Rabu, 21 Januari 2009 , 08:02:00
Makna Dibalik Perayaan Tahun Baru Imlek
Oleh: Ws. 
Mulyadi<http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=13337#>

 Sejak ditetapkannya Tahun Baru Imlek sebagai salah satu hari libur nasional
oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Kepres No.19/2002 tertanggal
9 April 2002, maka setiap tiba datangnya Tahun Baru Imlek kita mulai
merasakan suasana yang berbeda dan melihat berbagai macam pernak-pernik atau
hiasan khas Imlek yang dijual, khususnya di daerah perkotaan.


Tahun Baru Imlek pada tahun ini jatuh bertepatan dengan tanggal 26 Januari
2009  (1 Cia Gwee 2560 Imlek). Saat ini orang lebih merasakan suasana yang
lebih meriah dan memiliki kebebasan untuk mengekpresikan kegembiraan dalam
merayakannnya, sama seperti halnya dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri atau
Tahun Baru Masehi 1 Januari.
Perayaan Tahun Baru senantiasa diidentikan dengan pertunjukan barongsai atau
bagi-bagi angpau (hungpao) khususnya dilakukan oleh mereka yang  merayakan
Tahun Baru Imlek. Suasana ini tidak dapat kita jumpai sebelumnya, setidaknya
lebih dari tiga dasawarsa sejak adanya kebijakan pemerintah pada saat itu
yang membatasi perayaan hari-hari keagamaan,  khususnya bagi orang-orang
Tionghoa yang hanya diperbolehkan pada lingkungan keluarga saja; seperti
tercantum dalam Inpres No.14/1967 yang sudah dianulir pada masa Presiden
Gusdur.

Meskipun sebenarnya perayaan Tahun Baru Imlek sebelumnya juga dapat
dirayakan secara umum seperti sekarang ini.
Sudah barang tentu perayaan Tahun Baru Imlek saat ini bukan lagi menjadi
milik satu golongan tertentu saja (Tionghoa, Pen.), melainkan sudah menjadi
milik seluruh bangsa di dunia. Namun hal tersebut tidak terlepas dari latar
belakang sejarah asal muasal Tahun Baru Imlek itu sendiri yang berkaitan
erat dengan sistim penanggalan Imlek/Yinli/Khongculek/Kongzili. Misalnya
penetapan tahun pertama dari Tahun Baru Imlek adalah dihitung sejak tahun
pertama kelahiran Nabi Kongzi (baca Kungtze) yakni tahun 551 Sebelum masehi.


Bagi mereka yang beragama Khonghucu (Rujiao), merayakan Tahun Baru Imlek
bukan hanya sekedar merayakan tradisi untuk menyambut datangnya musim semi
saja, melainkan mengandung suatu makna religius yang sangat mendalam. Hal
ini terbukti bahwa umat Khonghucu senantiasa melakukan berbagai macam
kegiatan sebelum tiba saat perayaan Tahun Baru Imlek. Antara lain mereka
melakukan sembahyang kepada segenap keluarga yang sudah tiada sebagai wujud
rasa bhakti kepada leluhurnya.


Mengumpulkan dana Ji Si Siang Ang (Hari Persaudaraan) sebagai wujud cinta
Kasih dan kepedulian terhadap sesama. Membersihkan tempat ibadah dan rumah
keluarga masing-masing sebagai refleksi menyambut tibanya tahun yang baru
dengan suasana yang baru pula. Pada malam pergantian tahun, tepatnya dimulai
pada pukul 23.00, mereka melakukan sembah sujud dan syukur kepada Tian
(Tuhan Yang Maha Esa) atas segala berkah dan karunia yang telah
dilimpahkan-Nya sepanjang tahun lalu dan kini mereka bersiap diri untuk
menyongsong tibanya Tahun Baru dengan suasana yang baru.


Di dalam Kitab Daxue (baca Tashue) II.1 tersurat : "Bila suatu hari dapat
memperbaharui diri, perbaharuilah terus setiap hari dan jagalah agar
senantiasa baharu selama-lamanya". Makna yang tersirat sangat jelas, bahwa
hal itu menunjukkan semangat pembaharuan harus senantiasa dijaga di dalam
diri kita masing-masing untuk kembali kepada kodrat kemanusiaan kita; apa
yang kurang baik pada masa lalu hendaklah kita tinggalkan, sebaliknya
hal-hal yang baik hendaknya ditingkatkan pada masa mendatang. Dengan
demikian kita akan senantiasa dipacu untuk selalu mawas diri dan introspeksi
diri akan kinerja yang telah kita lakukan pada masa lalu. Kitapun menyadari
sebagai manusia yang sering melakukan kesalahan dan kelalaian, maka saat itu
adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk kembali kepada Jalan Suci
(Tao).


Tak hanya sampai disitu saja, satu hari sejak tanggal 1 bulan kesatu sampai
dengan tanggal 8 bulan kesatu Imlek, seluruh umat Khonghucu diwajibkan
berpantang makan makanan berjiwa (vegetarian). Hal ini dilakukan untuk
memperluas rasa cinta kasih kita, bukan saja terhadap sesama melainkan juga
terhadap makhluk hidup yang lain. Bahkan pada tanggal 8 bulan kesatu
menjelang pelaksanaan Upacara Sembahyang besar kepada Tian (Tuhan YME) atau
Jing Tian Gong (baca cing tien kung) mereka berpuasa penuh satu hari sampai
selesai dilaksanakannya upacara sembahyang tersebut. Hal ini dilakukan untuk
membersihkan diri dan mensucikan hati sebagai persiapan sebelum melaksanakan
upacara sembahyang tersebut.


Pada hari Tahun Baru, biasanya anggota keluarga yang lebih muda usianya akan
memberikan penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua ; dimulai
dari anak-anak yang menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru kepada ayah dan
ibunya masing-masing, lalu dilanjutkan terhadap anggota keluarga yang lain
dan juga para tetangga dan sahabat. Disini akan terlihat suasana
kekeluargaan dengan adanya saling kunjung diantara keluarga yang satu kepada
keluarga yang lain. Mereka saling bermaafan satu sama lain sebagai wujud dan
rasa persaudaraan.


Perayaan Tahun Baru Imlek biasanya ditutup dengan perayaan Cap Go Me/Yuan
Xiao, tepatnya jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek. Pada hari itu
semua umat mengungkapkan rasa syukurnya dan bersuka cita dengan melakukan
berbagai macam atraksi hiburan atau arak-arakan seperti permainan ular naga
(liong/lung) dan barongsai sebagai ungkapan rasa gembira dan syukur dalam
memasuki tahun yang baru. Perayaan Cap Go Me saat inipun sudah menjadi suatu
perayaan yang lebih menonjolkan hiburan ketimbang kegiatan ritual keagamaan,
meskipun hal itu dilakukan di tempat-tempat ibadah. Bagi umat Khonghucu,
mereka kembali melakukan ibadah dan bersembahyang di tempat ibadah seperti
Litang atau Kelenteng sebagai ungkapan rasa syukur untuk dapat memasuki
tahun yang baru dengan selamat dan sentosa.


Demikianlah makna dibalik perayaan Tahun Baru Imlek dari persepsi agama
Khonghucu. Setiap orang berhak untuk turut serta merayakan dan memeriahkan
Tahun Baru Imlek, karena perayaan tersebut memang sudah menjadi milik umum
dan seluruh bangsa di dunia. Yang jelas dengan perayaan Tahun Baru Imlek
hendaknya senantiasa dipupuk semangat persaudaraan diantara semua warga
bangsa dan semangat pembaharuan untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran
bersama. Sin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi ! – Selamat Tahun Baru, semoga
Keberkahan dan Kebahagiaan senantiasa menyertai anda. Shanzai ! **

• Penulis, Ketua MAKIN Cimanggis, Depok.

Kirim email ke