nah, ikan Tembakol 
dimusyawarahkan untuk dibuat tugu, tentu saja sesudah ada persetujuan dari 
DPRD. ‘’Kalau semua sudah setuju, jangan setengah-setengah. Bikin yang besar 
hingga setiap yang berkunjung ke Singkawang akann tahu makna tugu tersebut. 
Jangan cuma dua meteran, terus mengundang polemik,’’ katanya lagi. (ing)



      

Kirim email ke