Sepak Bola dan Bisnis (1)
Jum'at, 24 November 2006 08:49 WIB - warta ekonomi.com
 
 
Oleh: Andiral Purnomo, Associate Partner - Dunamis Organization Services
Masih ingat Piala Dunia 2006? Pemenangnya adalah tim Italia. Suka atau tidak 
suka, kita harus menerima kenyataan bahwa tim Italia adalah yang terbaik saat 
itu. 
Bagi yang bukan penggemar tim Italia, mungkin penasaran, apa sih yang membuat 
tim itu unggul? Bukankah keterampilan individu para pemainnya tak lebih baik 
daripada tim lain? Striker Luca Toni masih kalah hebat dibandingkan Thiery 
Henry atau Miroslav Klose. Di barisan belakang, Carvalho dari Portugal tak 
kalah kelas dibandingkan dengan Fabio Cannavaro atau Marco Materazi. Sebagian 
besar orang juga yakin Zidane lebih hebat ketimbang Andrea Pirlo.  
Sepak bola dapat menjadi contoh yang pas tentang bagaimana sebuah tim atau 
organisasi bekerja secara efektif. Bisakah Anda bayangkan apa yang terjadi jika 
dalam sebuah tim sepak bola hanya ada lima orang pemain saja yang 
sungguh-sungguh bermain, sementa¬ra enam lainnya tidak? Atau, apa jadinya jika 
hanya pemain tertentu saja yang tahu persis strategi dan taktik yang diterapkan 
sang pelatih? Pengalaman menunjukkan sebuah tim yang beranggotakan orang-orang 
hebat saja tidak menjamin keberhasilan. Prestasi Brasil di Piala Dunia lalu 
menjadi bukti. Lalu, faktor apa saja yang menentukan keberhasilan sebuah tim?
Penasaran akan hal itu,  FranklinCovey, bekerja sama dengan McKinsey dan 
HarrisInteractive, melakukan penelitian senilai US$2 juta yang melibatkan 2,5 
juta karyawan sebagai responden. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh 
pengamatan terhadap kondisi bisnis sebelum tahun 2002. 
Pada waktu itu—seperti diutarakan Larry Bossidy dan Ram Charan dalam bukunya 
Execution: The Disciplines of Getting Things Done—dunia bisnis sedang mengalami 
situasi yang agak aneh, setidaknya di mata awam. Puluhan perusahaan yang 
termasuk dalam Fortune 100, seperti Xerox dan Lucent Technologies, mengalami 
kemerosotan. Dua perusahaan ini, maupun perusahaan-perusahaan lainnya, 
sebenarnya dipimpin oleh orang-orang yang mumpuni, didukung teknologi canggih 
dan SDM yang andal.  
Menurut penelitian tersebut, kegagalan suatu organisasi kebanyakan disebabkan 
oleh kurangnya kemampuan melakukan eksekusi terhadap sasaran yang mereka 
tetapkan sebelumnya. Jadi, bukan disebabkan oleh ketiadaan strategi yang 
canggih. 
Dari penelitian itu ditemukan enam faktor penentu eksekusi, yakni clarity 
(kejelasan sasaran), translation into actions (menuangkan ke dalam tindakan), 
commitment (komitmen terhadap sasaran dan upaya pencapaiannya), enabling 
(dukungan dan kemudahan organisasi bagi setiap anggotanya untuk mencapai 
sasaran), synergy (kemampuan melakukan kerja sama), dan accountability (proses 
pertanggungjawaban individu sesama anggota tim). Enam faktor ini kemudian 
diformulasikan dalam sebuah alat ukur bernama Execution Quotient atau xQ(tm). 
Setelah beberapa waktu, diadakan survei xQ(tm) dengan responden 12.184 
karyawan. Hasilnya, buruk. Misalnya, ternyata hanya sepertiga pekerja memahami 
apa yang ingin dicapai oleh organisasinya; 57% pekerja tidak percaya 
organisasinya akan memegang komitmennya kepada mereka; hanya 28% yang 
menyatakan aktif bekerja sama untuk mencapai sasaran masing-masing; hanya 35% 
menyatakan ukuran kesuksesan mereka jelas.   
Bagaimana hasilnya secara “tim”? Cukup mencengangkan. Sangat sedikit (9%) yang 
menyatakan tim kerja mereka memiliki sasaran yang jelas dan terukur; sedikit 
(15%) yang merasa tim mereka memiliki sumber daya dan kebebasan yang cukup 
dalam melakukan aktivitasnya; hanya 10% anggota tim kerja yang merasa saling 
bertanggung jawab satu sama lain dalam pencapaian tujuan. Inilah sebagian hasil 
yang layak diamati:
* Hanya sepertiga pekerja paham apa yang ingin dicapai oleh organisasinya;
* Hanya 44% pekerja menyatakan organisasinya telah mengkomunika-sikan sasaran 
terpentingnya kepada mereka;
* Hanya 22% yang merasa sasaran individu mereka selaras dengan sasaran 
organisasi;
* Responden menyatakan 23% dari waktu mereka digunakan untuk melakukan 
aktivitas yang tak terlalu berhubungan dengan sasaran terpentingnya;
* Hanya separo pekerja yang merasa dapat mengekspresikan pendapatnya secara 
terbuka;
* Hanya 26% yang melakukan pertemuan rutin dengan atasannya untuk membahas 
kemajuan pencapaian sasarannya; 
* Kurang dari sepertiga yang mempertanggungjawabkan anggarannya;
* 57% pekerja tidak percaya bahwa organisasinya akan memegang komitmennya 
kepada mereka;
* Hanya 28% yang menyatakan aktif bekerja sama untuk mencapai sasaran 
masing-masing;
* Hanya 35% menyatakan ukuran kesuksesan mereka jelas.   
Anda ingin tahu hasil pada tingkat tim kerja? Cukup mencengangkan, yaitu:
* Hanya 9% yang menyatakan tim kerja mereka memiliki sasaran yang jelas dan 
terukur;
* Hanya 16% berkata tim mereka melakukan perencanaan bersama;
* Dalam berkomunikasi, hanya 17% merasa tim mereka memiliki pemahaman bersama 
dan dialog kreatif antaranggota;
* Hanya 15% merasa tim mereka memiliki sumber daya dan kebebasan yang cukup 
dalam melakukan aktivitasnya;
* Hanya 10% anggota tim kerja yang merasa saling bertanggung jawab satu sama 
lain dalam pencapaian tujuan.
Hasil itu cermin buruknya eksekusi perusahaan-perusahaan di AS.  Bagaimana di 
Indonesia? Kondisi di Indonesia sementara ini masih dalam penelitian Dunamis, 
yang memanfaatkan alat yang sama, survei xQ(tm) (Execution Quotient).
 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
tukangceritapagi.blogs.friendster.com/tukang_cerita_pagi/
omongkosongku.blogspot.com


 
____________________________________________________________________________________
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
http://new.mail.yahoo.com

Kirim email ke