|
Buat
nambah pengetahuan, semoga bermanfaat.
Cheers
@ji
3
MANFAAT SUKA MENJATUH-JATUHKAN BENDA Tiap
batita akan melalui fase hobi menjatuh-jatuhkan benda. Mengapa batita suka
sekali pada aktivitas ini? Sensasi apa, sih, yang dirasakannya saat melihat
benda yang dipegangnya jatuh? Sampai pegal rasanya menemani Reno
bermain. Maklum, si kecil yang baru saja menginjak usia 1 tahun ini lagi
suka-sukanya menjatuhkan barang apa pun yang dipegangnya. Setelah diambilkan,
benda tersebut akan dijatuhkannya lagi, begitu terus sampai yang menemaninya
bermain bosan karena berulang kali harus membungkuk mengambilkan benda yang ia
jatuhkan. "Tiap batita akan
mengalami fase ini, walaupun waktu mulainya tidak harus persis sama. Tapi yang
jelas tahapan ini akan dilalui di usia batita awal," ujar Vera Itabiliana, Psi., dari Yayasan Pembina
Pendidikan Adik Irma, Jakarta. Meski tiap anak batita pasti melewati tahap ini,
tapi durasinya bisa berbeda-beda pada tiap anak. "Ada yang melaluinya dalam
jangka waktu sebentar saja, tapi ada juga yang sedikit lebih
lama."
Yang justru perlu
diwaspadai adalah bila sampai berusia 1 tahun, kemampuan menggenggam sebagai
awal fase menjatuhkan belum terlihat berkembang. "Untuk melatihnya, berikan anak
benda-benda yang menarik untuk diraih dan digenggam sebagai sarana latihannya,"
saran Vera. Selain itu orang tua juga bisa memberikan contoh bagaimana
menggenggam dan kemudian menjatuhkan benda tersebut agar anak bisa merasakan
sensasi yang didapat. EKSPLORASI
INDRA Sensasi apa
sebenarnya yang dirasakan batita saat menjatuh-jatuhkan barang? "Yang paling
menarik buat anak adalah suara yang ditimbulkan benda jatuh tersebut," tutur
Vera. Bisa suara gemerincing mainan, kaleng, atau bahkan suara barang
pecah.
Di usia ini indra
anak sedang dalam tahap eksplorasi besar-besaran. Saat melakukan aktivitas
tersebut, anak akan menemukan fenomena yang menarik. Di antaranya indra
pendengaran akan menangkap bunyi benda jatuh. BANYAK
MANFAAT Karena dilakukan
terus-menerus, sering kali orang dewasa yang menemani si batita bermain jadi
bosan karena harus bolak-balik mengambilkan benda yang dijatuhkannya. "Padahal
banyak sekali manfaat yang bisa didapat anak saat melakukan kegiatan tersebut.
Lewat fase ini sebenarnya anak melatih keterampilan tangannya. Anak belajar
mengkoordinasikan dan mengarahkan gerakan tangannya untuk tujuan tertentu,"
papar Vera. Fase ini biasanya mengikuti fase belajar menggenggam lalu disusul
dengan keterampilan melempar-lempar bola. Selain keterampilan
tangan, ada 3 kemampuan lain yang sedang dikembangkan batita melalui fase ini,
yaitu:
o
Mengembangkan
persepsi tentang ruang. Di sini anak mulai
mengenali posisi atas dan bawah meski mereka belum punya kemampuan berbahasa
untuk memberikan label mana atas dan mana bawah. o
Belajar
hubungan sebab akibat. Anak belajar bahwa
sesuatu yang ia lakukan dapat menyebabkan sesuatu kejadian yang menyenangkan,
seperti bunyi jatuh, perilaku "lucu" ayah atau ibu ketika mengambilkan benda
yang jatuh dan sebagainya. Karena kegiatan ini menyenangkannya, ia akan
cenderung melakukannya berulang-ulang. o
Mengembangkan
kemampuan merencanakan dan menentukan tujuan. Pertama kali
menjatuhkan benda mungkin tidak disengaja. Namun setelah mendengar dan melihat
reaksi yang dihasilkan dari benda-benda yang jatuh, anak akan merasakan sensasi
dan kemudian mengulanginya. Selanjutnya tindakan menjatuhkan benda menjadi
tindakan yang sengaja dilakukannya. Ini dapat diartikan, anak sudah
mengembangkan kemampuan berpikir dan merencanakan melakukan sesuatu demi tujuan
tertentu. Dalam hal ini adalah mendapatkan sensasi bunyi dan gerak benda
jatuh.
7
STIMULUS YANG TEPAT Tiap tahapan yang
dilalui anak akan mendatangkan manfaat. Tentu saja selama orang tua dapat
memberikan stimulus yang tepat. Yang penting bagi orang tua adalah betapapun
"menyebalkannya" perilaku anak saat getol-getolnya menjatuhkan benda, harus
diingat bahwa hal ini merupakan fase belajar bagi anak. Jadi, cobalah
memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan kemampuannya dengan 7 bentuk stimulus
berikut:
1. Berikan
benda/mainan yang aman untuk dijatuhkan, misalnya yang terbuat dari plastik,
seperti sendok, mangkuk kecil, dan sejenisnya. 2. Usahakan
memberikan berbagai benda yang menghasilkan beragam suara saat jatuh. Dengan
demikian stimulus pendengaran anak pun jadi lebih kaya. Ia akan belajar bahwa
ada macam-macam bunyi dari benda yang berlainan. 3. Orang tua harus
ikut terlibat dalam aktivitas ini. Jadi, jangan puas hanya sekadar jadi "tukang
mengambilkan" benda yang dijatuhkan si batita. Keterlibatan ini sangat
bermanfaat untuk membantu proses belajar anak. Untuk mengenalkan konsep ruang,
misalnya, katakan "Ya... sendoknya jatuh deh ke lantai." Jadi tidak sekadar
mengambilkan benda yang dijatuhkan anak dan memberikannya kembali tanpa komentar
apa pun.
4. Selain
mengajarkan konsep ruang, orang tua juga bisa mengajarkan nama-nama benda kepada
anak. Contohnya saat anak menjatuhkan bola, mainan, buku dan sebagainya,
sebutkan nama benda-benda tersebut. Makin sering benda itu dijatuhkan maka makin
sering namanya diulang-diulang, hingga dengan sendirinya anak akan mengenali apa
nama benda yang dijatuhkannya itu. 5. Berikan anak
sejumlah barang untuk dijatuhkan. Setelah barangnya habis (sudah jatuh semua)
atau ketika orang tua merasa lelah atau dirasa aktivitas tersebut sudah
berlebihan, hentikan. Caranya dengan mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain
seperti memukul-mukul kaleng yang juga menimbulkan sensasi bunyi. Jadi, jangan
hanya meminta anak untuk menghentikan aktivitasnya begitu saja tanpa ada
pengganti.
6.
Orang tua juga dapat memberikan bola untuk digenggam dan digelindingkan karena
fase menjatuhkan ini akan berkembang menjadi kemampuan melempar atau
menggelindingkan. Walaupun kemampuan anak belum sampai tahap ini, sebaiknya
orang tua berusaha untuk selalu berada satu langkah di depan kemampuan anak,
agar ia tetap terstimulus untuk terus mengembangkan
kemampuannya.
7. Selama melakukan
proses belajar, sebaiknya anak tidak ditekan dengan stimulasi yang berlebihan
ataupun sebaliknya dihentikan dari kegiatannya dengan alasan apa pun. Memang,
akan sangat melelahkan dan bisa menyulut frustrasi, tapi ingat banyak hal yang
sedang dikembangkan anak melalui tahapan ini. UNGKAPAN
RASA MARAH Yang justru perlu
diwaspadai adalah ketika aktivitas menjatuh-jatuhkan benda masih terlihat
dominan selepas anak berusia 3 tahun. Lain hal jika anak memang mengalami
keterlambatan dalam perkembangan motorik atau cacat fisik. Sebab selepas usia
ini, tukas Vera, tahapan tersebut harusnya sudah terlewati. Amati dengan jeli
apakah aktivitas menjatuhkan benda-benda ini bertujuan untuk menarik perhatian
atau sebagai pelampiasan rasa marah. Jika benar demikian, maka orang tua harus
segera mengatasinya. "Kalau sebagai luapan rasa marah, orang tua perlu
menenangkan anak dan memberi contoh bagaimana mengekspresikan rasa marah dengan
tepat. Tentu saja bukan dengan menjatuh-jatuhkan barang secara sengaja," saran
Vera.
Marfuah
Panji Astuti This e-mail message has been scanned for Viruses and Content and cleared by NetIQ MailMarshal -------------------------------------------------- Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....]. Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] YAHOO! GROUPS LINKS
|
Title: Message
