kesempatan menjadi kaya. Sebab, tanpa aturan jelas mereka bisa menentukan
komisi proyek, uang pelintiran pasal-pasal hukum, atau menerima jasa
sebagai perantara untuk memberikan upeti atau mencari lobi dalam pencalonan
bupati atau kepala daerah.
Maaf, saya cuma mau sharing sedikit dengan teman-teman di milis ini. Entah mengapa, ada beberapa teman yang memberi gambaran "negatif" bagi para pegawai negeri. Berikut gambaran mengenai pegawai negeri sipil Republik Indonesia selama ini:
- Koruptor
- Pemalas (makan gaji buta)
- Tidak punya skill
- Erat dengan KKN
Saya pribadi sedih dengan adanya pendapat yang seperti itu. Saya PNS. Banyak sekali teman2 saya di Departemen yang bekerja dengan sebaik mungkin, tidak korupsi, pintar and very-very skillful, menolak KKN, dll, dan hanya hidup bergantung pada gaji setiap bulan yang tidak seberapa.
Kami juga sama seperti orang kebanyakan yang masih mengeluh ttg betapa mahalnya biaya hidup dan biaya pendidikan saat ini (sampai ada beberapa ibu2 di kantor yang meminjam ke koperasi untuk membayar biaya sekolah anaknya yang baru mau masuk SMP! Dan untuk itu gaji mereka yang harus dipotong setiap bulannya)...
Kami juga masih berangkat dan pulang kantor naik ojeg, naik KRL, naik bis kota yang sudah sangat tidak layak (dengan resiko ditodong, dicopet, dijambret, dll). Dan di akhir bulan masih tetap berusaha ngirit karena anggaran belanja yang semakin menipis...
Tetapi kami juga masih bersyukur tidak perlu membeli bermacam-macam baju, karena kami diharuskan mengenakan seragam, yang artinya anggaran belanja baju bisa dialihkan ke pos yang lain.
Mungkin "Pegawai Negeri" yang teman2 maksud adalah segelintir atasan kami, yang sudah terlebih dulu diberi kesempatan mengabdi untuk negara ini, hingga mereka "bisa menentukan komisi proyek, uang pelintiran pasal-pasal hukum, atau menerima jasa sebagai perantara untuk memberikan upeti atau mencari lobi dalam pencalonan bupati atau kepala daerah." Atau mungkin "Pegawai Negeri" yang teman2 maksud adalah segelintir teman kami yang kebetulan diberi kepercayaan mengelola suatu proyek bantuan Luar Negeri, hingga mereka bisa menentukan komisi proyek.
Mungkin juga Pegawai Negeri yang teman2 maksud "pemalas atau makan gaji buta" adalah segelintir teman kami yang memilih bolos sekali-sekali, karena gaji mereka hanya cukup untuk ongkos 15 hari dan makan seadanya untuk istri dan anak2 mereka.
Kalau iya, berarti teman2 tidak fair kalau menggeneralisasi Pegawai Negeri dengan pendapat seperti itu. Karena itu hanya sedikit persen (saya nggak bisa pastikan berapa, karena tidak mengecek statistiknya) dari keseluruhan PNS di negara kita. Banyak sekali PNS yang tetap menjalankan profesinya sebagai guru, perawat, dokter, tukang sensus, analis, dll, yang Insya Allah berguna untuk negara ini (dan mereka sama sekali tidak termasuk 4 poin negatif yang saya singgung di atas).
Saya tidak berharap adanya perubahan persepsi mengenai Pegawai Negeri, saya juga tidak menyalahkan teman2 yang berpendapat negatif tentang PNS, karena setiap orang bebas untuk menilai apapun dan bebas memberikan pendapatnya. Saya hanya berharap bahwa dengan tulisan ini, teman2 bisa sedikit saja "berpikiran positif" tentang kami dan tidak lagi memukul rata bahwa PNS itu seperti "ini dan itu". Tolong disadari, PNS juga sama dengan teman-teman, berusaha mencari penghidupan yang layak, halal, dan berharap negara ini bisa menemukan calon pemimpin yang baik (kalau bisa sempurna, hingga bisa memenuhi kriteria "baik" untuk semua orang).
Segitu aja, maaf kalo tulisannya terlalu banyak... ini cuma sharing aja...
Wassalam.
Anindito Yoga Respati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
---------- Forwarded message ----------
From: Mohamad Afif <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Thu, 22 Jul 2004 15:11:24 +0700
Subject: [Kajian_LepasKerja] Mimpi si Midun
To: [EMAIL PROTECTED]
Mimpi Si Midun
Oleh : Agus Husni ( Republika Online )
http://www.republika.co.id/ASP/koran_detail.asp?id=167397&kat_id=286
Midun tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Badannya berkeringat. Napasnya
tersengal-sengal. Ia mengusap mukanya sambil beristighfar beberapa kali.
Mimpinya siang itu benar-benar menakutkan.
Ia bermimpi kotanya hancur ditelan pasang air laut yang sangat tinggi.
Menara kota yang menjadi kebanggaan warga nyaris tenggelam. Tak sanggup
menandingi ketinggian air. Beruntung, Midun sempat tersangkut di ujung
menara emas yang mencuat hanya setengah meter dari permukaan air. Tak ada
lagi gedung-gedung jangkung. Sejauh mata memandang hingga ke garis horison,
hanya air dan air yang tampak.
Pemilu di negaranya telah dimenangkan oleh sebuah partai berlambang buaya
karena koalisinya dengan partai besar lainnya berlambang luwak yang telah
mengajarkan jurus-jurus korupsi yang aman dan nyaman, bagaimana mengatur
pembagian kekuasaan untuk membangun jaringan bagi kepentingan partai itu
sendiri, bukan untuk kepentingan rakyat. Rakyat cuma seonggok kotoran yang
tak perlu dihitung lagi. Rakyat diperlukan cuma untuk basa-basi selama
kampanye.
Partai Buaya tak kalah busuknya. Mereka sama dengan Partai Luwak. Partai
yang tak lagi mempersoalkan batas-batas antara moral baik dan kebejatan.
Tahu Tuhan, tetapi juga dekat dengan setan. Mengaku pembela rakyat, tapi
merampok uang rakyat.
Pimpinannya bisa memelintir hukum untuk kepentingan politik. Ia bisa
mengendalikan hukum karena perangkatnya dikuasai dari muara hingga ke
hulunya. Para menteri tak lagi bekerja demi hati nurani. Meskipun tidak
senang dengan sang pemimpin karena kualitasnya memang jauh di bawah
rata-rata, sang menteri siap menelan ketidaksenangan itu demi kekuasaan.
Sebab, berkuasa itu enak. Selalu dapat pelayan VVIP.
Kini keduanya bersatu. Buaya dan luwak. Dua-duanya punya kepentingan sama.
Dua-duanya pakar di bidang KKN. Dua-duanya sangat profesional mengutik-utik
hukum untuk kepentingan masing-masing. Dua maling bersatu tentu akan saling
menjaga. Sebab, jika satu maling membeberkan keburukan temannya, maling
yang satu pasti juga akan tersinggung dan siap membeberkan kebusukan maling
lainnya. Sesama maling tak boleh saling mendahului, kata pepatah.
Partai Luwak yang sudah berkuasa lama telah memberikan begitu banyak
kekayaan dan kemudahan kepada para elite politiknya. Begitu juga dengan
Partai Buaya. Jadi untuk amannya, mereka meneriakkan pemberantasan korupsi
hanya sebagai bualan, hanya lelucon. Korupsi akan dibasmi jika tidak
menguntungkan partai. Jika menguntungkan? Jalan terus.
Wajar jika banyak kasus korupsi besar yang dilakukan orang Partai Luwak
atau Partai Buaya lolos dari jerat hukum. Secara kasat mata saja, Midun
menyaksikan begitu banyak mobil dan motor mewah, tekstil, daging sapi,
daging ayam, dan gula pasir selundupan yang ditahan. Banyak penelikung uang
rakyat yang disimpan di bank masih bebas melenggang kangkung di luar
negeri. Namun, mana pengadilan untuk mereka? Sulitkah mencari mereka? Tidak.
Yang sulit adalah bagaimana mengamankan orang-orang itu agar tidak buka
mulut. Jadi petiskan saja, toh rakyat sudah terbiasa menyaksikan kebobrokan
ini sebagai tontotan yang menyenangkan. Sebab, terbukti rakyat juga sudah
suka dan hobi korupsi.
Rakyat tahu dan sadar betul ada pemimpin yang jauh lebih baik dari pemimpin
yang mengelola negaranya saat ini. Kualitasnya 'top'. Tapi, toh rakyat
memilih pemimpin yang terburuk. Mengapa? Karena rakyat juga berkepentingan.
Rakyat tak menghendaki korupsi dihapus, rakyat tak menghendaki dipimpin
dengan aturan hukum yang jelas dan tegas. Rakyat masih mau hidup seperti
masa lalu. Mudah cari uang. Nodong sedikit dengan menjadi tukang parkir,
jadi preman taksi di bandara, menyerobot lahan membuka lapak PKL, atau
menjadi tukang palak dan preman, sudah dapat makan. Gampang bukan?
Dan, bagi pegawai negeri aturan hukum yang jelas hanya akan mengurangi
kesempatan menjadi kaya. Sebab, tanpa aturan jelas mereka bisa menentukan
komisi proyek, uang pelintiran pasal-pasal hukum, atau menerima jasa
sebagai perantara untuk memberikan upeti atau mencari lobi dalam pencalonan
bupati atau kepala daerah.
Semua itu berjalan seperti tanpa hambatan. Kini dua partai besar yang punya
track record buruk bersatu memimpin negaranya. Dua maling besar bersatu
membagi-bagi kue milik rakyat banyak.
Midun tak habis pikir, mengapa rakyat masih tetap bodoh. Tuhan tak akan
mengubah nasib suatu bangsa jika bangsa itu tak mengubah nasibnya sendiri.
Kini rakyat bukan hanya tak mau mengubah nasibnya dengan memilih pemimpin
yang amanah, cerdas, dan sederhana, malah menjebloskan dirinya ke tangan
orang-orang yang salah.
Mudah-mudahan Tuhan memberikan balasan setimpal atas kekeringan hati nurani
bangsanya. Tuhan mendengarkan doa Midun. Lalu, Ia mendatangkan banjir yang
menyapu bersih seluruh kota. Kekotoran itu habis karena sapu Tuhan bersih.
Tuhan sudah empet melihat bangsanya yang tetap saja tak mau mengubah
nasibnya. Untung banjir itu cuma mimpi. Untung tak ada Partai Buaya dan
Partai Luwak. Midun mengusap keringatnya. Di luar rekan-rekan senasibnya
telah menunggunya untuk memulung di belantara Ibu Kota.
----------
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Messenger - Communicate instantly..."Ping" your friends today! Download Messenger Now
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
