Senin, 19 Januari 2009 , 10:44:00 *Makna Filosofis di Balik Sajian Kuliner Imlek* <http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=7941#>
Oleh: Syafaruddin Usman MHD dan Isnawita Din Tahun Baru China atau Imlek dirayakan sesuai tradisi. Imlek 2560 pada 26 Januari 2009 merupakan tahun kerbau dengan unsur tanah negatif. Kerbau merupakan simbol kemakmuran yang diperoleh dari kerja keras dan dipercaya sebagai perlambang kesabaran, pekerja yang tidak kenal lelah serta mampu menanggung beban berat tanpa mengeluh. Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek merupakan momen untuk memohon kepada Tuhan agar memperoleh kehidupan yang lebih baik daripada tahun sebelumnya. Harapan itu tercermin pula lewat aneka hidangan yang mereka sajikan. Berdasarkan tradisi masyarakat Tionghoa, santapan khas Imlek biasanya dinikmati bersama keluarga pada malam hari. Beberapa jenis masakan yang identik dengan perayaan tahun baru itu ialah Yu Sheng dan Siu Mie. Di dalam Yu Sheng atau Yee Shang tersirat agar mendapatkan kebahagiaan pada tahun yang baru. Yu Sheng adalah sejenis salad yang berbahan utama ubur-ubur atau ikan. Rasanya, asam manis. Bahan utama untuk membuat Yu Sheng biasanya diiris seperti korek api. Cara menikmati Yu Sheng terbilang unik. Sebelum mengonsumsi menu itu, seluruh anggota keluarga biasanya bersama-sama mengaduknya dengan sumpit. Setelah itu, mereka akan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil mengucapkan harapan akan mendapatkan kebahagiaan pada tahun yang baru. Siu Mie atau mi biasanya menjadi menu wajib karena merupakan simbol panjang umur. Mi disajikan dalam kondisi panjang, nyaris tanpa putus. Menyantap mi ada aturan mainnya. Pertama, tidak boleh dipotong dengan sendok. Kedua, dimakan menggunakan sumpit serta diseruput sampai terpotong. Santapan malam yang dilakukan saat merayakan Imlek juga biasanya didominasi menu yang terbuat dari ikan, daging, dan udang. Ada pula yang menyuguhkan hidangan yang terbuat dari tujuh jenis bahan utama yang berbeda, termasuk abalone, sayur, dan kepiting. Menu itu merupakan satu contoh makanan ala China Peranakan. Penyajian bandeng menyiratkan harapan agar memperoleh banyak rezeki pada tahun mendatang. Bandeng yang diolah pada saat Imlek biasanya berbeda dengan hari-hari biasa. Sejumlah orang, bahkan, memberi istilah khusus, yaitu bandeng Imlek. Keunikan bandeng Imlek, antara lain tercermin leat bobotnya yang bisa sepuluh kali lipat lebih berat jika dibandingkan dengan biasanya. Soal rasa, bandeng Imlek juga biasanya lebih enak dan gurih karena mengandung lemak yang lebih banyak jika dibandingkan dengan bandeng biasa. Kemudian, ada pula yang menghidangkan Hun Dun, Shui Jiao, Chang Mian, dan Sup Ikan. Hun Dun atau pangsit menyimbolkan harapan agar tahun depan tidak kekurangan makanan. Shui Jiao dikonsumsi pada pukul 24.00 untuk menandakan kehidupan yang telah lewat dan yang baru datang. Chang Mian atau Misoa melambangkan panjang umur. Cara menghidangkan maupun menyantap sama seperti mi. sementara itu, sup ikan melambangkan harapan agar mendapatkan rezeki pada tahun baru. Di samping masakan, masyarakat Tionghoa biasanya menghidangkan buah-buahan seperti jeruk, pisang raja atau pisang mas. Pisang raja dan pisang mas melambangkan kemakmuran. Jeruk menyimbolkan kemakmuran. Buah-buahan lain yang dapat dijumpai sampai Imlek adalah semangka dan pir. Agar-agar biasanya disuguhkan dalam bentuk bintang. Bentuk ini simbol harapan akan adanya kehidupan dan jabatan yang terang dan bersinar. Hidangan lain yang wajib ada saat Imlek adalah kue keranjang dan lapis legit (Spekkoek). Sesuai dengan tradisi, kue keranjang disantap sebelum nasi. Kue ini melambangkan harapan agar mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan. Konon, kue keranjang juga menyiratkan asa agar kehidupan keluarga selalu rukun. Sementara itu, spekkoek merupakan simbol datangnya rezeki yang berlapis-lapis pada tahun yang akan datang. Selain aneka hidangan yang dapat disantap saat makan malam, ada pula yang disajikan sebagai persembahan. Hidangan itu adalah sam-seng. Ini adalah persembahan untuk melengkapi pergantian tahun berdasarkan penanggalan lunar. Sang-seng pada awalnya merepresentasikan tiga alam yang mendukung kehidupan manusia, yaitu langit, bumi, dan air. Di sisi lain, sam-seng melambangkan pula sifat-sifat yang tidak boleh ditiru, yaitu serakah, jahat dan malas. Perayaan Tahun Baru China atau Imlek sarat dengan makna syukur serta doa agar di tahun mendatang diberi rezeki berlimpah. Pada saat itulah seluruh anggota berkumpul dan melakukan santap malam bersama. Sejumlah menu makanan khas Imlek disajikan, mulai dari kue keranjang, kue mangkuk, mi panjang umur, hingga Yu Sheng. Yu Sheng merupakan gabungan dari sayuran berwarna-warni serta potongan daging ikan mentah. Yu berarti ikan dan Sheng berarti mentah. Ikan mentah merupakan simbol dari kehidupan baru, sedangkan Yu berarti kesejahteraan. Santapan itu berupa perpaduan irisan berbagai sayuran seperti lobak, wortel, mentimun, jahe, kulit jeruk yang dikeringkan, buah melon, plum dan sebagainya. Sepentara itu, ikan yang digunakan ialah salmon, ubur-ubur, atau abalone. Salad Imlek itu diberi bumbu minyak wijen, kecap ikan, dan air jeruk. Ada pula yang dicampurkan dengan kacang tanah yang telah dihaluskan, bubuk lada, bubuk kayu manis, dan minyak sayur. Sausnya terbuat dari buah plum. Hal yang menarik dari menu ini adalah tata cara mencampurkan semua isi. Ada delapan tahapan yang dilakukan sambil mengucapkan doa tertentu. Mulai dari mencampurkan ikan ke dalam sayuran, memberi perasan jeruk, minyak sayur, bubuk kayu putih, lada, saus plum, hingga keripik. Yu Sheng disajikan di tengah meja bundar yang dikelilingi peserta makan. Setiap orang memegang sumpit dan mengaduk Yu Sheng. Secara bersamaan, mereka melakukan tos dengan mengangkat sumpit berisi Yu Sheng setinggi-tingginya. Konon, rezeki terbanyak tahun depan akan jatuh pada orang yang mengakat sumpit paling tinggi. Sambil membagi Yu Sheng, setiap orang akan mengucapkan Lo Hei yang berarti kesejahteraan tiada akhir. Salah satu kue yang wajib ada saat perayaan Imlek adalah kue keranjang atau Nian Gao. Kue ini dibuat dari tepung ketan dan gula serta mempunyai bentuk bulat seperti keranjang. Nian Gao tidak hanya enak dimakan, tetapi juga mengandung sejumlah makna. Bentuk bulat menyerupai keranjang menyiratkan makna agar keluarga yang merayakan Imlek dapat terus bersatu, rukun, dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang baru. Sementara itu, penyajiannya yang disusun ke atas, dengan bentuk yang mengecil di bagian atas, melambangkan harapan akan adanya peningkatan rezeki atau kemakmuran. Di bagian atas susunan, pemilik rumah biasanya meletakkan kue mangkuk. Kue ini menyimbolkan asa agar pemilik rumah dan keluarganya bisa menikmati kehidupan manis yang kian mekar seperti kue mangkuk. Pada zaman dahulu, kue keranjang mencerminkan pula status ekonomi keluarga pemilik rumah. Semakin tinggi susunan, semakin makmur pemilik rumah. Kue keranjang pada awalnya disajikan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga. Kue ini memiliki nama asli Nien Kao atau Ni Kwee yang berarti kue tahunan, yaitu hanya dibuat setahun sekali. Seiring dengan berjalannya waktu, penggunaan kue keranjang untuk menyambut Imlek seolah telah menjadi tradisi. Biasanya, kue keranjang digunakan sebagai sesajen pada saat sembahyang. Tepatnya, enam hari menjelang Imlek (Jie Sie Siang Ang) sampai malam menjelang tahun baru. Sebagai sesajen, kue biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh, yaitu malam ke 15 setelah Imlek. Karena dibuat dari gula dan tepung ketan, kue keranjang memiliki rasa yang manis serta mempunyai tekstur yang kenyal. Kue ini dapat disimpan dalam waktu lama. Di China, kue keranjang ini biasanya disantap sebelum memakan nasi. Harapannya, orang yang menyantapnya senantiasa mendapatkan keberuntungan dalam pekerjaan. Sejatinya, tahun baru tak sekadar menyajikan persembahan atau menikmati santap malam bersama keluarga. Namun, juga dapat memotivasi agar senantiasa mempunyai harapan serta menjauhkan diri dari sifat-sifat buruk. (Diolah dari berbagai sumber, lisan dan dokumen serta arsip budaya Tionghoa Kalbar) Penulis: Peminat kajian kontemporer budaya dan sejarah Kalimantan Barat.
