Hah… Ngai jadi bingung mau
ngomong apa. Saya rasa saya cukup serius. Kesannya malah sepertinya saya yang
main-main ya. Saya jadi merasa pikiran saya dipenuhi oleh reversibilitas ironi
yang tak menentu. Jadi bingung. Intinya, saya tidak menemukan respon terhadap
substansi dari apa yang coba saya sampaikan, kecuali beberapa baris penegasan
yang lebih bersifat afirmatif. Jadi sebelumnya saya terima saja semua masukan
sebagai persetujuan terhadap visi dan posisi saya ^^
Hm.
Pak Bong, maaf, dalam keadaan
seperti ini, saya terbiasa menunjuk orang dengan gaya SBY, yaitu dengan 5 jari
menunjuk ke orang lain, kalau 2 tangan berarti 10 jari, dengan catatan kedua
tangan saya normal tanpa kelainan anatomi, jadi sisanya yang menunjuk diri
sendiri coba dihitung, ada gak. Hahahahahah. Ada-ada aja.
Terus terang saya heran, mengapa
yang ditanggapi adalah persoalan norak atau tidak norak. Apakah selama ini itu
adalah masalah utamanya ? Yakin itu bukan salah satu manifestasi atau luapan
emosi ? Mengapa begitu sensitif dengan tekanan ? Apa memang sudah sadar kalau
kita itu norak ? Saya curiga jangan-jangan sampai sekarang logika kita di sini
masih terbungkus oleh emosi. Saya tidak ingin orang-orang Singkawang menjadi
emosional dan berakhir norak. Termasuk Anda dan saya. Maka dari itu saya
bilang, “jangan norak dong”. Masa saya harus bilang, “yuk jangan norak yuk”,
atau “mari, kita jangan norak”, atau
“ayo, bersama kita jangan norak”, kan konyol. Apa masih perlu disuapi dengan
kata-kata ?
Kalau begitu baiklah, mari kita
berbicara tentang norak. Mau tahu apa arti kata “norak” yang saya maksud ?
Bagi saya, demo / demonstrasi
adalah salah satu konsekuensi awal dari demo / demokrasi. Jika kita telah
mengerti bahwa kita sedang berdemokrasi, maka seharusnya kita juga tahu bahwa
negara kita sedang menjalani apa yang disebut sebagai proses liberalisasi
terhadap sisa-sisa nafas otoritarianism yang telah lama menguasai sistem yang
bekerja. Dalam proses liberalisasi tersebut, akan terjadi banyak penyesuaian
seperti yang bisa dilihat sekarang dengan banyaknya partai-partai politik yang
hadir yang nantinya saya rasa akan mengalami polarisasi ke beberapa kutub-kutub
besar yang lebih mapan seperti halnya partai demokrat dan republik di Amerika,
selain itu juga akan terjadi “loncatan arus pendek” berupa demonstrasi.
Semuanya adalah proses penyesuaian. Dari sini, kita tahu bahwa kampung kita
Singkawang juga tengah mengalami proses liberalisasi tersebut, ditandai dengan
lonjakan massa yang pertama di Singkawang sejak reformasi bergulir.
(Pak Clement, lonjakan massa di
Singkawang tercatat beberapa kali terjadi sebelum orde lama dan di era orde
lama lalu vakum di orde baru kecuali ada beberapa konflik yang sempat terjadi.
Coba cari bukunya Mary F Somers, saya lupa judulnya.)
Lalu menghadapi visi dan
pandangan mereka yang terkesan tiba-tiba terhadap kampung kita, mungkin dengan
disertai dengan rasa kaget karena ini yang pertama kali, saya rasa di sanalah
kenorakan mulai terjadi pada kita di sini. Saya yakin sekali pada tesis Max
Weber tentang sistem negara, bahwa jika masih di dalam koridor hukum dan
undang-undang, negara adalah pemegang hak monopoli kekerasan. Sekali lagi,
monopoli. Jadi sebagaimana kita semua yakin pada kemampuan dan kekuasaan
pemerintah kota Singkawang, saya juga yakin bahwa mereka juga memegang hak
otoritas seperti itu, sehingga dengan posisi kita yang langsung balas
“menyerang” seperti ini, sepertinya menandakan bahwa kita tidak yakin pada
keberadaan otoritas yang sebelumnya kita bangga-banggakan itu. Ini adalah awal
kenorakan.
Selanjutnya, yang juga perlu kita
ketahui, berkaitan dengan isu tersebut, sebagaimana kita yakin bahwa segala hal
yang berhubungan dengan perijinan telah dilaksanakan sesuai dengan peraturan
yang berlaku , tapi pada kenyataannya mereka masih bisa mendapatkan celah untuk
menggugat perijinan tersebut, apakah mungkin ini berarti sistem perijinan
tersebut yang pada dasarnya masih bermasalah ?
Jika memang tidak bermasalah dan ditinjau dari hukum positif posisi kita
benar, tidakkah kita bisa memberi visi dan pemikiran dalam sebentuk proposisi
yang lebih bermartabat ? dengan mengandalkan emosi karena perasaan tertekan
oleh para “pengacau”, otomatis kita telah menurunkan rasionalitas, martabat dan
integritas dari nurani kita sendiri. Proposisi yang dihadirkan dengan bungkus
amarah, saya yakin akan lebih banyak porsi subjektifitas daripada objektifitas.
Dan semuanya berakhir di tengah kenorakan.
Dan yang terakhir, ini adalah
titik kulminasi dari semua kenorakan. Pendek saja. Jika kita telah menonton
berbagai video, membaca tulisan, dan mendengar kabar tentang kebobrokan mental
mereka para demonstran, tentang hujatan-hujatan mereka pada pihak lain, lantas
dengan tensi 150 kita balik menghujat mereka dengan sebutan pengacau,
penghancur, sumber anarki, tak bermoral, lalu apakah kita sendiri berbeda
dengan mereka ? ya, tentu saja kita berbeda. Tapi maaf, saya rasa tidak ada
bedanya. Seperti kata Levinas, masih pantaskah kita berbicara tentang moralitas
setelah matinya moralitas dalam diri kita sendiri ? Kita menjadi tak berbeda
dengan mereka. Kita juga telah berakhir dalam luapan emosi dan siklus amarah
yang mungkin tak tertahankan lagi. Dan kita pun berakhir dalam kenorakan.
Berbicara dalam konteks
demokrasi, saya rasa kita semua adalah pengacau. Mereka pengacau, kita juga
pengacau. Mereka mengacaukan visi dan posisi kita tentang progresivitas yang
lebih baik, maka jangan kaget bahwa menurut merekapun, kita telah mengacaukan
visi dan posisi mereka terhadap integritas dan makna ruang publik bagi mereka.
Saya tidak pernah
mempermasalahkan tentang kepedulian kita atau keingintahuan kita tentang
kondisi Singkawang. Yang saya pertanyakan adalah, bagaimana cara kita
mengekspresikan kepedulian dan keingintahuan kita itu. Apakah logika yang
positif dan terlepas dari emosionalitas masih kita pegang ? Apakah kita masih
bisa memberikan pandangan kita secara lebih bermartabat ? Jika dengan begitu
emosional kita menanggapi visi dan posisi mereka, maka maafkan saya kalau saya
akan tetap bilang, kita di sini memang norak.
Tapi tidak apa-apa. Norak tidak
melanggar hukum. Dengan semangat hipokrit, sebagaimana kita sudah bilang bahwa
kita adalah sebuah keluarga besar, saya berfirasat bahwa keluarga besar ini
juga berisi mereka-mereka yang mungkin punya pendapat berbeda dengan kita
menghadapi isu ini. Jadi, sementara beberapa di antara kita dengan berapi-api
menghina orang lain karena sudah merasa terhina, sekali lagi saya bertanya,
kita ini keluarga besar kan ? Mungkin di akhir hari nanti saya akan tersadarkan
bahwa saya ini memang cina bodoh.
Best Regards.
PS : Pak Kho, bagi saya, tidak ada yang namanya tempat
kita ataupun tempat mereka. Selama masih korelatif dengan Singkawang kampung
saya, maka itu adalah tempat saya. Sekali lagi, mari berpikir, untuk Singkawang
yang lebih baik. Mari, berpikir. Mari, hadirkan diskursus yang lebih
bermanfaat, lebih bermartabat.
_________________________________________________________________
What can you do with the new Windows Live? Find out
http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx