--- In [email protected], "Wido Q Supraha" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

writes oleh : Darmansyah Asmoerie
Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group

Jika anda berjalan-jalan di Manhattan, New York, mata anda niscaya 
akan 
terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di sebuah gedung 
tinggi di 
perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale! Who Wants to Buy?

Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa Amerika diobral? 
Siapa
mau 
beli? Memangnya AS butuh uang? Atau, Gedung Putih dan Capitol Hill 
(DPR AS) 
sudah frustrasi mencari uang untuk membiayai operasional pemerintah 
AS? 
Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di benak orang yang 
selama ini

menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan tidak membutuhkan 
negara
lain. 
Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia dan anggaran 
militer 
terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara makmur yang kaya 
raya. 
Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul dalam benak kita 
yang
silau 
melihat nama besar AS.

Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak --malah jauh dari 
kondisi 
yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan koran USA Today,
misalnya, 
menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 8.000 
perusahaan AS 
telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara asing), dengan total 
nilai
lebih 
dari 1,2 triliun dolar AS.

Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan bermerk asal AS 
seperti Ford 
dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan besar tersebut kini 
bukan 
milik AS lagi. Di samping Hollywood, hampir semua perusahaan hiburan 
di AS 
yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun, sekarang sudah 
menjadi
milik 
Sony Corporation, Jepang. Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif 
dan 
komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak asing. Belum lama 
ini, 
misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli perusahaan komputer
terbesar 
di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang luas, Cina pun 
memproduksi 
komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di Indonesia dan 
harganya
sangat 
kompetitif.

Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar karena inefisiensi 
dan
buruh 
mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural (harga tidak 
kompetitif, 
buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain) perusahaan-
perusaha an
di 
AS menerima beban kerugian 30 persen di banding perusahaan sejenis di 
Asia. 
Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena rakyat AS lebih suka 
mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah dan lebih 
berkualitas 
dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini, misalnya, seperempat 
dari
income 
penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang impor, mulai makanan 
dan 
minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju, sepatu, komputer, dan 
lain-
lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.

Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung defisit yang amat 
besar. 
Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan negara-negara 
lain di 
dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS harus 'mensubsidi'
negara-
negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar AS per menit. 
Sementara 
tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya 2.400 dolar AS 
untuk 
membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu, mobil, komputer, 
dan lain-
lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of Labor Statistics 
menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta pekerjaan yang 
berupah
tinggi 
lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya pekerjaan 
bergaji besar

di industri-industri AS. 

Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS makin banyak. Saat 
ini, 
lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an manufaktur AS yang 
berorientasi 
ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing seperti Jepang, 
Jerman, dan 
Cina.

Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat besar --lebih 
dari 8 
triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah batas utang 
pemerintah 
federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan 70 persen gros 
GDP-nya 
(baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini utang luar negerinya
sebesar 
30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar AS). Negara-negara 
lain, 
khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat ini mengontrol 47 
persen

defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara utang-utang barunya 
sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar negeri.

Minyak dan perang
Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa mengerti mengapa 
AS
saat 
ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi terbesar AS saat ini
adalah 
minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang saat ini 
memproduksi
hampir 
70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber keuangan' AS. Saat 
ini, 
misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS beroperasi di 
Teluk. 

ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas terbesar di AS, kini 
menjadi

perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah salah satu 
kontributor 
keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di Washington. 
Itulah 
sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai datang ke 
Jakarta, 
beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah Indonesia agar menunjuk 
ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.

Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya dengan SBY di 
Bogor 
nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan ekonomi migas. Salah
satunya, 
yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi cadangan gas di 
Natuna. 
Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan ExxonMobil maunya
mendapat 
kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran pemerintah 
Indonesia. 
Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya amat mahal dan
kualitasnya 
buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah sebaiknya tidak percaya 
begitu 
saja.

Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap dipelihara AS? Karena 
Israel
bisa 
menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk. Keberadaan Israel ini 
akan 
menguntungkan AS, khususnya dari kondisi instabilitas Timur Tengah 
yang kaya

minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari serangan teroris, AS akan
gampang 
saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang dituduh Bush menjadi 
basis 
teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur Tengah, tentunya 
tentara AS 
akan menghancur-leburkan sarana dan prasarana negeri itu. Kenapa 
demikian? 
Sekali lagi, itu adalah motif ekonomi.

Di Irak, misalnya. Hanya sepekan setelah perang selesai, perusahaan-
perusaha
an 
konstruksi AS langsung mendapat order dari Washington untuk membangun
kembali 
Irak. Perusahaan-perusaha n konstruksi AS, khususnya Halliburton yang
sebagian 
sahamnya dimiliki keluarga Bush, langsung mendapat proyek miliaran 
dolar AS 
untuk rekonstruksi Irak. Uangnya dari mana? Dari pampasan perang 
Irak. Uang 
minyak Irak pun dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang telah 
dihancurkan AS sendiri dengan biaya yang amat mahal, tiga sampai 
empat kali 
lipat, jika dikerjakan perusahaan lokal. Uang minyak Irak juga 
dipakai untuk

membiayai tentara AS yang kini bercokol di sana. 

Dari gambaran itu, istilah pampasan perang Irak adalah suatu logika 
yang
aneh 
karena Irak tak pernah mengajak perang kepada AS. Akhirnya, kita 
tahu, migas

dan perang adalah sumber ekonomi' AS. Ekspansionisme AS - khususnya 
dalam 
mengawal perusahaan minyaknya di luar negeri dan menggertak negara-
negara 
kecil dengan militernya - sebetulnya tak lebih merupakan strategi AS 
untuk
men-
survive-kan perekonomiannya.

Fakta Angka
8.000 unit
Perusahaan AS yang dijual ke negara lain dalam 10 tahun terakhir.
8 triliun dolar AS
Utang AS kepada negara lain.
20 persen 
Perusahaan manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki 
asing.

-- 
Ade Arfan Saefulloh
Sekretaris Direktur Operasional
PT Asuransi Takaful Umum
Graha Takaful Indonesia Tower A
Jl. Mampang Prapatan Raya No.100
Jakarta 12790
T + 62 21-799-1234
+ 62 21-799-2345 Ext 1199 
F + 62 21-7901944
Tool Free 0800-100-1234
Website www.takaful. com

__________________________________________________________

--- End forwarded message ---


Kirim email ke