It’s really really good story……  Sorry if yo’ve got it
   
  
 Aku Menangis untuk Adikku 
 Penulis : Ratu Karitasurya
 
 KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun
 pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,
 orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
 mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang
 adik, tiga tahun lebih muda dariku.
 
 Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
 mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya,
 aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah
 segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku
 berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
 di tangannya.
 
 "Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku
 terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
 
 Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau
 mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
 layak dipukul!" 
 
 Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. 
 Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
 "Ayah, aku yang melakukannya! "
 
 Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
 bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus
 menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. 
 
 Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata
 kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari
 rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
 lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
 mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" 
 
 Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
 kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak
 menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
 itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
 Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
 berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
 sudah terjadi."
 
 Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
 cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun
 telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
 seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
 tampa ng adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
 adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
 
 Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
 lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
 yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah
 universitas propinsi. 
 
 Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
 tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya
 memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang
 begitu baik. Hasil yang begitu baik." 
 
 Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
 nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
 membiayai keduanya sekaligus?"
 
 Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
 dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
 lagi, saya telah cukup membaca banyak buku." 
 
 Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
 wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
 keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti
 mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu
 berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap
 rumah di dusun itu untuk meminjam uang. 
 
 Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
 muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang
 anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
 tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
 kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
 untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
 
 Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
 adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
 pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
 Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
 secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke
 universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
 kerja dan mengirimmu uang."
 
 Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
 dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku
 hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. 
 
 Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
 uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
 punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
 ke tahun ketiga di universitas.
 
 Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
 teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang
 penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada
 seorang penduduk dusun mencariku? 
 
 Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh,
 seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
 Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada
 teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"
 
 Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
 penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
 tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
 menertawakanmu? " 
 
 Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
 menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
 tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli
 omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!
 Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "
 
 Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
 berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan
 terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
 memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
 satu."
 
 Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
 menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
 menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
 
 Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri
 undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang
 pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
 mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
 banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" 
 
 Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu
 yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
 Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
 ketika memasang kaca jendela baru itu."
 
 Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
 mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
 Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan
 memba lut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku
 menanyakannya.
 
 "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
 lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku
 setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja
 dan..." Di tengah kalimat itu ia berhenti.
 
 Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
 mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
 Aku berusia 26.
 
 Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali
 suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan
 tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
 Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka
 tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
 setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu
 saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." 
 
 Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami
 menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
 manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku
 menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
 bekerja sebagai pekerja reparasi. 
 
 Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga
 untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan
 listrik, lalu masuk rumah sakit. 
 
 Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih
 pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak
 menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
 melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
 kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
 tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
 
 Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
 keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi
 direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika
 saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
 yang akan dikirimkan?"
 
 Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar
 kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang
 pendidikan juga karena aku!" 
 
 Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"
 Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26
 dan aku 29.
 
 Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
 gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
 pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
 kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan
 kasihi?" 
 
 Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya." 
 
 Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
 kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya
 pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang
 berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama
 dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
 Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
 Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan
 ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
 Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran
 karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat
 memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
 selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
 baik kepadanya."
 
 Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
 memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu
 susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang
 yang paling aku berterima kasih adalah adikku." 
 
 Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di
 depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran
 turun dari wajahku seperti sungai.
 
 Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times"
    
---------------------------------
  
  
  
  
  
   

       
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out. 

Kirim email ke