IT Corner - Mari Ngerumpi Seputar IT    Ini adalah pendahuluan dari
jurnal IT Corner.    Di sini penulis akan mencoba mengajak rekan-rekan
sekalian terutama yang mempunyai concern terhadap segala topik atau
issue di sekitar IT untuk berdiskusi. Penulis akan melemparkan beberapa
topik yang mengganjal di benaknya, dan mencoba meminta masukan atau pun
tanggapan dari rekan-rekan sekalian.    Demikian, semoga berkenan....Dan
dengan ini..marilah kita ngerumpi seputar IT di IT Corner.    Salam,
Nugon (Nugroho Laison)
    IT Corner – Training, Nice To Have?    Berhubung profesi penulis
sekarang adalah sebagai trainer, penulis ingin membicarakan perihal
training. Yaitu apakah training itu suatu keharusan – Is a Must ,
atau hanya pelengkap, sebaiknya ikut training – N ice to Have ?   
Ada beberapa bos, katakanlah Manager IT yang enggan memberikan
kesempatan kepada anak buahnya untuk mengikuti training, baik untuk
materi yang terkait dengan teknologi yang diimplementasikan di kantor,
apalagi untuk teknologi yang tidak/belum diimplementasikan.    Semua ini
dengan beragam alasan, antara lain: tidak ada budget (untuk yang ini no
comment) K ; lebih baik belajar otodidak (sendiri), apalagi banyak
bertebaran website, buku bacaan dan majalah yang menawarkan segunung
tips and tricks.  Jadi bagi mereka, training itu adalah Nice to Have !
Tapi benarkah begitu?    Kebalikan dari kubu Nice to Have, training bagi
sebagian pihak adalah suatu keharusan – Is a Must . Kenapa? Beragam
alasan pendukung dapat diutarakan.    Bisa jadi sebagai kompensasi atau
reward, penghargaan sekaligus motivasi bagi staff untuk tetap
mengembangkan kompetensi dan tetap loyal terhadap perusahaan.    Sudah
jadi rahasia umum terutama di negara kita, bahwa di waktu luang (jika
ada), cenderung dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan non education
(bukan riset dan pelatihan). Dan cenderung pula tidak terbiasa untuk
belajar secara otodidak, ini sedikit bisa dimaklumi karena IT telah
berkembang begitu pesat dan begitu komplek.    Sebagai contoh
perbandingan, ketika penulis belajar Turbo Pascal, hanya cukup 1 buku
yang tebalnya sekitar 200-300 halaman, dikebut beberapa minggu, bisa
langsung dikuasai dan mencapai tingkatan advance.    Kini penulis sempat
iseng, ingin mencoba mendalami Java atau .Net Framework. Ternyata buku
yang basic (untuk beginner) saja rata-rata berisi 200-300 halaman. Itu
hanya untuk mendapatkan beginner level saja. Sehingga cukup menaikkan
gairah untuk malas belajar J    Di sisi lain, ada beberapa perusahaan
enggan memberikan kompensasi, reward ataupun penghargaan secara
cuma-cuma, apalagi dalam bentuk nominal (baca: uang) tanpa ada suatu
`return` yang bermanfaat bagi perusahaan, terlebih bila penghargaan
selalu diberikan dalam bentuk uang, banyak yang menilai cenderung
`kurang mendidik` L .    Apa pun bagi penulis, terlepas atau tidak dari
profesinya sebagai trainer, terlepas dari masalah keuangan, juga
bertebarannya sumber tips and trick, training mempunyai posisi
tersendiri yang sulit digantikan.    Pertama, training mempunyai
keunggulan utama, yaitu bahan yang akan dipelajari dikemas secara
sistematis . Ini tercermin dalam silabus kursus/training. Ini sulit
ditandingi oleh tips and tricks yang banyak diposting di berbagai
website atau pun beberapa buku bacaan dan majalah. Dan umumnya training
sudah dipersiapkan sesuai dengan level partisipan yang mengikuti, ada
level basic, intermediate, advance; atau profile partisipan , semisal:
manager, professional, clerical staff, dan sebagainya; juga untuk
skenario tertentu terutama pada kasus upgrade/migration, persiapan
sertifikasi. Jangan lupa, umumnya training memberikan sejumlah pelatihan
sehingga diharapkan partisipan bukan hanya tahu, tetapi dapat menerapkan
pengetahuan yang telah didapat.    Selanjutnya, umumnya bahan training
merupakan bahan utama untuk persiapan sertifikasi , dan diakui secara
formal bahkan beberapa dianggap mempunyai kredit tertentu. Itu yang
penulis temui dan rasakan pada saat mengambil sertifikasi ITIL
Foundation, dan itu juga yang dirasakan oleh rekan-rekan yang lain yang
ingin mengambil sertifikasi CISA, CFA, dan sebagainya.    Terakhir,
perusahaan dapat berkolaborasi dengan training center untuk melakukan
suatu monitoring, yaitu penilaian perbandingan kompetensi sebelum dan
sesudah training. Selain itu juga tak jarang perusahaan merekrut
training center untuk bertindak sebagai tenaga ahli – auditor,
consultant/advisor, implementator – dalam pelaksanaan kegiatan
khusus (project) berdasarkan materi training tersebut, sehingga
diharapkan membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan
tersebut.    Demikian dari penulis, semoga dengan wacana atas dapat
memberikan wawasan lebih sehingga kita dapat menyikapi training dengan
lebih bijak.    Segala masukan yang membangun termasuk koreksi sangat
penulis tunggu.     Salam,         Nugon (Nugroho Laison)

Kirim email ke