Salam buat bpk Ardy Prasetya, Disini kita berdebat/ diskusi/berkomentar bukanlah hal yang norak. sebuah milis memang di peruntukan itu.
Dengan adanya even demo tugu naga, milis ini jadi rame, semua karna kita orang singkawang masih peduli, masih ingin tahu apa sedang terjadi di singkawang. Jadi seperti kata Pak Clement Li, 'We are one big family' jangan menggunakan kata norak untuk kita semua Rgds, Dewi Lilyana --- On Sat, 2/7/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [Singkawang] RE: Bls komentar bpk/sdr Ardy Prasetya To: [email protected] Date: Saturday, February 7, 2009, 11:37 AM Greeting, Saya sangat bersyukur sdr Ardy (maaf, saya anggap kita semua di milis ini masih muda dan tidak berusaha "be politically correct") telah menbaca karya Sun-Tzu. Ini mencerminkan tingkat pendidikan sdr Ardy. Saya sudah bertahun-tahun berada di milis ini dan "watch it growths". Disini kita berdebat, memberi komentar2 dan kadang2 mencoba men-"bodohi" pihak "lawan" dan sudah sering sampai panas sekali. Pernah juga sampai kecapekan sendiri. "At the end, we are one big family". Dibawah ini (teks warna biru) adalah balasan saya. Maaf kalau ada kata2 yang tak berkenan. Maaf juga atas penggunaan kata2 dan tata bahasanya. Salam. Clement --- On Sat, 2/7/09, ardy prasetya <[email protected]> wrote: Saya berpikir, tiba-tiba darah saya terasa dingin dan jantung saya serasa tercekat dan membeku memikirkan ini. >>> Biasa ajalah, jangan terlalu di besar2 kan Tapi ini hanya dugaan saya saja sih.Apakah ini jangan-jangan adalah salah satu strategi dari pemerintah daerah Singkawang sendiri ? menarik ulur kegiatan konstruksi dan dekonstruksi problematika patung yang akan menjadi legenda ini, membuat prosesinya menjadi serba tidak jelas dan komplikatif sehingga atensi kepadanya membludak dan informasi yang menyimpan benih promosi menyebar hingga ke mana-mana. (Kalau ini betul strategi nya Pemkot, berarti Pemkot telah sukses menangkan "first step in marketing strategy") Saya teringat beberapa waktu lalu beberapa situs, thread, dan topik tentang Singkawang di ranah online dibanjiri oleh orang-orang dari berbagai lokasi untuk mencari tahu tentang fenomena ini. Luar biasa. Rate dari beberapa situs bahkan mencapai peak point seumur-umur. Dan beberapa rekor bahkan tercetak pada rentang waktu itu. (Keberhasilan suatu situs diukur dari 'number of hit".Seharusnya kita mengucapkan selamat ke admin - good job). Bayangkan saja. Tidakkah kita menyadari perhatian terhadap Singkawang akhir-akhir ini menjadi meningkat dikarenakan terjadi demo, aksi dan kerumunan/keramaian massa yang cukup dramatis? mungkin baru ini kali pertama di era modern pasca rezim orde baru (seingat saya ini yang pertama kali dalam sejarah Skw - sebelum era orla dan pasca orba) ada lonjakan gairah massa yang seperti ini di Singkawang. Bahkan beberapa kenalan saya yang non-Singkawang pun mempertanyakan patung naga ini. (Calon wisatawan - tolong sampaikan keteman info yang berikut sungai di Skw pada meluap dan sinar kuning dan kepala naga muncul di angkasa, biar lebih sensasionil. Mudah2an kedepan kota Skw terkenal sebagai "kota suci" yang akan selalu ramai dikunjung oleh turis) Mereka ingin membaca beritanya, ingin melihat gambarnya, bahkan berencana ke Singkawang buat melihat naganya. Gila. Tanpa disadari (belum tentu), masyarakat “dituntun” ambil bagian, baik yang pro maupun yang kontra. Termasuk yang sedang berada di dunia maya seperti ini.(itulah tujuan utama (sole purpose) dunia maya - menggalang diskusi/debat/komentar) Orang-orang mulai berprilaku seperti badut (maaf) (termasuk yang menbaca juga kan? Sdr Ardy juga ikut komentar kan? Ya, kita semua sama2 badut. Yang tidak badut adalah saudara2 kita yang berusaha melindung patung dari ancaman penghancuran di lapangan) sibuk memberi komentar, dukungan, penolakan, kritik, bahkan hinaan dan ejekan. Hasilnya apa ? PROMOSI GRATIS ! (Promosi Gratis, The Best Business Strategy - bukankah ini yang diajarkan di skul MBA) Seperti kata Peter Bynum, deskripsi dan dramatisasi dari sebuah keadaan yang disajikan dengan bumbu emosionalitas terkadang lebih menarik daripada fakta dan prediksi yang dinyatakan secara lugas, indeksial, dan statistikal. (itu adalah fakta dan merupakan strategi yang sangat ampuh. Inilah yang diajarkan di jurusan "Political Science" di universitas. Bukankah pendemo juga menggunakan strategi yang sama? Pengacau berjubah agama)Terkadang tingkat penerimaan dan rasionalitas masyarakat terhadap sebuah fenomena juga dipengaruhi oleh pengetahuan/ kapasitas kontekstual mereka untuk menganalisa / mengolah informasi, sehingga tak bisa selalu dihitung secara empiris dan indeksentris. Dan itu terbukti di sini. (Karena itulah ada yang beperan sebagai intelektual nya) Sejujurnya saya seperti sedang menonton film saja. (Memang betul. Sdr Ardy lagi menonton shuting film riwayat perjuangan etnis Tionghoa di Singkawang dan menurut saya, kedepan milis ini akan tercatat dalam sejarah sebagai situs yang telah berperanan penting dalam sejarah perjuangan etnis Tionghoa Skw) Memang sih secara makro belum terlalu signifikan efek yang terasakan di Singkawang, tapi terus terang, strategi seperti ini cerdik. Bahkan kalau diperhatikan, hampir semua point strategi dari Sun Tzu mengajarkan tentang penciptaan ilusi dan paradoks seperti ini. Apa mungkin saya terlalu banyak menonton film perang ? (ternyata Sdr Ardy sudah menbaca "The Art of War by Sun-Tzu". Sebuah buku yang sangat berguna, maupun untuk berbisnis atau berpolitik. Apakah sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia?) Jika memang ini adalah salah satu strategi introduktif dan promosi dari pemerintah, saya acungkan 4 jempol untuk mereka (bahkan 5 kalau saya punya). Hebat. Kalau bukan, maka kita harus berterima kasih pada semua pihak yang telah begitu baik hati mengambil peran dalam sebuah film epik kolosal yang seperti sedang diarahkan oleh John Woo saja. Nanti kalau sudah tua kita bisa bercerita kepada anak cucu kita bahwa dulu di kampung kita sempat terjadi banjir 2 kali dalam sebulan, lalu ada keramaian dan aksi massa serta “bentrokan” dikarenakan hanya oleh sebuah patung naga yang melegenda itu. Norak ya. Tapi biarpun norak, tetap heroik kok ^^. (Itulah folk-tale nya Skw lima puluh tahun yang akan datang. Dongengnya sudah ada, baca aja di singkawang.us. Menurut kabar angin ada yang lagi susun "script" sebuah film dengan Pa'Dhe sebagai technical directornya (merangkap menjadi camera man) dan diperan oleh bintang film Bong Li Thiam yang telah berpengalam dan yang telah di vonis untuk dihancurkan (life story ???). Jadi apakah saya pro atau kontra ? apa arti patung ini ? apa guna/manfaat patung ini ke depan ? apa efek keberadaan patung ini ke depan ? apa dampak negatif atau positif dari keberadaan patung ini ? jika modus ini benar, saya rasa pada akhirnya semuanya hanya omong kosong saja. (Pada awalnya, penbangunan patung ini berjalan lancar, tanpa ada isu. Kemudian, datanglah front pengacau, dua hari berdiri di Skw, langsung hendak memaksakan kehendak mereka dan mau bikin onar. Masalah perizinan yang merupakan wewenang Pemkot di permasalahkan. Mereka lalu mengancam untuk menurunkan massa untuk menghancurkan patung ini. Tindakan anarki dan kekerasan inilah yang tidak diterima oleh masyarakat Skw. Bukan untuk mempertahankan patung. Janganlah kita lupa dengan apa yang telah mereka lakukan di pulau Jawa. Mereka telah diusir dari berbagai daerah pula dan sekarang lari ke Kalbar (kehabisan tempat untuk mengungsi kali ???). Karena kronologi even yang sedemikian, mau tidak mau patung ini harus dipertahankan. Kalau tidak, tindakan anarki dan kekerasan akan terus berlangsung. Ini yang tidak kita inginkan) Lalu berbicara terlepas dari pro dan kontra serta ada atau tidaknya manfaat patung naga itu. Saya pikir, layaknya sebuah struktur, apapun itu, sebaiknya ada garis sempadan yang bisa memisahkan struktur itu dengan jalur kendaraan. Layaknya halaman depan dari sebuah gedung, atau arkade ataupun kaki lima pada ruko-ruko. Begitu seharusnya zoning patung ini diperhatikan. Apakah ada ? dari overview yang terlihat sepertinya area persimpangan ini tidak menyediakan tempat yang cukup luas untuk kebutuhan/program ruang seperti itu. Jadi, apakah mungkin penempatan patung ini yang mungkin saja sudah berada pada site yang tepat karena berada di tengah-tengah kota, namun sebenarnya tidak didukung oleh kapasitas ruang yang memadai ? ini hanya dugaan saja. (Yang ditentang bukan tugunya, naganya yang ditentang. Kalau dibangunkan sebuah patung "kambing kebakaran jenggot" (pinjam istilah sdr Hendy) itu ndak apa2. Sedangkan masalah zoning, kan ada master plan dan saya yakin hal2 yang sedemikian telah di pertimbangkan oleh mereka di bagian tata perkotaan.) Saya khawatir pembangunan struktur seperti ini awalnya sama sekali tidak didasari dengan konsep yang kuat yang bisa menjadi nilai lebih / nilai jual di masa depan, baik dari segi etika maupun estetika tata ruang kota, kecuali alasan memperindah kota dan mendukung pariwisata yang terkesan masih absurd dan bayangan saya tidaklah terlalu kentara. Dengan demikian bisa saja patung ini hanya terepresentasi sebagai sebuah realisasi prestisi dan ego yang eksesif dari para kapitalis Singkawang. Kata Peter Eisenman, sebuah struktur tanpa konsep yang kuat, hanya akan menjadi sebuah bentukan yang tak punya makna. Semoga saja bukan. (Visi dan misi setiap pemerintah pasti berbeda-beda. Pariwisata dianggap jalan yang paling murah dan paling cepat untuk menbangun kota Skw dan untuk meningkatkan penghasilan rakyat kecil. Kemungkinan patung naga dipilih karena wisatawan yang akan di gaet adalah mereka yang berdarah Chinese. Pemerintah Kalbar telah mengirim misi ke Beijing untuk ini. Coba kita analisa tempat2 wisata yang terletak di asia timur, termasuk yang berada di China dan Malaysia. Di-mana2 ada patung naga, Kwan Im, Budha dsb yang mencerminkan kebudayaan Tonghoa. Itulah tempat2 yang mau dikunjung oleh mereka. Kalau banyak orang Arab yang akan datang berkunjung, patung2 yang bernuansa Arab lah yang akan kita bangun banyak. Bukankah ini yang diajarkan di skul bisnis - tailor to your customer needs) PS : Orang Singkawang, jangan norak dong. (Bukan mau norak, hanya ingin menbangun dan demi kesejahteraan rakyat kecil. Yang di tentang bukan patungnya melainkan wako yang berdarah Tionghoa yang dalam waktu singkat telah melakukan banyak untuk kota Skw. Ada tidaknya patung naga, demo "penghancuran" tetap akan dilakukan. Kalau boleh saya pinjam slogan kampanye di amerika "econnomy, stupid", untuk kita di Skw "kuasa, stupid") Sekian dan terima kasih. Make the most of what you can do on your PC and the Web, just the way you want. Windows Live
