ada yg mo konfirmasi... :p
Regards,
M Irvan Maulana
----- Forwarded by M. Irvan Maulana/JKT/BankPermata/ID on 01/11/2005 04:48
PM -----
Obed Togi Michael
To: [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
01/11/2005 04:34 [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
PM [EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL
PROTECTED], Nino Wicaksono/JKT/BankPermata/[EMAIL PROTECTED], M.
Irvan
Maulana/JKT/BankPermata/[EMAIL PROTECTED], Tomi
Yulianto/JKT/BankPermata/[EMAIL
PROTECTED], Andi Wijaya/PLG/BankPermata/[EMAIL PROTECTED],
Guntur
Natalieputra/JKT/BankPermata/[EMAIL PROTECTED], Maria Febrita
Gunawan/JKT/BankPermata/[EMAIL
PROTECTED], Nurmalanita
Wibowo/JKT/BankPermata/[EMAIL
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
cc:
Subject: Catatan Adi (seorang
relawan di Aceh)
----- Forwarded by Obed Togi Michael/JKT/BankPermata/ID on 01/11/2005 04:31
PM -----
Sarlan Sianturi
To: Obed Togi
Michael/JKT/BankPermata/[EMAIL PROTECTED], Rini
01/11/2005 04:30 Octora/JKT/BankPermata/[EMAIL
PROTECTED]
PM cc:
Subject: Catatan Adi (seorang
relawan di Aceh)
Sarlan Sianturi
HR-Corporate University PermataBank
Jl. Setiabudi Selatan I Kav 11 Jakarta Selatan 12920
Telephone (021) 57904860 Ext. 1507
----- Forwarded by Sarlan Sianturi/JKT/BankPermata/ID on 01/11/2005 04:21
PM -----
Nuniek Andini
To: Sarlan
Sianturi/JKT/BankPermata/[EMAIL PROTECTED]
01/11/2005 04:18 cc:
PM Subject: Catatan Adi (seorang
relawan di Aceh)
----- Forwarded by Nuniek Andini/JKT/BankPermata/ID on 01/11/05 04:19 PM
-----
"Dyah Ika"
<[EMAIL PROTECTED] To: "RINTO SIAHAAN"
<[EMAIL PROTECTED]>, "VICTOR"
.com> <[EMAIL PROTECTED]>, "Evi Dyah
Pratitis (GSIM)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Dewi
Sukandi (GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Thio Hong Nie
01/11/05 02:21 PM (DAR)" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Hertian (GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Hengky Irawan
(GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>,
"fini" <[EMAIL PROTECTED]>, "Agustina (GSIM)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Susi
(GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rena (GSIM)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "santi"
<[EMAIL PROTECTED]>, "ROBY" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Shanti Agustina S (DAR)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Yusi Keke (DAR)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "JERRY
(DBP)" <[EMAIL PROTECTED]>, "MB. Retno Kartika Sari
(DAR)" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Luxy Anggraini (GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>, "MAULANA
WIDJAJA (GGPC/JKT)" <[EMAIL
PROTECTED]>, "Simaman Ayuwina (GSK)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "IDA BONE
(GGPC/JKT)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Ellie Sukawati
(GGPC/JKT)" <[EMAIL
PROTECTED]>, "herrytan" <[EMAIL PROTECTED]>, "Rosnah (GGPC/JKT)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Tatiana
Indriasti (GGPC/JKT)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Setyo
(DAIP)" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Halim (DAR)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Harianto
(GSIM)" <[EMAIL PROTECTED]>,
"SUILYANA OCTAVIA SEWUCIPTO"
<[EMAIL PROTECTED]>, "NUNIEK
ANDINI" <[EMAIL PROTECTED]>, "DESI
DWIPUSPASARI" <[EMAIL
PROTECTED]>, "DESSY NOVITA LENGKEY" <[EMAIL PROTECTED]>,
"GUIDO SAPTO HASCARYO" <[EMAIL
PROTECTED]>, "ADITYA AMANUYASA" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Andreas Didi Rengkuan
(GSIM/AGRO)" <[EMAIL PROTECTED]>, "Benny Setiawan (GSIM)"
<[EMAIL PROTECTED]>, "DANIEL
HENDRANINGRAT" <[EMAIL PROTECTED]>, "Boedihasta
Sarjono (GSIM)" <[EMAIL
PROTECTED]>, "CHRISTIAN"
<[EMAIL PROTECTED]>, "YULIANTO"
<[EMAIL PROTECTED]>, "ONE JONNY"
<[EMAIL PROTECTED]>, "ANTONIUS
BAMBANG" <[EMAIL PROTECTED]>, "MITA"
<[EMAIL PROTECTED]>, "SISWANTO"
<[EMAIL PROTECTED]>, "DWI YANNY LUKITANINGSIH"
<[EMAIL PROTECTED]>, "Alim"
<[EMAIL PROTECTED]>
cc:
Subject: Catatan Adi (seorang
relawan di Aceh)
Dear all,
Saya mau share�email tentang catatan seorang relawan di Aceh.�Semoga bisa
membantu untuk bisa "merasakan" keadaan di Aceh dengan lebih dekat
lagi....
Rgrds,
Message: 7
�� Date: Sun, 9 Jan 2005 20:16:33 -0800 (PST)
�� From: margaretha L <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: 1.�� Celana Ini Sudah Kupakai Enam Hari...
Di bawah ini adalah surat-surat dari, Adi, sepupuku, yang berhasil
kuhimpun sejak dia merelakan dirinya berangkat ke Aceh sebagai relawan,
sejak tanggal 27 desember yang lalu..(Adi adalah seorang dokter muda dan
sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya)
_________________________________________
1. Celana Ini Sudah Kupakai Enam Hari
aku juga tidak tahu kenapa aku tiba2 ada disini. Semuanya berjalan seperti
sudah ada yang mengatur..
Pertamakali kudengar ada musibah ialah ketika teman lama, teman
seperjuangan yang kini tinggal di Medan menelponku. Memang aku sudah
dengar dari radio dan melihat dari televisi ada gempa kuat di Sumatra
Utara, tapi teman tadi memberitakan bahwa keadaan memang parah dan
kelihatannya mereka membutuhkan bantuan. Kala itu tanggal 26 sore...Kami
berinisiatif mengontak teman2 lain yang masih dapat dihubungi, dan
ternyata sebagian besar dari mereka juga berpikiran sama dan memang siap
berangkat.
Kami berangkat segera dengan bekal seadanya, apa yang bisa kami bawa ya
kami bawa. Aku dan beberapa kawan menempuh perjalanan dengan bis dan
sampai di Banda Aceh tgl 27 sore. Keadaan sungguh mencengangkan dan sangat
menyayat hati. Kami memberikan bantuan sebisanya, dan mulanya tidak tahu
harus mulai dari mana. Akhirnya aku digabung dengan pasukan TNI dan
ditugaskan ke Arongan(? sampai tidak kepikir dimana batas kotanya, hampir
semua rata dengan tanah), kira2 di Aceh Barat beberapa km dr Meulaboh.Aku
dan beberapa relawan lainnya diangkut dengan helikopter karena jalan darat
sangat tidak memungkinkan. Sesudah turun dari helikopter juga masih harus
berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya. Keadaan yang tragis, dan sungguh
memilukan. aku ditempatkan di Posko, merawat orang yang luka2, dan juga
siang hari ikut evakuasi mayat-mayat. Aku menemukan seorang mayat ibu yang
masih menggendong anaknya, tertutup lumpur, dan juga beberapa kali
menurunkan mayat seseorang yang tersangkut di pohon.
Juga ketika mendapat bantuan buldozer, kami mendapati, di bawah mobil yang
tertutup onggokan kayu ada seorang ibu dan anaknya, kira-kira 3 tahun
umurnya, masih hidup, sedang seorang anaknya lagi yang berusia sekitar 5
tahun, telah meninggal dengan kaki yang patah.. Sedih sekali
menyaksikannya..
Tanggal 31 Desember, ketika malam Tahun Baru, aku berhasil mengontak
kamu,mbak, duh senangnya.. aku agak lega karena bisa membagi cerita sedih
yang ada disini. Selama 3 hari lebih aku tidak mandi, dan makan juga
seadanya, hanya sedikit roti kering . Seperti kuceritakan di sms, bantuan
sangat minim, dan terlambat.Keadaan kacau balau. Di Posko masih lumayan,
bisa charge HP sebentar2, karena ada generator kecil. Tapi malam sangat
dingin,dan sangat gelap, kukira bantuan selimut sangat dibutuhkan karena
umumnya mereka tidur di alam terbuka. Semalaman selalu terdengar anak-anak
kecil menangis karena kolik, dan orang-orangtua menangis dan meratapi
nasib dan sanak saudaranya yang hilang. Banyak nyamuk, kurang air bersih,
sehingga ditakutkan wabah segera menyerang. Obat2an sangat penting, juga
peralatan medis yang pokok, seperti infus. Masker,yang biasa sudah tidak
mempan lagi, karena bau mayat yang beribu2 sudah sangat menyengat. Selamat
tahun Baru!
Sabtu,tgl 1Januari
�Tiap hari mengevakuasi mayat2. Hari ini menyusul 1800 orang meninggal.
Sebagian dikuburkan masal, sebagian lainnya belum. Jumlah Posko ada
beberapa, dan pengungsi juga banyak, ratusan, bahkan ribuan orang yang
kelaparan. Banyak diantara mereka anak-anak juga. Melihat mereka, hatiku
seperti diiris-iris.Tapi hari ini mulai membaik, meski masih makan mie.
Aku siang tadi sedang menurunkan logistik, waktu Mbak telpon.Obat2an
sangat sedikit, butuh kaos tangan,masker, alat2 kedokteran, karbol,
selimut, tikar. Relawan sangat sedikit jumlahnya dibanding pekerjaan yang
harus dilakukan. Hari ini sudah datang beberapa orang suster dari
Palembang dan beberapa relawan dari Jogja.Tapi banyak dari yang selamat
mempergunakan kesempatan. Untuk membantu mengambil mayat saja, mereka
memaksa minta uang. Memang, perut lapar..
Minggu,2 Jan.
�Banyak relawan perempuan terutama, pingsan, tidak tahan melihat semuanya.
Memang, butuh ketahanan fisik dan mental yang luar biasa untuk membantu
mereka disini. Kita harus membantu, bukannya malah menjadi beban, bukan?
Tapi kuakui,beban mental sangatlah besar, menyaksikan mereka semua yang
hidup sudah setengah gila,dan keadaan sekitar yang hampir2 rata dengan
tanah,berlapis lumpur dan dimana-mana genangan air. Belum lagi kalau malam
tiba, keadaan sangat gelap , dan yang kedengaran hanya ratapan dan
tangisan. Bajuku sudah tidak layak pakai, celana belum ganti sejak hari
pertama, dan baju juga dapet ambil dari bantuan baju bekas yang
datang.Kalau malam aku suka berjalan2 sendiri, menjauh dari Posko, biar
sejenak tidak mendengar ratapan dan tangisan mereka. Ini ada tentara yang
memberi aku sebatang rokok....
�Hari ini evakuasi mayat-mayat di daerah Lhok Nga, juga dekat pasar.
Napasku agak sesak karena baunya menyengat sekali ditambah hujan gerimis
yang membuat mayat-mayat cepat
busuk.
Mbak, menyedihkan.. Mayat-mayat bertumpuk-tumpuk, sudah tidak keruan
bentuknya, dan jika diangkat sudah terlepas bagian2 tubuhnya...Dan
tahukah,hari ini ada 2 orang ibu yang melahirkan. Ya, aku tadi menolong
persalinan dua orang ibu, dibantu suster. Pengalaman pertamakali,(dulu
hanya dapat teori sbg pelajaran dasar kedokteran) aku membantu dan
berlangsung secara otomatis saja. Yang mengharukan, kedua bayi perempuan
itu lahir dengan selamat, dan kedua ibu itu menamai bayi mereka dengan
nama Babtisku. Josephina (Nama Babtisku Joseph)....Aku sangat terharu.
Waktu tadi mengevakuasi mayat di sebuah gereja yang sudah sangat hancur,
kami menemukan sesosok mayat yang masih memegang rosarionya. Tanpa sadar
kuraba kantong celanaku,oh, rosarioku masih ada. Itu rosario
pemberianmu,dan tidak sengaja terbawa, dan sekarang menjadi sumber
pengharapan dan kekuatanku..
Message: 16
�� Date: Sun, 9 Jan 2005 20:17:05 -0800 (PST)
�� From: margaretha L <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: 2. Rinduku Menetes Sebanyak Tetes Gerimis..
boleh saya sampaikan surat-surat susulan dari Adi, sepupu saya yang sedang
di Aceh sampai hari ini ( sambungan dari "celana ini sudah...."). Biarpun
sinyal Pro-xl mati hidup, kami berusaha untuk tetap melakukan kontak...
___________________________________________________
2. Rinduku Menetes Sebanyak Tetes Gerimis
Senin, 3 Januari 2005
Hari ini lumayan dapat sarapan bubur sebelum berangkat. Bantuan Logistik
sudah mulai memadai. Kami hari ini harus mengevakuasi mayat-mayat di dekat
bekas alur sungai, seharian naik perahu karet, capek sekali, hanya dapat
152, dan jenasahnya langsung dikuburkan. Tidak terbayangkan beratnya
mengangkat mayat satu-persatu. Pakaian kotor semua, kena lumpur dan
mayat-mayat. Jika tidak ingat akan kesehatanku sendiri, aku sudah tidak
hendak makan! Di LHok Nga, semua rata dengan tanah, seperti tidak ada
kehidupan lagi, dimana-mana genangan air dan sejauh mata memandang
warnanya kelabu, hitam, karena berselimut lumpur. Mayat-mayat dilempar ke
dalam truk, ada puluhan, lalu ditumpahkan begitu saja, dan ditimbun. Tidak
peduli siapa dia sebelumnya. Hanya bangkai. Rasanya, disini manusia sudah
tidak ada harganya. Kemanakah AKU?
�Banyak relawan yang jatuh sakit, terutama karena tekanan mental. Malam
ini tidak ada sinyal rupanya, dan aku jalan-jalan sendiri malam-malam,
menjauh dari posko. Aku sedikit kangen rumah, dan tanpa sadar meraba
rosarioku. Ingat sekilas,di suatu senja saat ziarah ke sebuah Gua Maria,
aku menyalakan sebatang lilin. Terang sekali nyalanya di malam yang gelap.
Seperti saat ini, aku ingin memandang nyala lilin dan berlutut di depan
Gua Maria. Sepotong senja dengan nyala lilin yang terang, kukira sekarang
itu yang didambakan rakyat Aceh...menjaga lilin agar tetap menyala..
Oh, batere hampir habis...! Sulit untuk charge HP, karena semua terpakai,
dan kami harus hemat BBM. Jadi gantian tidak bisa lama-lama.
Selasa, 4 Januari 2005
Pagi ini mau briefing, sudah sarapan mie, dan hanya bisa cuci muka saja.
Dan masih ngantuk, karena semalam jaga terus. Kami standby 24 jam. Tidak
jarang tengah malam ada yang teriak-teriak, atau merintih kesakitan.
Semalaman selalu terdengar tangisan bersusulan tiada henti. Pagi ini kami
harus memberikan imunisasi ke Bireun dan Sigli, karena beberapa orang
sudah mulai terkena wabah, diare dan infeksi saluran pernafasan. Tim
evakuasi masih meneruskan pencarian jenasah di sekitar Lhok Nga,karena
masih banyak mayat, terutama di sungai-sungai dan reruntuhan.
Obat-obatan dan tenaga medis sangat terbatas..
aku berangkat dengan Heli yang hanya satu itu, jadi ada relawan lainnya
yang harus berangkat dengan team evakuasi jenasah.
Lamanya waktu untuk merehabilitasi Aceh hampir sama dengan waktu
penyembuhan mereka yang mengalami depresi pasca bencana, ada yang
sepanjang hari berteriak dan menangis. ketakutan makin bertambah karena
adanya isu kalau anak-anak mereka akan diculik atau diambil untuk
diadopsi..
Siang ini aku sudah jalan ke daerah Aceh Jaya.� Kalau ada pembagian,
makanan dan baju, selalu rebutan, bahkan bertengkar, mereka menderita
depresi berat... Di Posko, satu persatu meninggal. Kemarin ada yang
meninggal karena serangan jantung. Disini, ribuan orang berjalan kaki mau
menuju ke Aceh Besar.Ada yang sudah 2 hari 2 malam berjalan kaki tanpa
makan dan minum, di atas jalan setapak yang licin dan becek. Malam gelap
dan tanpa bekal apa-apa,anak-anak menangis.
Ini pinjam handset teman untuk mengabarimu, mbak. Batereku habis. Sekarang
jam 19.30 malam, baru mau pulang ke Posko. Tadi sore ada 3 orang meninggal
karena trauma peradangan dan diare, dan satu meninggal karena gegar otak
berat. Sedih juga, aku sudah semampuku... . 22.00. Baru sampai di Posko.
Tadi di jalan ada hambatan dari GAM. Terjadi kontak senjata tapi semua
baik-baik saja. Kemarein, beberapa tempat di jalan protokol juga terjadi
penjarahan. Banyak orang mencari pakaian bekas. Tapi semua terkendali.
Hari ini ada air, meski jatah untuk mandi sangat-sangat terbatas.
Peralatan mandiku masih cukup, tapi harus bongkar baju bekas dulu.
Boleh,kan? Siapa tahu, itu barang yang kamu sortir dr Jakarta? Kali ini
ada sop...�� Malam ini kututup dengan doa rosario. Terimakasih,mbak, Tuhan
beserta kita, dahulu, sekarang dan selamanya. Ingatlah bila hari hujan,
rinduku, rindu rakyat Aceh pada alam yang indah menetes sebanyak tetes
gerimis......
Message: 11
�� Date: Sun, 9 Jan 2005 20:17:31 -0800 (PST)
�� From: margaretha L <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: 3. The Day After
Sepuluh hari sudah terlewati sejak murkanya sang samudra. Tapi Adi masih
saja setia menuliskan tiap-tiap riak yang menyapu pantai hatinya melalui
sisa-sisa baterai HP-nya..
__________________________________________________
3.� The Day After
Rabu,5Januari
Pagi ini mendung.Tapi sudah tidak ada lagi jenasah yang berserakan di
jalanan. Sebagian besar sudah ditimbun dalam kubangan-kubangan besar.
Kemarin, 9 relawan dari kelompokku tidak pulang ke posko karena gantian
jaga di poliklinik. Hari ini aku dan beberapa lainnya bertugas
menggantikan mereka. Sudah ada beberapa kawan relawan yang jatuh sakit,
karena terlalu lelah. Ada juga yang relawan yang stress, beberapa hari
tidak mau makan, dan setiap kali dipaksakan, selalu dimuntahkan kembali.
...Ya, kami sudah sepuluh hari di sini...., dan kamu mungkin sulit
mengenaliku jika kita nanti bertemu, mbak. Hampir seperti pengungsi, jika
aku tidak mengenakan baju dokter yang sudah lusuh itu.
Ada kopi dan mie,harus cukup mengganjal perut sampai lepas tengah hari
nanti. Sekarang sedang menunggu truk dan heli, yang akan mengangkut kami
ke pos-pos pengungsian yang tersebar di beberapa titik. Team evakuasi
masih akan menyisir mayat-mayat di sepanjang pertokoan.
Tenaga relawan medis masih kurang,mengapa kamu mengatakan terlihat banyak
tenaga medis dari negara lain? Mungkin belum sampai ke sini... Kami
sekarang sedang kerja keras menyelamatkan mereka yang masih hidup, dan yang
bertahan hidup dalam penderitaan akibat trauma, fisik dan batin. Gegar
otak, infeksi saluran pernapasan,diare dan muntah, demam tinggi hingga
kejang, sakit kulit, luka menganga terinfeksi hingga paru-paru yang
kemasukan lumpur... Tak ada air, tak cukup apa-apa. Mbak, baru kusadari,
begini rapuhnya manusia. Aku harus memalingkan muka setiap kali aku
menyaksikan mereka satu-persatu pergi, diiringi tatapan kosong atau
tangisan memilukan...
Dari jam 12 siang sampai sekarang (15.12) orang masih antri untuk sesuap
nasi. Ribuan orang merasa putus harapan, dan akal sehat hanya sampai pada
berebut pakaian dan makanan. Banyak yang tidur di alam terbuka, dan mereka
sangat butuh selimut. Banyak juga yang akan pergi mengungsi ke Aceh Besar.
Aku bertemu dengan seorang Camat dari Kreung Sabee, menurutnya, warganya
sekarang hanya tinggal sekitar 20.000-an dari 75.000. Hancur, habis.
Memberikan semangat kepada mereka rasanya seperti sedang berorasi untuk
berdemo : "Hidup harus terus berlanjut apapun yang terjadi !". Ternyata
lumayan ampuh ! Mungkin juga karena mulai musim hujan, sebagian ada yang
mulai berbenah dan mendirikan bangunan, meskipun hanya sekedar untuk
berteduh dan dan beristirahat di malam hari. Menjelang senja aku sampai di
Aceh Jaya, kota bandar yang sekarang rata dengan tanah, menyisakan luka
dan air mata...
Kamis, 6 Januari 2005
Selamat pagi! Bagaimana kabarmu, Mbak? Semalam aku tidak bisa tidur,
banyak sekali nyamuk dan hujan gerimis. Kepalaku pusing dan aku mulai
demam. Sejujurnya, disini tidak ada selera makan. Tapi pikiran harus
dihilangkan, dan tetap harus makan. Kalau tidak dipaksakan maka tidak akan
bisa makan. Aku ada di Klinik Posko saja, memberi imunisasi dan pengobatan
pada pengungsi. Team medis yang lain ada yang ikut evakuasi ke daerah
pertokoan lagi. ( kemarin dapat 200 jenasah). Kepalaku agak berat.
Untungnya ada beberapa relawan datang membantu, kalau tidak salah
suster-suster dari ordo Ursulin.
Hari ini panjang sekali. Tengah malam selalu saja ada yang menangis
histeris dan bicara sendiri. Setiap saat anak-anak menangis dan menjerit.
Semakin hari semakin banyak orang yang mengoceh sendiri sambil
menyebut-nyebut "laut" atau nama-nama anggota keluarganya. Seperti
dugaanku, banyak orang mulai hilang ingatan. Mereka mengalami luka batin,
penyembuhan traumanya bisa sangat lama, tidak hanya fisik tapi juga psikis.
Mungkin harus dibangun semacam "Trauma Center" atau "Therapy Center".
Terbayangkankah olehmu, Mbak, bagaimana ribuan orang yang putus harapan
harus hidup? Miskin papa, tidak ada tempat labuhan hati. Habis sudah
semuanya. Di mata mereka hanya tersisa genangan air...Dan sebentar lagi
musim hujan akan datang. Tidak ada tempat berteduh yang layak, tanaman tak
tumbuh, dingin. Bongkahan tulang belulang mulai melebur dengan tanah.
Meresap ke dalam air, dan mereka mengambilnya untuk mandi, mencuci dan
minum. Seakan akan mereka ingin menyatukan diri, hampir tak ada bedanya
mati dan hidup.
The Day After.
...Malam ini hujan mendaraskan airnya, dan jatuh bersusulan ke tanah.
Ditangkap pada tangan-tangan hampa yang meleleh di sela kerutan wajah...
Menangis...., karena badai telah membawanya pergi....
Selamat malam, Mbak, aku sudah minum obat...
Message: 12
�� Date: Sun, 9 Jan 2005 20:18:01 -0800 (PST)
�� From: margaretha L <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: 4.....yang Terakhir....
4. .. yang Terakhir...
____________________________________________________
Jumat, 7 Januari 2005
Hari di sini dimulai sejak tengah malam. Dua orang pasienku baru saja
meninggal dunia, karena trauma organ bagian dalamnya.Padahal akan dibawa
ke rumah sakit Medan malam ini juga.Sesak napas, karena lumpur di
paru-parunya. Sedih sekali, yang seorang masih anak-anak, dan tak punya
siapa-siapa. Aku dan teman-teman sudah berusaha, ...tapi akhirnya meninggal
juga. Ya, anak-anak dan orang lanjut usia paling rentan terhadap penyakit.
Apalagi kalau ada yang kritis, harus selalu dijaga, karena keadaan drop
bisa terjadi setiap saat. Aku baru selesai memasang selang pernapasan bagi
seorang bayi berumur sekitar 11 bulan. Bayi ini masih dalam keadaan
kritis. Bersama dengan ibunya yang telah meninggal, ia ditemukan telah
terperangkap beberapa hari diantara reruntuhan rumahnya. Bayi ini lucu
sekali, tangannya......menggenggam jariku, seakan ingin berkata padaku :
"Tolong, jangan tinggalkan aku....." Biarpun anak-anak bermain dan
tertawa-tawa, sinar mata mereka memancarkan ketakutan, kesedihan dan
schock yang mengguncangkan pikirannya. Sekarang aku sedang membagikan
obat-obatan yang harus diminum dan mengganti perban. Lalu menyuntik
sebagian orang dengan serum anti tetanus untuk luka-lukanya. Seorang anak
membutuhkan perhatian lebih, karena tengkorak kepalanya hampir lepas
terhantam kayu, sedang satu rusuknya dan tulang kakinya patah, dan dia tak
punya siapa-siapa lagi.
Aku tidak apa-apa, Mbak, semalam ada teh hangat dan biskuit.Demam sudah
turun,dan ibu telepon karena mengkhawatirkanku. Ya, aku harus semangat dan
tidak boleh sakit. Pagi ini juga dapat ransum susu dan sereal. Sekarang
aku akan antri untuk mandi, karena mandi terakhir sudah dua hari yang
lalu. Air bersih masih sulit didapat dan sangat terbatas. Aku beruntung,
mendapat baju ganti yang bersih dan sekotak pakaian dalam, isinya tiga
lembar..
Ada tugas baru, relawan yang sehat diminta untuk ikut pergi ke daerah
pedalaman. Ada beberapa daerah yang masih sulit dijangkau karena jalan
darat terputus sama sekali. Jadi aku bersiap-siap untuk pergi ke desa
Woyla dan Cot Sukon ( sekarang ada di Arongan). Sambil menunggu team, aku
teringat kalau hari ini adalah Jumat pertama. Biasanya aku selalu datang
ke kapel di dekat rumah. Sejenak aku teringat pulang. O ya awal Januari
ini ada ujian. Tapi tak apa, disini aku juga banyak belajar, belajar
bertahan hidup, belajar memahami arti hidup, dan terutama belajar bahwa
Tuhan sungguh hidup dan berada di atas segala-galanya. Mbak, jika sore ini
ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka...
Kami berangkat. 16.17
Berjalan kaki dan menyeberangi sungai dengan rakit. Berjalan kaki lagi.
Jalan disini sulit sekali, kakiku masuk ke lumpur hampir sampai ke lutut.
Aku mengenakan mantel dan jaket yang dibagikan tentara, juga dengan sepatu
boot tinggi. Perlengkapan sudah lebih baik, karena ada bantuan dari luar
negeri. Peralatan dari Jepang sangat canggih, dan tentara AS sangat
terlatih untuk SAR. Team kami sebenarnya digabung dengan beberapa relawan
dari Jepang dan AS, tapi mereka hanya jaga di posko, tidak ikut masuk ke
pedalaman, katanya karena takut dengan GAM! Beberapa kali memang kami
dihadang oleh GAM di tengah-tengah perjalanan, tapi tidak ada ansiden yang
berarti.
_____________________________________________________
......Berita dari Adi hanya sampai disini, tak ada sms lagi. Telepon
genggamnya tak bisa dihubungi, sms tidak pernah sampai. Tapi aku masih
menunggunya, dengan was-was, sambil terus berusaha. Semoga surat-surat Adi
masih terus berlanjut, seperti semangatnya...Semoga...
Dan sekalipun surat-suratnya tak datang lagi, mungkin akan masih banyak
Adi-Adi lain yang sekarang tergugah dan akan meneruskan tugas ini. Tugas
berat dan perjalanan panjang yang jauh. Aku teringat dia pernah berkata, "
Hidupmu adalah milikmu, dan kamu yang berhak mengisinya sehingga berkenan
kepada Tuhan".
Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di
Gereja,misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa
bagi mereka yang telah menjadi bagian dari
hatinya selama tigabelas hari terakhir ini. Dan aku menyalakan sebatang
lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar
kering yang aku persembahkan..
...Tuhan, terimakasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia
di luar diriku;alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku;
hati,pikiran, dan perasaan,
Untuk kebutuhan dan rasa aman,
untuk kebahagiaan dan penderitaan,
untuk keindahan alam dan bencana alam,
untuk kelahiran dan kematian,
untuk terangnya siang dan gelapnya malam,
untuk mereka yang menyukaiku dan yang membenciku,
untuk tantangan yang menghadang
dan untuk keberhasilan dan kegagalan.
Terimakasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini,
terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman
itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Sekalipun demikian, aku ingin selalu berusaha memahami setiap rencanaMu
dalam diriku, setiap orang yang aku sayangi, semua umat manusia, dan
segala penciptaan di dunia ini.
Aku adalah milikMu dan segala milikku adalah kepunyaanMu.
Kemuliaan kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan,
sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad, ...amin.
dengan ingatan akan Adi,
-marge-,8 Januari 2005
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Give underprivileged students the materials they need to learn.
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/LZzaMD/_WnJAA/HwKMAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/