Thank you & Best regards, 
  
Vanda Vandhana 
Senior Sales Engineer 
PT Almega Sejahtera Jakarta 
Mitra Sunter Boulevard Blok A1-2 
Jakarta 14350 
Phone : 62-21-65833731/32 
mobile:  0816-1822155 

  _____  

From: vanda vandhana [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, 31 July, 2007 12:22 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Fw: [syiar-islam] Masa Hidup Di Dunia Sesungguhnya Masa Yang Sangat
Singkat

 

 

----- Forwarded Message ----
From: Seri Utami <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; DT
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, July 27, 2007 1:02:11 PM
Subject: [syiar-islam] Masa Hidup Di Dunia Sesungguhnya Masa Yang Sangat
Singkat





Masa Hidup Di Dunia Sesungguhnya Masa Yang Sangat Singkat 

Masa hidup rata-rata manusia 60 - 80 tahun terlihat sangat panjang bagi yang
tidak memahami akhirat. Padahal di akhirat hidup adalah abadi, entah itu di
surga atau di neraka, artinya tidak sekedar 500 atau seribu tahun atau
sejuta tahun, tapi lebih dari itu yang berarti bermilyar-milyar tahun atau
penafsiran umumnya dikatakan sebagai abadi (kekal). Bahkan sebelum Allah SWT
menentukan kita masuk surga atau neraka, kitapun masih harus mengikuti 'masa
menunggu' di alam kubur selama ratusan hingga ribuan tahun; tergantung iman,
amal dan ibadah kita di dunia. Kemudian masih ada ribuan tahun lagi 'masa
menunggu' di Padang Mahsyar, ratusan hingga ribuan tahun lagi 'masa
menunggu' di proses pengadilan akhirat. Dan seterusnya, sehingga 60 - 80
tahun di dunia sesungguhnya adalah waktu yang sangat singkat. Rasulullah SAW
menggambarkan masa kehidupan di dunia ibarat orang yang sedang singgah
sejenak dalam suatu perjalanan yang sangat jauh. 

"Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia merugi (terhalang dari mendapat
kebaikan dan pahala) di dalamnya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR.
Al-Bukhari no. 6412). 

Hadits yang mulia di atas memberikan beberapa faedah kepada kita: 
1. Sepantasnya bagi kita memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untuk
taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengerjakan
kebaikan-kebaikan sebelum hilangnya dua nikmat itu. Karena, waktu luang akan
diikuti dengan kesibukan, dan masa sehat akan disusul dengan sakit. 
2. Islam sangat memperhatikan dan menjaga waktu. Karena waktu adalah
kehidupan, sebagaimana Islam memperhatikan kesehatan badan di mana akan
membantu sempurnanya agama seseorang.
3. Dunia adalah ladang akhirat. Maka sepantasnya seorang hamba membekali
dirinya dengan takwa dan menggunakan kenikmatan yang diberikan Allah
Subhanahu wa Ta'ala untuk taat kepada-Nya.
4. Mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah dengan menggunakan
nikmat tersebut untuk taat kepada-Nya. (Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhis
Shalihin, 1/180-181) "Dan ingatlah ketika Rabbmu memaklumkan: 'Sesungguhnya
jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat itu kepada kalian.
Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat
pedih'." (Al-Qur'an, surat Ibrahim, ayat 7).

Kenyataan yang ada, banyak waktu kita berlalu sia-sia tanpa kita manfaatkan
dan kita pun tidak bisa memberikan manfaat kepada salah seorang dari
hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita tidak merasakan penyesalan akan
hal ini kecuali bila ajal telah datang. Ketika itu seorang insan pun
berangan-angan agar ia diberi kesempatan kembali ke dunia walau sedetik
untuk beramal kebaikan, akan tetapi hal itu tidak akan didapatkannya.

Terkadang nikmat ini luput sebelum datangnya kematian pada seseorang, dengan
sakit yang menimpanya hingga ia lemah untuk menunaikan apa yang Allah
Subhanahu wa Ta'ala wajibkan terhadapnya, ia merasakan dadanya sempit tidak
lapang dan ia merasa letih. Terkadang datang kesibukan pada dirinya dengan
mencari nafkah untuk dirinya sendiri dan keluarganya sehingga ia terluputkan
dari menunaikan banyak dari amal ketaatan. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : 
"Hingga ketika datang kematian menjemput salah seorang dari mereka, ia pun
berkata: 'Wahai Rabbku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku bisa mengerjakan
amal shalih yang dulunya aku tinggalkan'. " (Al-Mukminun: 99-100)
"Sebelum datang kematian menjemput salah seorang dari kalian, hingga ia
berkata: 'Wahai Rabbku, seandainya Engkau menangguhkan kematianku sampai
waktu yang dekat sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang
yang shalih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian
seseorang apabila telah datang waktunya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kalian kerjakan." (Al-Munafiqun: 10-11)

Karena itulah sepantasnya bagi insan yang berakal untuk memanfaatkan waktu
sehat dan waktu luangnya dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala sesuai dengan kemampuannya. Jika ia dapat membaca Al Qur'an, maka
hendaklah ia memperbanyak membacanya. Bila ia tidak pandai membaca Al Qur'an
maka ia memperbanyak zikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Bila ia tidak
dapat melakukan hal itu, maka ia melakukan amar ma'ruf nahi mungkar. Atau
mencurahkan apa yang ia mampu berupa bantuan dan amal kebaikan kepada
saudara-saudaranya. Semua ini adalah kebaikan yang banyak namun luput dari
kita dengan sia-sia." (Syarah Riyadhis Shalihin, 1/451-452).

Sedemikian pentingnya mengisi waktu dengan baik sehingga Al-Quran memiliki
satu surat khusus mengenai waktu (surat Al Ashr). "Demi masa. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran". Rasulullah SAW
menggambarkan betapa pentingnya mengisi waktu dengan kebaikan dengan
menganjurkan kita bersedekah walau dengan sebiji kurma sekalipun, atau
menanam pohon walaupun besok kiamat tiba.

Wallahu ta'ala a'lam bish-shawab. 

Sumber : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah 
(http://www.asysyari ah.com/syariah. php?menu= detil
<http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=260> &id_
online=260) dengan beberapa edit kecil.

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Setiap ilmu mesti ada permulaanya, tetapi sama sekali tidak ada
pengakhirannya. Kita harus menyadari dan mengakui bahwa apa yang kita
ketahui dari ilmu-ilmu jauh lebih sedikit daripada yang tidak kita ketahui
(Ulama) 

[Non-text portions of this message have been removed]

 

 

 

  _____  

Shape Yahoo! in your own image. Join
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48517/*http:/surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_pan
el_invite.asp?a=7>  our Network Research Panel today! 

Kirim email ke