MANAJEMEN DENGAN HATI (2-HABIS), Jadilah Teratai di Kolam Berlumpur
16/11/2006 02:13:08 WIB
JAKARTA, Investor Daily
DUA hari ikut pelatihan Membuka Hati tidak lantas membuat para peserta
menjadi kaum spiritualis jempolan, apalagi sufi atau rohaniwan beneran.
Namun, dua hari mengasingkan diri dari hiruk pikuk Jakarta lalu tenggelam
dalam keheningan, merupakan sepenggal waktu yang sangat berarti.
Apalagi bagi para eksekutif yang sehari-hari bergulat dengan setumpuk
kuitansi tagihan, angka-angka keuntungan dan kerugian perusahaan, omelan
big-boss, sampai gerutuan para bawahan.
Seumpama aki yang harus terus diisi agar mesin-mesin mobil tetap berfungsi,
hati nurani pun tetap harus dijaga dan di-charge agar ia tetap menjalankan
tugas sucinya sebagai pancaran kasih Tuhan, sumber kekuatan, mata air
kebenaran, pengobar sukacita, kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan.
"Berdoalah terus kepada Tuhan Yang Maha Esa, sediakan waktu untuk hening,
dan jadikan senyum, santai, serta pasrah sebagai meterai hidup Anda
sehari-hari. Dengan itu Anda akan selalu menemukan kebahagiaan, kedamaian,
dan ketenangan," ucap Romo Ignatius Sudaryanto.
Pesan Romo Sudaryanto sesungguhnya merupakan petuah tradisional yang selalu
diajarkan agama-agama mana pun. Namun, seperti senandung lagu, "Memang lidah
tak bertulang, lain di bibir lain di hati", ajaran agama kerap dihayati
hanya sebatas penggalan kalimat dalam kitab suci. Sebagai seorang imam
religius, Sudaryanto mengakui hal itu.
"Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai imam, religius, misionaris, tidak
pernah diajarkan kepada saya cara praktis untuk membuka hati dan masuk di
dalamnya. Dengan membuka hati, saya dapat merasakan, menikmati, dan
mensyukuri dengan lebih baik kasih Tuhan yang selalu ada dan menjadi berkat
bagi saya dan umat yang saya layani," kisah Sudaryanto.
Pengalaman serupa dituturkan Hajjah Kasandra Hermawan dan Hajjah Rosmala
Dewi. "Dengan pelatihan membuka hati, sholat saya menjadi lebih khusyuk.
Sehari-hari saya lebih dapat menerima keadaan, sehingga lebih tenang, damai
dan bahagia, dan dapat mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Allah SWT,"
kata Rosmala Dewi.
Kisah Sudaryanto dan Rosmala hanyalah sedikit dari ribuan, bahkan jutaan
kisah serupa yang menunjukkan bahwa kualitas spiritual (mengandalkan hati
nurani dan berkat Tuhan) sangat menentukan sejauh mana seseorang tahan uji
terhadap setiap godaan, mampu meredam rasa dengki, dendam, amarah. Kisah
tersebut juga memperlihatkan bahwa kualitas spritual tak berhubungan atau
justru sering bertolak belakang dengan kecukupan harta, uang, serta
benda-benda duniawi lainnya.
"Kecukupan ekonomi hanya memberikan kebahagiaan sementara, semu. Diri kita
hanya akan berarti apabila kita menjadi alat Tuhan dalam membagikan cahaya
dan kasih-Nya kepada semua makhluk," ucap Prijohandojo Kristanto, konsultan
keuangan papan atas di Jakarta.
Hidup berkecukupan materi, kata Ketua Komite Tetap Perpajakan Kamar Dagang
dan Industri Indonesia (Kadin) ini, sangatlah tidak cukup untuk membeli
"hati" atau menakar kualitas spiritual seseorang.
Materi dan godaan kekuasaan, lebih sering mengganggu dan mengacaukan
hubungan antarsesama dan antarkelompok masyarakat. Ia mencontohkan
pertikaian politik serta persaingan yang tidak sehat dalam berbagai kancah
kehidupan nasional saat ini, merupakan penyakit sosial yang lebih disebabkan
oleh perilaku manusia yang makin tak mendengar bisikan hati nurani.
"Makanya, di tengah kondisi masyarakat yang sedang sakit seperti sekarang
ini, kita tetap membutuhkan manusia unggul dengan kualitas spritual yang
teruji. Jadilah seperti teratai di comberan," kata Prijohandojo.
Mengumpamakan teratai yang memang menjadi simbol pelatihan-pelatihan yang
dikembangkannya bersama Irmansyah Effendi, seorang guru spiritual, top
eksekutif berusia 59 tahun ini menginginkan lahirnya sosok-sosok muda yang
tahan uji, tak tergoda berbagai ukuran duniawi, kreatif, serta dapat
mengabdikan keunggulan yang dimilikinya bagi kepentingan masyarakat, bangsa
dan negara.
"Teratai menggambarkan cahaya dan kasih Tuhan. Teratai juga melambangkan
bunga yang tetap mekar dan mewangi, meski tumbuh di comberan atau kolam yang
kotor dan busuk," jelas Prijohandojo.
Di bawah payung Yayasan Padmajaya yang didirikannya bersama Irmansyah
Effendi, Prijohandojo ingin membagi dan menularkan pengalaman-pengalaman
spiritual (rohani) dan profesional sekaligus kepada mereka yang mencintai
nilai-nilai kehidupan.
Mereka ingin menanamkan kesadaran bahwa manusia hidup tidak hanya sebatas
leher ke atas atau perut ke bawah, tapi ada sebuah pusat pengendali
kehidupan. Itulah hati nurani, percikan Tuhan Yang Maha Kuasa.
"Biarkan hati nurani menakhodai kehidupan Anda," begitu inti pesan spiritual
yang selalu menyertai pelatihan Membuka Hati
Roh Manajemen
Membayar biaya sebesar Rp 350 ribu untuk dua hari pelatihan, memang bukan
sebuah beban yang berarti bagi sejumlah eksekutif perusahaan seperti
Stefanus Willy Sukianto dari bank swasta nasional, ataupun Karto Wiwiksana,
pengusaha yang bergerak dalam manufaktur brankas.
Bagi dua eksekutif ini, pelatihan Membuka Hati, benar-benar bernilai ganda,
yakni membantu mereka membuka tirai yang selama ini tertutup rapat oleh
pertimbangan-pertimbangan untung-rugi, besar-kecil, bermanfaat tidak
bermanfaat, dalam kegiatan usaha mereka.
Emosi-emosi negatif seperti cepat marah, panik, serampangan dalam mengambil
keputusan, pun tergusur setelah dengan setia mereka memetik nilai-nilai dari
pelatihan Membuka Hati yang sudah beberapa kali mereka ikuti.
"Luar biasa manfaatnya. Kehidupan menjadi lebih tenang, damai, dan bahagia.
Lebih dari itu, keputusan-keputusan bisnis bisa diambil secara lebih
jernih," ungkap Willy.
Manajer sebuah bank di Jakarta ini mengaku, dalam setiap pengambilan
keputusan, angka-angka untung-rugi, kajian kelayakan sebuah permohonan
kredit perbankan, serta pertimbangan-pertimbangan bisnis lainnya memang
tetap menjadi acuan.
Tapi dalam pengambilan keputusan penting, "Hati nurani tetap layak dimintai
konfirmasi". "Hati nurani pasti akan menuntun, manakah keputusan yang benar,
baik dan adil," demikian Willy Sukianto.
Sementara itu, pengusaha Karto Wiwiksana mengaku pelatihan "mengasah hati"
telah membantu dia lebih fokus, bijak, dan bernurani dalam menggulirkan roda
perusahaannya. "Kehidupan rumah tangga semakin lebih harmonis, cinta dan
kasih sayang dalam keluarga pun bertumbuh subur," demikian Karto.
Willy dan Karto adalah contoh dari ribuan bahkan jutaan profesional yang
begitu percaya bahwa pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan spritualitas,
senantiasa berbanding lurus dengan peningkatan mutu kehidupan individu,
organisasi (perusahaan, negara), dan masyarakat secara keseluruhan.
Jika keuangan, kerja dan pemasaran menjadi contoh sistem keras
(hard-system), kata penulis manajemen Lawrence Bennyson, budaya koorporasi
seperti kepercayaan dan nilai-nilai, merupakan sistem lunak (soft-system)
yang justru akan menjiwai atau merohi aktivitas organisasi sehari-hari.
(alex dungkal)
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/