Klo kita mo makan daging ayam, harus waspada terhadap Virus Flu 
burung
Klo kita mo makan sayuran, ancaman akumulasi pestisida juga jadi 
pertimbangan
Klo kita mo makan ikan, tahu; bahaya formalin jadi ancaman
Lalu haruskah kita makan sesama kita?berubah menjadi kanibal2, 
duplikat, triplikat,...kat,...katnya Sumanto?
Mungkin Sumanto telah lebih dulu menemukan alternatif bahan pangan 
yang menurutnya "aman"?
What's wrong with us?


Best


Wahyu Purwaningsih
-just an ordinary girl-


--- In [email protected], "Noverto Aji Prasetyo" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
>  <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-
com:office:office" />
> 
> Liputan6.com, Jakarta: Kepulan asap putih dari nasi pulen yang 
masih panas tentu membuat perut yang keroncongan semakin berontak. 
Apalagi ditambah sambal terasi, lalapan, dan ikan asin. Niscaya, 
porsi satu piring cepat tandas. Tapi di balik kenikmatan ini nyawa 
dipertaruhkan.
> 
> Jangan terkecoh dengan penampilan ikan segar dan baru turun dari 
kapal yang baru pulang melaut. Kuat dugaan, ikan-ikan mulai 
tersentuh formalin sejak dari dalam kapal. Di dalam palka 
penampungan ikan, nelayan mencampuri ikan hasil tangkapan dengan 
cairan bernama lain formaldehid itu untuk menekan penggunaan es batu 
agar lebih murah.
> 
> Penelitian di laboratorium menunjukkan hasil positif untuk hampir 
seluruh produk ikan asin dari Teluk Jakarta. Dalam ikan asin kecil 
seperti jambal dan cumi-cumi, untuk 10 gramnya terdapat lebih dari 
1,5 ppm (part per million atau satu per sejuta) formalin.
> 
> Menurut Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Balai Pengujian Mutu 
Hasil Perikanan Jakarta Devi Lydia, ikan yang mengandung cairan 
pengawet mayat bisa langsung diketahui. "Keras sekali. Karena di 
luar kering tapi di dalam tetap basah," kata Lydia, baru-baru ini.
> 
> Formalin diduga digunakan oleh nelayan Indonesia sejak dua tahun 
silam. Cairan yang mengandung metanol ini memang biasa dipakai 
nelayan untuk menjaga bobot ikan asin. Pembuatan tanpa formalin akan 
mengurangi bobot ikan asin hingga 60 persen. Sedangkan dengan 
menggunakan larutan bening itu, bobot yang berkurang akibat 
pengeringan hanya sekitar 30 persen.
> 
> Pembuat ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengaku 
produksi menjadi lebih efisien jika menggunakan formalin. Bila hanya 
menggunakan garam saja, pengeringan bisa dilakukan selama sepekan. 
Jika menggunakan cairan pembasmi bakteri tersebut, dalam satu atau 
dua hari saja ikan asin siap dijual.
> 
> Penggunaan formalin pada ikan memang tak segencar sebelumnya. Ini 
menyusul edaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 
722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan 
dalam pangan.
> 
> Padahal berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan 
Indonesia tahun silam, penggunaan formalin pada ikan dan hasil laut 
menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. 
Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan 
bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.
> 
> Tapi tetap saja masih banyak nelayan yang bengal. Menurut Kepala 
Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan 
Jakarta Redjani Kartoatmodjo, pihaknya memang masih menemukan 
penggunaan formalin pada pembuatan ikan asin. Pernyataan Redjani 
diamini Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jakarta 
Riyadi. "Sebagian teman-teman nelayan masih menggunakan bahan 
kimia," kata Redjani.
> 
> Di antara nelayan yang mulai meninggalkan penggunaan formalin 
adalah yang berada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tapi 
akibatnya selain keuntungan berkurang, ikan asin buatan mereka 
diganggu bakteri, serangga dan belatung. Terutama saat musim hujan. 
Ujung-ujungnya, mereka menggunakan insektisida yang disemprotkan 
langsung ke ikan asin. "Biasanya langsung disemprot pake Baygon 
aja," kata seorang nelayan yang enggan disebut namanya.
> 
> Penggunaan insektisida dan formalin pada hasil laut diakui Kepala 
Dinas Perikanan Jawa Barat Darsono. Penggunaan formalin menurut 
Darsono, karena harga bahan pengawet ini relatif murah. "Penggunaan 
formalin masih banyak ditemukan di antaranya di Bandung kota dan 
sekitarnya," tutur Darsono.
> 
> Sebenarnya sudah ada produk pengawet ikan yang sudah direstui 
penggunaannya. Yaitu minatrid. Namun karena alasan masih baru dan 
kesulitan untuk mencari bahan pengawet ini, formalin masih 
merajalela. Padahal asupan formalin dalam tubuh yang berlangsung 
menahun dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, 
gangguan pada ginjal dan hati, sistem reproduksi dan kanker. 
Gangguan yang ringan adalah rasa terbakar pada tenggorokan dan sakit 
kepala.
> 
> Selain ikan asin, kerang juga tak luput dari penggunaan zat kimia 
berbahaya bagi tubuh. Pengolah kerang menggunakan bahan pewarna 
Rhodamine B yang seharusnya untuk pakaian atau biasa disebut wantek. 
Tujuannya untuk membuat kerang yang telah dikupas agar tak terlihat 
pucat. Zat kimia ini akan menumpuk pada tubuh dan pada gilirannya 
juga meracuni organ dalam, terutama ginjal dan hati.
> 
> Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang 
biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara 
granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. 
Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian 
dikupas dari kulitnya.
> 
> Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk 
diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan 
pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia 
beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari 
kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong 
penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.
> 
> Zat kimia mulai campur tangan ketika datang es batu untuk 
pengawetan. Setelah es siap, petani kerang kemudian membuat 
larutan "ajaib". Satu tong kecil air ditaburi wantek berwarna 
oranye. Sekitar 15 menit kemudian kerang terlihat lebih segar. 
Kerang yang telah didandani ini kemudian dimasukkan tong untuk 
dijual. Tapi sebelumnya, kerang ditaburi tawas yang biasanya 
digunakan untuk menjernihkan air. Alasannya, agar menjadi lebih 
kenyal dan bisa disimpan selama satu hari satu malam sebelum dikirim 
ke pelelangan ikan.
> 
> Kembali ke Pelabuhan Ratu, di daerah ini nelayan setempat juga 
memakai zat pewarna dari golongan Rhodamin B. Mereka biasanya 
memakai pewarna tekstil berwarna merah untuk membuat terasi. 
Berbahayanya zat kimia ini pada tubuh bisa terlihat dari alat 
pembuat terasi yang berwarna merah kendati setelah dibasuh air.
> 
> Baik dalam pewarnaan kerang maupun terasi, semua pembuatnya 
mengaku menggunakan bahan kimia pewarna kue. Sungguh tidak logis. 
Karena pewarna kue harganya rata-rata Rp 10 ribu untuk 10 cc. 
Sementara wantek dibanderol Rp 5-10 ribu per kilogram. Sedangkan 
untuk mewarnai kerang atau terasi per 100 kg, diperlukan satu hingga 
dua kilogram pewarna.
> 
> Alasan ekonomi memang menjadi pangkal dari penyalahgunaan zat 
kimia berbahaya bagi tubuh dalam penganan. Padahal pangan yang aman, 
bermutu dan bergizi adalah hak setiap orang. Tapi sepertinya 
penganan ideal ini hanya sebatas impian. Apalagi untuk makanan yang 
nikmat tapi murah.(YAN/Tim Sigi)
> 
>  
> 
>  
> 
> Noverto Aji Praseto 
> Sales and Distribution Key User
> 
> PT Frisian Flag Indonesia
> Jl. Raya Bogor Km. 5 Pasar Rebo
> Jakarta 13760
>






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give at-risk students the materials they need to succeed at DonorsChoose.org!
http://us.click.yahoo.com/iEagnA/LpQLAA/HwKMAA/4tWolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke