Tahun 1993, saya banyak menjumpai anak-anak muda seumuran saya yang
berasal dari Malaysia, dikirim sekolah ke jerman  mengikuti program
"bumi poetra" nya mahatir mohammad. Program ini unique dan sangat
ambisius sekali karena hanya diperuntukan  putra-putri melayu
Malaysia, selain melayu jangan harap bisa mengikuti program yang
menurut saya cukup fantastik ini. Malaysia mengirim 200 an lebih
anak-anak muda lulusan sma ke jerman setiap tahunnya. Mereka diberi
beasiswa yang lebih dari cukup dan juga difasilitasi lebih dari
kita-kita yang juga sama-sama dapat bea siswa. Tapi sangat
disayangkan, kebanyakan dari anak-anak Malaysia ini hanya sekitar 20%
, bahkan kurang,  yang bisa survived sekolah pra university (
studienkolleg- sekolah wajib bagi setiap org asing yang akan study di
jerman), sisanya rata-rata melanjutkan sekolah ke amerika atau
inggris, setelah mencoba menghabiskan waktu 2 tahun untuk lulus dari
pra university di jerman. 

Selama waktu itu saya sempat bergaul dengan mereka dan kesan saya,
mereka rata-rata agak menjaga jarak dengan anak-anak Indonesia. Hal
ini sempat menjadi perhatian  saya kenapa? Padahal kalau dari
anak-anak Indonesia sendiri, tidak ada  hal-hal yang menjadi halangan
untuk bergaul dengan mereka, apalagi bahasa dan bahkan agama pun sama.
Setelah saya amati dari pembicaraan-pembicaraan dengan mereka, mereka
itu memang rata-rata agak "memandang rendah" bangsa Indonesia. Pernah
saya becanda dengan mereka mengenai ungkapan "rumah sakit korban
laki-laki", "bersetubuh dengan tanah" dan segudang kosa kata lucu yang
kita kenal, mereka membalas candaan kita dengan menertawakan bagaimana
buruknya imej TK Indonesia yang ada di Malaysia. Dan imej ini menjadi
semacam "prejudice" untuk bangsa Indonesia. Saya terus terang sangat
tersinggung tapi tidak saya lanjutkan. 

Kompas pada hari sabtu tanggal 1 september 2007 hal. 9 menulis "Hut
Ke-50 Malaysia Dibayangi Masalah Rasial". Di tulisan ini dikutip
perkataan seorang keturunan India yang menjadi warga Malaysia : " Dua
dekade lalu, ketika saya menjadi pelaut, kami berkumpul bersama untuk
pesta dan makan daging panggang. Tidak peduli apa agama kita…Beberapa
tahun terakhir, orang tampaknya tidak lagi berkumpul bersama di akhir
pecan".

Bangsa melayu di Malaysia sudah merasa superior? Mereka merasa lebih
baik dari sesama bangsanya sendiri? Apalagi dengan bangsa lain seperti
Indonesia? Pemanjaan mahatir terhadap bangsa melayu telah menghasilkan
efek buruk ini? 

Saya pribadi tidak pernah mengalami perlakuan buruk secara fisik di
Malaysia, hanya secara tidak langsung saja saya mengalami pelecehan.
Pelecehan lewat kata, di hina secara halus. Pengalaman di rumah sakit,
pengalaman di keimigrasian, pengalaman di forum resmi, karena anggapan
mereka selalu bahwa orang indon itu rata2 miskin dan semuanya sama
seperti TK yang berbuat kriminal?

So ganyang Malaysia? I don't think so, biarkan saja mereka tenggelam
dengan superiority feeling nya. Kita perbaiki diri bangsa ini.
Kalaupun mau ganyang mereka, secara militer, mereka lebih kuat dari kita. 



Apip Kamil
(Gue mau bikin kaos, yang nanti gue pake ke malaysia tulisannya : I'm
Indonesian, don't torture me lah!)


Kirim email ke