Senyum-senyum sendiri baca tulisan di bawah.
Bedanya, saya dulu seringnya naek kereta super ekonomi
Bandung-Solo, yg nyari tempat berpijak susahnya minta ampun.
KRL Depok, yg kalo sampe kantor baju lecek dan basah keringat.
Saya juga sedang di Rio, dg total perjalanan 48 jam lebih, transit di Paris
dari jam 6 pagi ampe jam 11 malem, total durasi di pesawat 26-an jam.

Kita memang selalu diberi pilihan untuk menyikapi keadaan dari
sisi positif or negatif. Beruntung orang yg selalu bisa melihat sisi positif (hikmah),
dari suatu keadaan, seburuk apapun itu.

Salam,

Budi


---------- Forwarded message ----------
From: joko adi pamungkas <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Mon, 2 Oct 2006 23:02:12 -0700 (PDT)
Subject: @FK-Unpad> HIDUPLAH INDONESIA RAYA !!!!!!!!!!!!!!!!!!



Anda orang Indonesia?

Masih tinggal di Indonesia?

Di JaTINAGOR?

Ke kampus naik bis umpel-umpelan?

Lalu lintas macet?

Pernah naik   kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya?

Pernah kebajiran?

Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?



Ok, sekarang saya serius. Kalau Ada yang bertanya: apa sih

yang bisa dibanggakan for being Indonesian?



Maka jawaban saya adalah : Kita.

Kita harus bangga karena kita orang Indonesia bisa dan

biasa hidup susah!!!



Becanda lagi nih?

Nggak, saya serius!! Saya nggak boong.

Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat

pada saya (red: katanya harta yang berlimpah merupakan

cobaan yang berat).



Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja "survival

ability" ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup

di negara-negara mapan.



Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika temannya

- sebut saja Sarukh dan keluarganya - pamit pada boss saya

pulang ke negara asalnya India yang murah meriah untuk

menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore.



Eh, belum satu tahun pamitan pulang ke India...  si Sarukh

sudah balik lagi ke Singapore, dan kali ini minta bantuan

Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore.



What happened? Tanya boss saya.



Sarukh bercerita, setelah pulang ke India, anak remajanya

yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan

menjadi pasien tetap psikiater disana. Selidik punya

selidik agaknya hal itu disebabkan karena anaknya Sarukh

tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan

dari kondisi yang sangat mapan (Singapore) ke kondisi yang

sebaliknya India).

Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup

dalam kemapanan tidak punya "kemampuan bertahan waras" untuk

hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya,

akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan

kembali kerja di Singapore.



Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta,

pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah.

Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan2 kerja

saya berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk bawa

obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman

dari botol/kaleng. Kalau ke restoran local jangan sekali-

kali minum air putih yang disediakan dari dari Teko/ceret

di restoran tersbut, karena kebersihan airnya tidak

terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk

itu; begitu nasehat boss saya.



Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India

terdiri dari 5 orang. Satu orang dari Jepang, dua orang

Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru

sebulan kerja di Singapore). Dalam 2 minggu kunjungan ke

India , kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita

diare di minggu pertama ke India, diselidiki, kemungkinan

penyebabnya adalah mereka pernah memesan kopi atau the di

restoran local pada saat makan siang (yang tentunya tidak

dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara

ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama

makan di restoran-restoran lokal, terkena diare diduga

karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari

hotel   untuk berkumur-kumur selama sikat gigi. Sedangkan

saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia, sehat

walafiat, tidak menderita suatu apapun selama di sana

(mungkin karena di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es

dipinggir jalan yang mungkin airnya tidak lebih bersih

dari air di restoran-restoran   India).



What is the moral of the story?



Kita harus bangga karena kita bisa lebih baik dari orang

Jepang dan Singapore!!! (at least, dalam hal ketahanan

perut).



Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor

(yang base-nya di Singapore) untuk mengikuti sebuah

workshop di Rio de Janeiro, Brazil. Total waktu tempuh

saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro

Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa).



Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil, jalur yang paling

umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika,

terus ke Brazil. Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam

26-30 Jam   saya sudah bisa mencapai Brazil.

Cuma, karena saya orang Indonesia, untuk transit di

Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana

proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya

2 minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu.



Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang

sebaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit

di Amsterdam, dengan waktu tempuhnya 6-10 jam lebih lama.



Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya

juga orang Indonesia, harus terbiasa dengan hal-hal yang

susah-susah.



Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam.

Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop

di sana. Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha

untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan

mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan

peserta lainnya.



Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan

kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa

dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag",

karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman,

dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, sehingga

belum cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu

keluh mereka. Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa

sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya

harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore, dan baru

tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam

sebelum workshop dimulai.

Mereka tertegun, salah seorang dari   mereka bertanya pada

saya: "Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?"

"Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya lagi.

Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?),

dan salah seorang dari mereka memuji. "Its very impressive,

you guys Singaporean are really-really hard   workers"

"I'm not Singaporean, I'm Indonesian working in Singapore"

jawab saya dengan bangga.



Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan

Kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam

dari Singapore 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara

aktif mengikuti workshop tersebut. Saya tahu kalau saya

menjadi pembicaraan mereka, karena sewaktu makan malam,

kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah

ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore?

bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar

setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia

mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya).



Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab:

"Berlatihlah dengan naik kereta api super   ekonomi dari

Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran.

Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini - dimana

tidak hanya species "Homo Sapiens" yang bisa menjadi

penumpangnya, dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama

sekali karena hampir di setiap stasion harus berhenti,

maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi

terbang apapun yang di muka bumi ini".



Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya

khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya

jelaskan, saya yakin mereka tidak bisa "survive" dengan

alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari

kelas bisnis pesawat terbang (Note: kolega saya dari

jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di

pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).



Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil,

ntah karena terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah"

(dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena

alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di

Brazil, menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya

untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini

sedang berjalan di sana.



Alhasil, bulan September - November saya akan bergabung

dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project

disana. Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini

kali pertama "Kantor Pusat" meminta bantuan dari kantor

cabang untuk mensupport project yang sedang mereka

kerjakan di kantor pusat.



Jadi setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca

sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang

Indonesia. Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya

"Anda dari mana?" Jawablah dengan bangga: Ya, Saya

dari Indonesia, negara yang lagi susah, saya juga

hidupnya susah, tapi saya bisa "survive", dan saya

bangga karenanya!!!


 Any problem???


__._,_.___

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]





SPONSORED LINKS
School education Pre school education Classmate search
Classmate finder High school classmate

Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke