Kayaknya masalah alternative energy memang lagi di galakan oleh amerika jadi
inget ketika jalan jalan mengunjungi salah satu web indonesia
http://www.parasindonesia.com/read.php?gid=501 , disana ada pembahasan dan
transcript Press Conference ketika dia datang ke Indonesia, dan kalau
menurut gue bukannya tidak mungkin amerika sendiri akan mengelami penjajahan
ekonomi oleh negara lain suatu saat nanti, dan kayaknya untuk menghalagi hal
ini, amerika berusaha "mencari untung" di bidang energi alternatif.


On 11/25/06, vira cool <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "Wido Q
Supraha" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

writes oleh : Darmansyah Asmoerie
Konsultan Ekonomi Senior, Direktur PT Darmania Group

Jika anda berjalan-jalan di Manhattan, New York, mata anda niscaya
akan
terbelalak melihat sebuah baliho yang dipasang di sebuah gedung
tinggi di
perempatan jalan. Isi baliho itu: US Sale! Who Wants to Buy?

Sebagian besar orang niscaya akan terkejut: Kenapa Amerika diobral?
Siapa
mau
beli? Memangnya AS butuh uang? Atau, Gedung Putih dan Capitol Hill
(DPR AS)
sudah frustrasi mencari uang untuk membiayai operasional pemerintah
AS?
Bermacam-macam pertanyaan mungkin akan muncul di benak orang yang
selama ini

menganggap bahwa AS adalah negara kaya raya dan tidak membutuhkan
negara
lain.
Dengan konsumsi energi per kapita terbesar di dunia dan anggaran
militer
terbesar di dunia, AS mestinya adalah sebuah negara makmur yang kaya
raya.
Gambaran seperti itulah yang agaknya sering muncul dalam benak kita
yang
silau
melihat nama besar AS.

Tapi, betulkah gambaran tersebut? Ternyata tidak --malah jauh dari
kondisi
yang sebenarnya. Sebuah buku kecil yang diterbitkan koran USA Today,
misalnya,
menyebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 8.000
perusahaan AS
telah dijual ke pihak lain di luar AS (negara asing), dengan total
nilai
lebih
dari 1,2 triliun dolar AS.

Jika kita pehobi film Hollywood atau kendaraan bermerk asal AS
seperti Ford
dan Chevrolet --jangan salah-- semua perusahaan besar tersebut kini
bukan
milik AS lagi. Di samping Hollywood, hampir semua perusahaan hiburan
di AS
yang omzetnya ratusan milaar dolar AS per tahun, sekarang sudah
menjadi
milik
Sony Corporation, Jepang. Begitu pula perusahaan-perusaha an otomotif
dan
komputer AS, kini sudah berpindah tangan ke pihak asing. Belum lama
ini,
misalnya, perusahaan komputer Cina telah membeli perusahaan komputer
terbesar
di AS. Lalu, dengan jaringan distribusinya yang luas, Cina pun
memproduksi
komputer murah Lenovo, yang kini beredar luas di Indonesia dan
harganya
sangat
kompetitif.

Di pihak lain, banyak perusahaan AS gulung tikar karena inefisiensi
dan
buruh
mahal. Tiap tahun, akibat inefisiensi struktural (harga tidak
kompetitif,
buruh mahal, buruh kurang produktif, dan lain-lain) perusahaan-
perusaha an
di
AS menerima beban kerugian 30 persen di banding perusahaan sejenis di
Asia.
Kondisi tersebut makin tahun makin parah karena rakyat AS lebih suka
mengonsumsi produk impor yang harganya lebih murah dan lebih
berkualitas
dibanding produk buatan AS sendiri. Saat ini, misalnya, seperempat
dari
income
penduduk AS dipakai untuk membeli barang-barang impor, mulai makanan
dan
minuman kaleng, mainan anak-anak, boneka, baju, sepatu, komputer, dan
lain-
lain yang jumlanya lebih dari 200 macam item.

Dalam perdagangan luar negeri, AS juga menanggung defisit yang amat
besar.
Tahun 2005, misalnya, defisit perdagangan AS dengan negara-negara
lain di
dunia mencapai 723 miliar dolar AS. Ini berarti, AS harus 'mensubsidi'
negara-
negara counterpart dagangnya sebesar 1,4 juta dolar AS per menit.
Sementara
tiap tahun, tiap penduduk AS menghabiskan sedikitnya 2.400 dolar AS
untuk
membeli barang-barang impor seperti baju, sepatu, mobil, komputer,
dan lain-
lain (US Census 2005). Tidak heran jika US Bureau of Labor Statistics
menyatakan, dalam lima tahun terakhir, tiga juta pekerjaan yang
berupah
tinggi
lenyap di AS. Hal ini sejalan dengan makin hilangnya pekerjaan
bergaji besar

di industri-industri AS.

Ironisnya, perusahaan asing di industri canggih AS makin banyak. Saat
ini,
lebih dari 20 persen perusahaan-perusaha an manufaktur AS yang
berorientasi
ekspor sudah dimiliki pengusaha-pengusaha asing seperti Jepang,
Jerman, dan
Cina.

Pemerintah federal AS pun menanggung utang yang amat besar --lebih
dari 8
triliun dolar AS. Senat AS bahkan telah menambah batas utang
pemerintah
federal menjadi 9 triliun dolar AS, atau sama dengan 70 persen gros
GDP-nya
(baca: bandingkan dengan Indonesia yang saat ini utang luar negerinya
sebesar
30 persen dari GPD atau sekitar 120 miliar dolar AS). Negara-negara
lain,
khususnya Jepang dan negara kaya Timur Tengah, saat ini mengontrol 47
persen

defisit keuangan pemerintah federal AS. Sementara utang-utang barunya
sepenuhnya atau 100 persen tergantung dari luar negeri.

Minyak dan perang
Dengan melihat latar belakang seperti itu, kita bisa mengerti mengapa
AS
saat
ini sangat ekspansif? Salah satu penopang ekonomi terbesar AS saat ini
adalah
minyak dari Timur Tengah. Negara-negara Teluk yang saat ini
memproduksi
hampir
70 persen kebutuhan minyak dunia adalah 'sumber keuangan' AS. Saat
ini,
misalnya, lebih dari 70 persen perusahaan minyak AS beroperasi di
Teluk.

ExxonMobil, salah satu perusahan minyak dan gas terbesar di AS, kini
menjadi

perusahaan migas terbesar di dunia. Dan Exxon adalah salah satu
kontributor
keuangan (melalui pajak) untuk pemerintah federal di Washington.
Itulah
sebabnya, kenapa Menlu AS, Condoleezza Rice, sampai datang ke
Jakarta,
beberapa bulan lalu, untuk menekan pemerintah Indonesia agar menunjuk
ExxonMobil sebagai operator blok minyak Cepu.

Kita tidak tahu, apa agenda Bush dalam peretemuannya dengan SBY di
Bogor
nanti. Tapi bisa diduga, menyangkut kepentingan ekonomi migas. Salah
satunya,
yang kini tengah dalam negosiasi, adalah eksplorasi cadangan gas di
Natuna.
Cadangan gas di Natuna disebut-sebut amat besar dan ExxonMobil maunya
mendapat
kompensasi yang jauh lebih besar ketimbang tawaran pemerintah
Indonesia.
Alasannya, gas produksi Natuna biaya eksplorasinya amat mahal dan
kualitasnya
buruk. Betulkah alasan tersebut? Pemerintah sebaiknya tidak percaya
begitu
saja.

Kembali ke Timur Tengah. Kenapa Israel tetap dipelihara AS? Karena
Israel
bisa
menjadi 'faktor' instabilitas kawasan Teluk. Keberadaan Israel ini
akan
menguntungkan AS, khususnya dari kondisi instabilitas Timur Tengah
yang kaya

minyak. Dengan alasan melindungi Israel dari serangan teroris, AS akan
gampang
saja menyerang negara-negara Timur Tengah yang dituduh Bush menjadi
basis
teroris. Setelah menyerang sebuah negara Timur Tengah, tentunya
tentara AS
akan menghancur-leburkan sarana dan prasarana negeri itu. Kenapa
demikian?
Sekali lagi, itu adalah motif ekonomi.

Di Irak, misalnya. Hanya sepekan setelah perang selesai, perusahaan-
perusaha
an
konstruksi AS langsung mendapat order dari Washington untuk membangun
kembali
Irak. Perusahaan-perusaha n konstruksi AS, khususnya Halliburton yang
sebagian
sahamnya dimiliki keluarga Bush, langsung mendapat proyek miliaran
dolar AS
untuk rekonstruksi Irak. Uangnya dari mana? Dari pampasan perang
Irak. Uang
minyak Irak pun dihabiskan untuk membangun infrastruktur yang telah
dihancurkan AS sendiri dengan biaya yang amat mahal, tiga sampai
empat kali
lipat, jika dikerjakan perusahaan lokal. Uang minyak Irak juga
dipakai untuk

membiayai tentara AS yang kini bercokol di sana.

Dari gambaran itu, istilah pampasan perang Irak adalah suatu logika
yang
aneh
karena Irak tak pernah mengajak perang kepada AS. Akhirnya, kita
tahu, migas

dan perang adalah sumber ekonomi' AS. Ekspansionisme AS - khususnya
dalam
mengawal perusahaan minyaknya di luar negeri dan menggertak negara-
negara
kecil dengan militernya - sebetulnya tak lebih merupakan strategi AS
untuk
men-
survive-kan perekonomiannya.

Fakta Angka
8.000 unit
Perusahaan AS yang dijual ke negara lain dalam 10 tahun terakhir.
8 triliun dolar AS
Utang AS kepada negara lain.
20 persen
Perusahaan manufaktur AS yang berorientasi ekspor sudah dimiliki
asing.

--
Ade Arfan Saefulloh
Sekretaris Direktur Operasional
PT Asuransi Takaful Umum
Graha Takaful Indonesia Tower A
Jl. Mampang Prapatan Raya No.100
Jakarta 12790
T + 62 21-799-1234
+ 62 21-799-2345 Ext 1199
F + 62 21-7901944
Tool Free 0800-100-1234
Website www.takaful. com


.






--
Best regards,
-Pinto Sjafri-
~Work like you don't need the money~
~Love like you've never been hurt~
~Dance like nobody is looking~

Kirim email ke