http://www.republika.co.id/berita/27877.html
Singkawang Dihiasi Kemeriahan Cap Go Meh

  JAKARTA -- Sebanyak 534 tatung (dukun) akan ikut memeriahkan Festival Cap
Go Meh 2009 di Singkawang. "Cap Go Meh tahun ini akan menjadi yang terbesar,
karena diikuti oleh 534 tatung. Tahun lalu diikuti 474 tatung," kata Kepala
Dinas Pariwisata Singkawang, Sjech Bandar, Msi, dalam jumpa pers di Jakarta.

Bercermin pada pengalaman tahun lalu, arak-arakan kelompok dari para dukun
itu bisa mencapai dua kilometer panjangnya.

"Arak-arakan barongsai dan naga berlangsung hari Sabtu, tanggal 7 Pebruari.
Keesokan harinya mereka akan melaksanakan ritual keagamaan, mulai pukul
06.00 hingga 17.50 WIB," kata Sjech Bandar.

Cap Go Meh merupakan tradisi kuno masyarakat China, yang dilaksanakan pada
15 hari setelah Tahun Baru Imlek.
Walikota Singkawang, Hasan Kaman, hadir dalam jumpa pers.

Hasan Kaman menjelaskan, mayoritas atau sekitar 60 persen warga Singkawang
adalah etnis China, dan Cap Go Meh sudah diadakan sejak tahun 1700-an.

"Dulu, pada tahun 1740, Sultan Sambas mengundang para penambang dari
Tiongkok untuk datang ke kota Mantrodi, sekitar 20 km dari Singkawang. Sejak
itu, warga Tiongkok terus berdatangan dan menetap, bahkan kawin dengan
masyarakat setempat (suku Dayak)," katanya.

Menurut Hasan, sejak tahun 1750 warga China di daerah itu melaksanakan Cap
Go Meh, upacara ritual yang dilakukan para dukun untuk mengusir roh jahat.

Setelah pecah kerusuhan tahun 1967, terjadi arus perpindahan masyarakat
etnis China ke Singkawang. Upacara yang tadinya berpusat di Mantrodi pun
bergeser ke kota ini.

Hasan juga mengatakan, upacara Cap Go Meh di Singkawang merupakan yang
terunik di dunia, karena sudah bercampur dengan tradisi Dayak dan Melayu,
yang memasukkan unsur Datuk dan Jenderal di dalamnya. "Hal ini ditulis oleh
pakar sejarah dan budaya China, Prof. Margareth Chan. Ia pernah mewawancarai
saya," katanya.
*
Home stay*

Keunikan Cap Go Meh di Singkawang terbukti sangat menarik bagi wisatawan,
bukan hanya dari berbagai daerah di Tanah Air tetapi juga manca negara.

Menurut Walikota, setiap menjelang pelaksanaan hotel-hotel di kota itu sudah
dipenuhi oleh turis lokal maupun asing. "Sekarang ini tidak ada lagi kamar
hotel yang kosong. Sehubungan itu, kami dari pemerintah kota sudah mengimbau
agar masyarakat yang memiliki kamar kosong di rumah untuk menyewakannya
kepada turis. Ini kita sebut sistem home stay," katanya.

Acara Festival Cap Go Meh di Singkawang dijadwalkan berlangsung mulai
tanggal 25 Januari-9 Pebruari, dan sabtu malam (24/1), warga kota tersebut
diminta untuk memasang lampion (lampu tradisional China) di rumah
masing-masing, untuk dilombakan dengan berbagai hadiah yang menarik dari
panitia penyelenggara acara.

Melihat potensi besar dari penyelenggaraan festival ini bagi
wisatawan, pemerintah setempat pun bertekad menjadikan Singkawang kota
tujuan wisata utama setelah Bali.

"Selain Prof. Margareth Chan, banyak pengusaha yang mengatakan kepada saya
bahwa Singkawang menyimpan keunikan yang sama besar daya tariknya
dibandingkan dengan Bali," kata Hasan.

Untuk itu, berbagai tempat yang bisa dijadikan obyek wisata alam pantai,
danau, dan air terjun akan dibangun. "Kami juga akan membangun bandara, tapi
masih menunggu izin dari Pemerintah Pusat," katanya.

Ia menambahkan, pembangunan bandara sangat strategis untuk akses yang cepat
menuju Singkawang, yang saat ini hanya bisa dicapai dengan perjalanan darat
dari Pontianak maupun Entikong, perbatasan RI-Malaysia, masing-masing dengan
waktu tempuh tiga hingga empat jam berkendara mobil. - *ant/ah*

Kirim email ke