walaupun neh cerita dah gw baca beberapa waktu sebelumnya (dah berapa kali
ya gw nerima cerita ini?) tapi tetep aja masih menyentuh hati

On 9/4/07, Mas Coen <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
> **
>
> It's really really good story…… Sorry if yo've got it
>
>
> *Aku Menangis untuk Adikku
> *Penulis : Ratu Karitasurya
>
> KotaSantri.com : Aku dilahirkan di sebuah dusun
> pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari,
> orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung
> mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang
> adik, tiga tahun lebih muda dariku.
>
> Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
> mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya,
> aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah
> segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku
> berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu
> di tangannya.
>
> "Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku
> terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
>
> Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau
> mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua
> layak dipukul!"
>
> Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.
> Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata,
> "Ayah, aku yang melakukannya! "
>
> Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
> bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus
> menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas.
>
> Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata
> kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari
> rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu
> lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai
> mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"
>
> Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
> kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak
> menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam
> itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
> Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
> berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya
> sudah terjadi."
>
> Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
> cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun
> telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan
> seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa
> tampa ng adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu,
> adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.
>
> Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
> lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat
> yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah
> universitas propinsi.
>
> Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok
> tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya
> memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang
> begitu baik. Hasil yang begitu baik."
>
> Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela
> nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa
> membiayai keduanya sekaligus?"
>
> Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
> dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah
> lagi, saya telah cukup membaca banyak buku."
>
> Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada
> wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
> keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti
> mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu
> berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap
> rumah di dusun itu untuk meminjam uang.
>
> Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke
> muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang
> anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau
> tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
> kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan
> untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.
>
> Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
> adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai
> pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering.
> Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan
> secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke
> universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari
> kerja dan mengirimmu uang."
>
> Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
> dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku
> hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.
>
> Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
> uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada
> punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
> ke tahun ketiga di universitas.
>
> Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika
> teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang
> penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada
> seorang penduduk dusun mencariku?
>
> Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh,
> seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
> Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada
> teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?"
>
> Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana
> penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka
> tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan
> menertawakanmu? "
>
> Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
> menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan
> tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli
> omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga!
> Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "
>
> Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
> berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan
> terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota
> memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki
> satu."
>
> Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
> menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan
> menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
>
> Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri
> undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang
> pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di
> mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu
> banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"
>
> Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu
> yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini.
> Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka
> ketika memasang kaca jendela baru itu."
>
> Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
> mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
> Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan
> memba lut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku
> menanyakannya.
>
> "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
> lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku
> setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja
> dan..." Di tengah kalimat itu ia berhenti.
>
> Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
> mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.
> Aku berusia 26.
>
> Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali
> suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan
> tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
> Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka
> tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak
> setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu
> saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."
>
> Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami
> menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai
> manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku
> menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai
> bekerja sebagai pekerja reparasi.
>
> Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga
> untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan
> listrik, lalu masuk rumah sakit.
>
> Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih
> pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak
> menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus
> melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat
> kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu
> tidak mau mendengar kami sebelumnya?"
>
> Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
> keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi
> direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika
> saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa
> yang akan dikirimkan?"
>
> Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar
> kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang
> pendidikan juga karena aku!"
>
> Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?"
> Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26
> dan aku 29.
>
> Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
> gadis petani dari dusun itu. Dalam acara
> pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya
> kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan
> kasihi?"
>
> Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya."
>
> Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
> kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya
> pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang
> berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama
> dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
> Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
> Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan
> ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
> Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran
> karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat
> memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah,
> selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
> baik kepadanya."
>
> Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
> memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu
> susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang
> yang paling aku berterima kasih adalah adikku."
>
> Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di
> depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran
> turun dari wajahku seperti sungai.
>
> Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times"
>  ------------------------------
>
>
> ------------------------------
> Be a better Heartthrob. Get better relationship answers
> <http://us.rd.yahoo.com/evt=48255/*http://answers.yahoo.com/dir/_ylc=X3oDMTI5MGx2aThyBF9TAzIxMTU1MDAzNTIEX3MDMzk2NTQ1MTAzBHNlYwNCQUJwaWxsYXJfTklfMzYwBHNsawNQcm9kdWN0X3F1ZXN0aW9uX3BhZ2U-?link=list&sid=396545433>from
> someone who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
>  
>



-- 
Kurniawan I
Kanwil DJP Kaltim
www.kur-kur.co.nr

Kirim email ke