Kamis, 22 Januari 2009 , 11:42:00 Mengapa Dinamakan Kue Keranjang Serta Maknanya <http://www.equator-news.com/index.php?mib=berita.detail&id=8047#>
Pada tanggal 26 Januari 2009 , juga pada hari yang sama dalam penanggalan Imlek adalah tanggal 1 bulan 1, Chi Chou Nian (2560-KHC), Shiau Nien (Kerbau), Etnis Tionghoa akan memasuki awal musim Semi yang di rayakan sebagai hari Raya Tahun Baru Imlek. Dalam merayakan Tahun Baru Imlek salah satu tradisi yang menyertainya adalah mempersiapkan kue keranjang , rasanya tidak akan komplit kalau tak ada kue keranjang , seperti halnya pada Hari Raya Lebaran tanpa ketupat , akan terkesan kurang sreg. Mengapa dinamakan kue keranjang ? Sedangkan sebutan aslinya dalam bahasa Mandarin adalah Nian Kau (Kue Tahunan), ucapan dialek Hakka disebut Thiam Pan (Kue Manis), dan dialek Tio Ciu disebut Tiam Kue (Kue Manis). Untuk jelasnya saya coba ceritakan asal usulnya sebutan tersebut berdasarkan bacaan dan pengalaman pribadi sebagai berikut : Seingat saya pada penjajahan Jepang (1942-1945), dikampung kami kira-kira 2 minggu sebelum Tahun Baru Imlek, pada pagi hari sebelum matahari terbit sudah dapat didengar bunyi-bunyi lesung dari penduduk kampong sedang menumbuk beras ketan sebagai bahan untuk membuat kue keranjang setahun sekali. Begitu juga keluarga kami pun wajib menumbuk beras ketan yang mana sebelumnya terlebih dahulu telah direndam dalam air sampai lembut, baru bisa ditumbuk menjadi tepung, kemudian diaduk dengan air secukupnya serta dicampur dengan gula kelapa (waktu itu tidak ada gula pasir) sampai menjadi adonan kue, barulah dimasukkan ke dalam cetakkan berupa keranjang bambu yang berbentuk bulat dengan dilapisi daun pisang. Besar diameter acuan ini lebarnya ± ½ meter dengan ketebalan ± 10 cm. Setelah adonan kue siap , barulah ditempatkan dalam kuali besar untuk dikukus selama 12 jam (dari jam 6 pagi s/d jam 6 sore) dengan api menyala terus menerus dan dijaga oleh anggota keluarga yang dewasa secara bergiliran. Selama mengkukus, penutup kuali tidak boleh dibuka dan harus tetap ada air secukupnya. Untuk mengetahui dalam kuali masih cukup air atau tidak, maka dalam kuali ditempatkan sebuah mangkok terbalik. Selama mangkok dalam kuali berbunyi maka bertanda air dalam kuali masih cukup. Sesudah proses kukus selama 12 jam, penutup kuali itu baru boleh dibuka oleh kepala keluarga dan disimpan selama 24 jam sampai kue menjadi dingin, baru boleh dipotong sesuai ukuran yang dikehendaki dan dibagikan ke keluarga-keluarga yang terdekat, terutama diantarkan kepada mertua dan tetangga , untuk saudara kita yang bumi putera tentu agak sulit melafalkan sebutan nama kue Thiam pan tersebut, jadi untuk praktisnya disebutlah sebagai kue keranjang sesuai dengan cetakkan kue nya yang khas dan spesifik , Dari sinilah kita dapat menarik kesimpulan bahwa Nian Kau ini selanjutnya menjadi lebih dikenal sebagai Kue Keranjang daripada sebutan aslinya . Karena asal usulnya kue ini dikukus sampai masak dalam cetakkan keranjang bambu yang bulat. Dalam perubahan keadaan secara globalisasi, semua mau cepat dan instant serta praktis khususnya keluarga yang sudah jauh dari kampung tentu merepotkan kalau harus juga membuat sendiri . Maka kue keranjang pun diproduksi secara komersial dan keluarga yang membutuhkan tinggal memasukkan pesanan sesuai kebutuhan , Dan para produsen mengikuti perkembangan jaman serta selera pasar juga menyesuaikan diri dengan bentuk produk yang lebih kecil dan cepat masak dalam acuan kaleng-kalengan serta lapis tatakan plastik . Dan sekarang kapan saja boleh membuatnya asal ada orderan/pembelinya , sama sepertinya tradisi bikin kue Bak cang , juga sekarang sudah menjadi salah satu jajanan yang selalu tersedia sekalipun di luar Go Gwe Cot . Mengenai bentuk kue keranjangnya yang bulat, dapat dimaknai bahwa keluarga yang berpisah, sedapat mungkin berusaha paling tidak 1 kali setahun untuk berkumpul dan bersatu ( silaturahmi ) dalam menghadapi tahun baru yang akan datang. Ada juga yang percaya seperti dalam cerita legenda bahwa kue keranjang sebagai oleh-oleh kepada Dewa Tungku, dimana beliau sewaktu akan cuti tahunan pulang ke Istana Kahyangan serta melaporkan tugasnya di duniawi kepada Kaisar Langit . Dengan harapan agar saat Dewa Tungku memakan kue keranjang yang lengket, kenyal dan manis sehingga tidak banyak yang dilaporkannya. Kalaupun ada yang harus dilaporkan, teringat kue keranjang yang manis membuat laporannya pun manis seperti rasa manis kue keranjang. Sekian , Semoga dapat menambah wawasan pengetahuan bagi kita khususnya bagi yang senang mempelajari tentang perayaan hari tradisi dalam kebudayaan kita yang kaya dan majemuk . Salam Sejahtera X.F.Asali, Pontianak
