oom Qhidir says: Apakah Logis??? Sebuah pertanyaan yang tidak dijawab dengan 
logis, malah balik bertanya adalah sebuah sikap yang tidak logis.
apakah menjadi tidak logis, jika ada yang menyampaikan argumennya dengan cara 
CURHAT, atau membuat PUiSI, atau BERCERITA ?

Tampaknya oom belum bisa menerima argumen yang di sampaikan dengan cara yang 
menurut sampeyan tidak logis. Curhat, Puisi, Cerpen, Syair Lagu, bahkan Novel 
adalah buah pemikiran manusia, yang tentunya ada pertimbangan-pertimbangan 
logis si penulis. Beberapa bahkan menimbulkan perlawanan terhadap rezim yang 
menindas, juga ada yang menyuarakan suara yang selama ini tidak bisa bersuara 
atau di bungkam. Pramoedya salah satunya. Dia bisa bertutur runut, penuh 
pemikiran historis, yang pada akhirnya menyadarkan orang untuk selalu bisa 
mengeluarkan pendapat. Novel-novelnya sempat di kecam karena berbau ajaran 
komunis, tetapi saya sampai sekarang mempertanyakan, bagian mana dari novelnya 
yang mengajarkan komunis??? Seorang penulis senior yang melegenda bahkan 
"mencibir" karya Pram, dengan menyebut "bagian persetubuhan Annelies dengan 
Minke tidak membuat saya terangsang". Pram memang tidak pernah dalam satu 
karyanya mengumbar habis soal seks secara vulgar, justru dia tidak ingin
 terjebak pada cerita murahan yang melulu mengeksploitasi seks. Padahal, 
novel-novel si Sableng 212 banyak yang vulgar, tapi tetap lolos sensor.

Ada juga Muhammad Iqbal, seorang penyair muslim yang mengeluarkan uneg-unegnya, 
tentang hidup, tentang penindasan, tentang urusan-urusan rohani maupun duniawi 
melalui karya puisinya. Ada juga Wijhi Tukul yang bersuara terhadap Orde Baru 
yang mengakibatkan dirinya "dihilangkan secara paksa" oleh rezim. Atau di Musik 
ada Tengkorak, yang bermusik cadas, tetapi liriknya humanis. Juga Rage Against 
The Machine dan System of A Down demikian pula dalam lirik2nya. Ebiet G. Ade 
dan Iwan Fals juga merupakan bagian dari pemusik yang bersuara lantang lewat 
lirik.

Sayangnya, di negeri kita ini, selain menuntut yang logis berasal dari 
pemikiran dan buku, belum juga menerima pemikiran yang disampaikan lewat media 
lain yang "kurang serius" (ini yang saya tangkap dari tulisan sampean). 
Akibatnya, orang jadi semakin malas mengkaji dan menganalisa sebuah persoalan, 
karena harus melulu berkutat dengan media "yang serius". Akibatnya, kritik di 
negeri ini lantas dijadikan sebagai musuh, dan mesti di basmi dengan kata-kata 
penutup : tergantung masing-masing individu!! 

Maka, pantaslah kalo si Butet bikin monolog Matinya Toekang Kritik...

Tanya ken...apa???

 
It's only a transition...

Dicky Kurniawan
News Camera Person
NEWS DIVISION
PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
Gd. Trans TV 3rd Fl.
Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
Jakarta Selatan 12790
+628174964705
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
tukangceritapagi.blogs.friendster.com/tukang_cerita_pagi/
omongkosongku.blogspot.com  
 



----- Original Message ----
From: QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, December 18, 2006 10:59:03 PM
Subject: Re: [sma1bks] Matinya tukang kritik di milis ini ?

Elfira,
Saya bahkan mendorong kaum hawa untuk menyampaikan pendapat atau argumen atau 
bahkan mengungkapkan perasaannya di milispun, tetapi yang disayangkan komposisi 
antara argumen dan perasaan, masih lebih banyak menggunakan perasaan. Saya 
tidak pernah bilang hentikan tapi saya kritik prilaku itu mengingat 
kecendurangan beberapa kaum hawa, kalau gak mau dibilang oknum, memperjuangkan 
kesetaraan gender dan atau emansipasi wanita baik dalam satu paket atau tidak, 
tetapi sayangnya tidak diikuti dengan kemampuan logika yang memadai.  Sehingga 
yang tampak dan lebih menonjol, adalah tuntutan emosional. Logikanya  kalau 
memang kaum hawa ingin maju dan diakui kredibilitasnya, tidak perlu menuntut, 
apalagi memperjuangkan 'hak-hak'nya karena akan justeru mereduksi kemampuan 
kaum hawa jika mereka benar-benar telah mencapai posisi yang diatas, 
seolah-olah itu belas kasihan atas tuntutan hak-hak perempuan, padahal bisa 
jadi dia memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Lagipula, dalam sejarah
 manapun didunia ini, saya belum pernah mendengar kebudayaan yang diinpirasi 
oleh kaum hawa, mampu menjelma menjadi suatu peradaban yang dikenal hingga 
sekarang. Perspektif positifnya ini tantangan buat kaum hawa, perspektif 
negatif-nya ini penghinaan terhadap kaum hawa.
 
Kalau kita cermati, budaya kita, tidak terkecuali para pria, lebih 
mengedepankan perasaan biar dianggap bijak, padahal justeru hal ini 
membahayakan, misalnya masalah KKN, seberapa banyak kasus korupsi yang diungkap 
secara terang-terangan dalam lingkup internal sendiri. jawabannya tidak ada, 
atau mudah-mudahan belum ada, artinya kedepan kita berharap akan ada sehingga 
KPK gak perlu ada. 
 
Cobalah sekali-sekali survei kecil-kecilan, seberapa banyak seorang istri yang 
berani bilang NO for corruption ke suaminya jika dia tahu hasil yang diperoleh 
suaminya merupakan hasil kejahatan korupsi ? sekedar mengingatkan, negara kita 
termasuk negara terkorup di dunia. Artinya, dari sekian banyak kasus korupsi 
yang terjadi, sang istri koruptor diam-diam menikmati juga. saya gak punya 
argumen, mungkin elfira bisa bantu menjelaskan kenapa bisa begitu. ( tanyakeun 
kenapa?)
 
Idealnya, argumen berdasarkan atas fakta-fakta yang dikumpulkan hingga 
terbangun membentuk suatu opini atau pendapat baik secara induktif atau 
deduktif, inilah yang harus dikedepankan, sedangkan perasaan diperlukan pada 
sentuhan akhir saja (final touch) bukan mendominasi keseluruhan argumen.
 
apakah menjadi tidak logis, jika ada yang menyampaikan argumennya dengan cara 
CURHAT, atau membuat PUiSI, atau BERCERITA ?
 
apakah logis ? 
 
 
 
???????tanyakeun kenapa??????
 
 
 
 
 
 
 
 
 

ELFIRA ROSA <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
according to ur msg... Mr. Qidhir......

“Matinya Toekang Kritik” dalam milis ini bukan karena tidak ada yang perlu 
dikritik, tapi karena hak-hak nya dikebiri..stop ngomong ini stop ngomong 
itu...atau dianggap tidak punya perasaan, memuakkan sehingga harus dieliminasi. 
inikah potret milis kita? I beg your answer, please.


nambah satu lagi.. yaitu mengacu pada tulisan anda yg terdapat pada paragraf 5:

 
"Untuk kaum hawa, argumen-argumen masih lebih banyak menggunakan perasaan, ..."


jadi menurut saya, dengan cara mengeluarkan pernyataan diatas bahwa kaum hawa 
hanya berargumen berdasarkan perasaan...maka anda menjadi salah satu orang yang 
MENGEBIRI hak orang lain [khususnya kaum hawa] untuk mengekspresikan pendapat 
maupun kritik dengan caranya masing-masing, dengan perspektifnya masing-masing.



boleh tanya..?? memangnya argumen yang Logis itu harus berdasarkan apa sich? 
BUKU kah..??? apa logika itu baru pantas disebut sebagai logika jika bersumber 
dari kutipan BUKU atau TOKOH terkenal? 
apakah argumen yang berdasarkan pada PENGALAMAN pribadi yang notabene merupakan 
pelajaran paling berharga dalam kehidupan kita tak pantas disebut sebagai 
argumen..???

apakah menjadi tidak logis, jika ada yang menyampaikan argumennya dengan cara 
CURHAT, atau membuat PUiSI, atau BERCERITA ?

 



No Hard Feeling, Peace  












QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: 
Minggu yang lalu di Metro TV, saya mendapatkan hiburan segar dengan pementasan 
monolog Butet kartaredjasa "Matinya Tukang Kritik" yang diangkat dari buku 
karya Agus Noor. Buat kawan-kawan di milis alumni SMA 1 disarankan yang senang 
mengeluarkan kritik atau bantahan kritik, perlu menonton, mudah2-an setelah itu 
mendapatkan perspektif yang lebih baik terhadap adanya perbedaan pendapat.
 
intinya yg saya tangkap, dalam monolog tsb tukang kritik akan mati dengan 
sendirinya ketika semua pihak sudah puas, sehingga tidak ada yang akan dikritik 
lagi.....lah wong semuanya sudah pas semua. Dalam monolognya, Butet mencoba 
meyakinkan pemirsa bahwa hal itu bukan utopia, seperti menunggu godot, tapi 
sesuatu yang akan bisa terjadi.
 
Ketika pendapat kita atau dalil yang kita ajukan tidak 'bunyi' sebab divalidasi 
oleh pendapat atau dalil lain, budaya kita belum bisa memberikan apresiasi, 
yang paling hebat baru sebatas apologi ..dan yang lebih menyedihkan ada 
pendapat " stop, hentikan bicara ini..hentikan bicara itu!....it's close to 
tyranny ..well...forgive me guys, first, I am not your child and second, even 
if you are my child, I am not going to talk like that.please give me your 
critics if I am wrong! 
 
Budaya kita, terutama dalam permainan logika, masih banyak yang belum mampu 
memberikan 'sound argument' tapi tiba-tiba maunya langsung 'jump to conclusion, 
gimana mau ngomongin persoalan negara, atau persoalan lain kalau diri kita 
sendiri masih penuh dengan persoalan..alias belum siap,  karena mampu-nya baru 
sebatas  emosi nalarnya..gak nyampe tapi dipaksa-paksakan. mudah-mudahan kali 
ini saya salah!.
 
Untuk kaum hawa, argumen-argumen masih lebih banyak menggunakan perasaan, 
jadinya milis jadi tempat curhat..wis tenan...wanita selalu ingin minta 
dipahami...kalau sudah begini .. kadang-kadang terpikir 'emansipasi wanita' 
hanya sekedar perasaan emosional saja, mereka tidak sungguh-sungguh 
menginginkannya. Kalau ini saya yakin ini betul 100 % kalaupun salah mungkin 
karena gak bisa memahami wanita. la..piye to...laa wong gak ole 
poligami..gimana memahaminya. ..
 
Kalau Tokoh pengritik dari zaman ke zaman, RM Suhikayatno yang diperankan oleh 
Butet Kertaredjasa tidak tahan hidup di zaman keteraturan, dimana segala aspek 
kehidupan berjalan ideal dan tidak perlu dikritik lagi, dalam lakon monolog 
“Matinya Toekang Kritik”  maka dalam milis ini 'ada kecenderungan' ' yang sama 
matinya tukang kritik cuma bedanya bukan karena tidak ada yang perlu dikritik, 
tapi karena hak-hak nya dikebiri..stop ngomong ini stop ngomong itu...atau 
dianggap tidak punya perasaan, memuakkan sehingga harus dieliminasi. inikah 
potret milis kita? I beg your answer, please.
 
 
 
 
 
 
 
 
____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 


____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 


____________ _________ _________ _________ _________ __
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail. yahoo.com 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke