Terima kasih Bung Dicky yang sudi mengomentari respon
saya terhadap tulisan sebelumnya dari Elfira.
Sebelumnya saya mohon maaf kalau ada kata yang kasar,
.......maklum saya bukan makluk halus...   :D

Sebenarnya hal pokok  yang kita maksudkan adalah
bagaimana kita memahami kondisi atau realitas
sesungguhnya, apakah itu kemiskinan,
pengangguran,korupsi atau mungkin bahkan poligami.
Masalah terjadi karena kita tidak atau kurang
memahaminya. betul gak ?

Saya melihat, dalam budaya kita, orang sering
menggunakan perasaan ketimbang logika, terutama
wanita. inilah realitas yang kita hadapi, dengan
segala akibatnya. Dalam budaya lain ada yang
menggunakan logika ketimbang perasaan, meskipun dalam
komposisi berbeda, wanita tetap lebih banyak
menggunakan perasaannya.

Dalam budaya China, Quanxi bukan suatu kejahatan
bahkan itu salah satu art of business. Dalam pemikiran
barat, Quanxi diterjemhakan sebagai koneksi atau
kolusi masuk satu paket dalam KKN dan dianggap sebagai
suatu kejahatan. Budaya kita kini menganggap sebagai
suatu kejahatan.

coba bandingkan dengan tulisan anda dengan referensi
berikut ;


http://en.wikipedia.org/wiki/Logic

or

http://id.wikipedia.org/wiki/Logika


and compare with this


http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra

or

http://en.wikipedia.org/wiki/Feeling




--- Dicky Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> oom Qhidir says: Apakah Logis??? Sebuah pertanyaan
> yang tidak dijawab dengan logis, malah balik
> bertanya adalah sebuah sikap yang tidak logis.
> apakah menjadi tidak logis, jika ada yang
> menyampaikan argumennya dengan cara CURHAT, atau
> membuat PUiSI, atau BERCERITA ?
> 
> Tampaknya oom belum bisa menerima argumen yang di
> sampaikan dengan cara yang menurut sampeyan tidak
> logis. Curhat, Puisi, Cerpen, Syair Lagu, bahkan
> Novel adalah buah pemikiran manusia, yang tentunya
> ada pertimbangan-pertimbangan logis si penulis.
> Beberapa bahkan menimbulkan perlawanan terhadap
> rezim yang menindas, juga ada yang menyuarakan suara
> yang selama ini tidak bisa bersuara atau di bungkam.
> Pramoedya salah satunya. Dia bisa bertutur runut,
> penuh pemikiran historis, yang pada akhirnya
> menyadarkan orang untuk selalu bisa mengeluarkan
> pendapat. Novel-novelnya sempat di kecam karena
> berbau ajaran komunis, tetapi saya sampai sekarang
> mempertanyakan, bagian mana dari novelnya yang
> mengajarkan komunis??? Seorang penulis senior yang
> melegenda bahkan "mencibir" karya Pram, dengan
> menyebut "bagian persetubuhan Annelies dengan Minke
> tidak membuat saya terangsang". Pram memang tidak
> pernah dalam satu karyanya mengumbar habis soal seks
> secara vulgar, justru dia tidak ingin
>  terjebak pada cerita murahan yang melulu
> mengeksploitasi seks. Padahal, novel-novel si
> Sableng 212 banyak yang vulgar, tapi tetap lolos
> sensor.
> 
> Ada juga Muhammad Iqbal, seorang penyair muslim yang
> mengeluarkan uneg-unegnya, tentang hidup, tentang
> penindasan, tentang urusan-urusan rohani maupun
> duniawi melalui karya puisinya. Ada juga Wijhi Tukul
> yang bersuara terhadap Orde Baru yang mengakibatkan
> dirinya "dihilangkan secara paksa" oleh rezim. Atau
> di Musik ada Tengkorak, yang bermusik cadas, tetapi
> liriknya humanis. Juga Rage Against The Machine dan
> System of A Down demikian pula dalam lirik2nya.
> Ebiet G. Ade dan Iwan Fals juga merupakan bagian
> dari pemusik yang bersuara lantang lewat lirik.
> 
> Sayangnya, di negeri kita ini, selain menuntut yang
> logis berasal dari pemikiran dan buku, belum juga
> menerima pemikiran yang disampaikan lewat media lain
> yang "kurang serius" (ini yang saya tangkap dari
> tulisan sampean). Akibatnya, orang jadi semakin
> malas mengkaji dan menganalisa sebuah persoalan,
> karena harus melulu berkutat dengan media "yang
> serius". Akibatnya, kritik di negeri ini lantas
> dijadikan sebagai musuh, dan mesti di basmi dengan
> kata-kata penutup : tergantung masing-masing
> individu!! 
> 
> Maka, pantaslah kalo si Butet bikin monolog Matinya
> Toekang Kritik...
> 
> Tanya ken...apa???
> 
>  
> It's only a transition...
> 
> Dicky Kurniawan
> News Camera Person
> NEWS DIVISION
> PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
> Gd. Trans TV 3rd Fl.
> Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
> Jakarta Selatan 12790
> +628174964705
> [EMAIL PROTECTED]
> [EMAIL PROTECTED]
>
tukangceritapagi.blogs.friendster.com/tukang_cerita_pagi/
> omongkosongku.blogspot.com  
>  
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: QiDHiR Abdul Salam <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Monday, December 18, 2006 10:59:03 PM
> Subject: Re: [sma1bks] Matinya tukang kritik di
> milis ini ?
> 
> Elfira,
> Saya bahkan mendorong kaum hawa untuk menyampaikan
> pendapat atau argumen atau bahkan mengungkapkan
> perasaannya di milispun, tetapi yang disayangkan
> komposisi antara argumen dan perasaan, masih lebih
> banyak menggunakan perasaan. Saya tidak pernah
> bilang hentikan tapi saya kritik prilaku itu
> mengingat kecendurangan beberapa kaum hawa, kalau
> gak mau dibilang oknum, memperjuangkan kesetaraan
> gender dan atau emansipasi wanita baik dalam satu
> paket atau tidak, tetapi sayangnya tidak diikuti
> dengan kemampuan logika yang memadai.  Sehingga yang
> tampak dan lebih menonjol, adalah tuntutan
> emosional. Logikanya  kalau memang kaum hawa ingin
> maju dan diakui kredibilitasnya, tidak perlu
> menuntut, apalagi memperjuangkan 'hak-hak'nya karena
> akan justeru mereduksi kemampuan kaum hawa jika
> mereka benar-benar telah mencapai posisi yang
> diatas, seolah-olah itu belas kasihan atas tuntutan
> hak-hak perempuan, padahal bisa jadi dia
> memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Lagipula,
> dalam sejarah
>  manapun didunia ini, saya belum pernah mendengar
> kebudayaan yang diinpirasi oleh kaum hawa, mampu
> menjelma menjadi suatu peradaban yang dikenal hingga
> sekarang. Perspektif positifnya ini tantangan buat
> kaum hawa, perspektif negatif-nya ini penghinaan
> terhadap kaum hawa.
>  
> Kalau kita cermati, budaya kita, tidak terkecuali
> para pria, lebih mengedepankan perasaan biar
> dianggap bijak, padahal justeru hal ini
> membahayakan, misalnya masalah KKN, seberapa banyak
> kasus korupsi yang diungkap secara terang-terangan
> dalam lingkup internal sendiri. jawabannya tidak
> ada, atau mudah-mudahan belum ada, artinya kedepan
> kita berharap akan ada sehingga KPK gak perlu ada. 
>  
> Cobalah sekali-sekali survei kecil-kecilan, seberapa
> banyak seorang istri yang berani bilang NO for
> corruption ke suaminya jika dia tahu hasil yang
> diperoleh suaminya merupakan hasil kejahatan korupsi
> ? sekedar mengingatkan, negara kita termasuk negara
> terkorup di dunia. Artinya, dari sekian banyak kasus
> korupsi yang terjadi, sang istri koruptor diam-diam
> menikmati juga. saya gak punya argumen, mungkin
> elfira bisa bantu menjelaskan kenapa bisa begitu. (
> tanyakeun kenapa?)
>  
> Idealnya, argumen berdasarkan atas fakta-fakta yang
> dikumpulkan hingga terbangun membentuk suatu opini
> atau pendapat baik secara induktif atau deduktif,
> inilah yang harus dikedepankan, sedangkan perasaan
> diperlukan pada sentuhan akhir saja (final touch)
> bukan mendominasi keseluruhan argumen.
>  
> apakah menjadi tidak logis, jika ada yang
> menyampaikan argumennya dengan cara CURHAT, atau
> membuat PUiSI, atau BERCERITA ?
>  
> apakah logis ? 
>  
>  
>  
> ???????tanyakeun kenapa??????
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
> 
> ELFIRA ROSA <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> according to ur msg... Mr. Qidhir......
> 
> “Matinya Toekang Kritik” dalam milis ini bukan
> karena tidak ada yang perlu dikritik, tapi karena
> hak-hak nya dikebiri..stop ngomong ini stop ngomong
> itu...atau dianggap tidak punya perasaan, memuakkan
> sehingga harus dieliminasi. inikah potret milis
> kita? I beg your answer, please.
> 
> 
> nambah satu lagi.. yaitu mengacu pada tulisan anda
> yg terdapat pada paragraf 5:
> 
>  
> "Untuk kaum hawa, argumen-argumen masih lebih banyak
> menggunakan perasaan, ..."
> 
> 
> jadi menurut saya, dengan cara mengeluarkan
> pernyataan diatas bahwa kaum hawa hanya berargumen
> berdasarkan perasaan...maka anda menjadi salah satu
> orang yang MENGEBIRI hak orang lain [khususnya kaum
> hawa] untuk mengekspresikan pendapat maupun kritik
> dengan caranya masing-masing, dengan perspektifnya
> masing-masing.
> 
> 
> 
> boleh tanya..?? memangnya argumen yang Logis itu
> harus berdasarkan apa sich? 
> BUKU kah..??? apa logika itu baru pantas disebut
> sebagai logika jika bersumber dari kutipan BUKU atau
> TOKOH terkenal? 
> apakah argumen yang berdasarkan pada PENGALAMAN
> pribadi yang notabene merupakan pelajaran paling
> berharga dalam kehidupan kita tak pantas disebut
> sebagai argumen..???
> 
> 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke