lumayan untuk intermezzo, dan semoga ini tidak menjadi anget-anget tai ayam...

================================================================
Berita menarik



Kapolda Jabar bikin kejutan

                    yang menggembirakan



Berikut di bawah ini disajikan berita yang sangat menarik -- dan sangat

penting !--, yang dimuat oleh harian Pikiran Rakyat (Bandung) edisi 10

Februari 2008, tentang tekad Kapolda Jabar Drs Susno Duadji dalam menangani

pemberantasan korupsi. Tekadnya yang keras itu tercermin dalam ungkapannya

yang berani, terus-terang, dan jelas tentang jahatnya korupsi yang sudah

sejak lama merajalela di negeri kita. Mengingat bahwa pandangan-pandangan

Kapolda Jabar ini merupakan sesuatu yang “agak lain” daripada pernyataan

para “tokoh” lainnya di negeri kita, dan mengingat juga bahwa banyak

kalangan perlu mengetahui tentang adanya fenomena yang memberikan harapan

akan adanya perbaikan moral yang sudah sangat bobrok di negeri kita ini,

maka berikut ini disiarkan kembali teks berita itu selengkapnya.



Bisa diharapkan bahwa suara Kapolda Jabar Susno Duadji akan merupakan “angin

segar” bagi kehidupan negara yang sudah lama dipenuhi bau busuk karena

kebejatan moral yang berupa korupsi (ingat, antara lain : kekayaan Suharto,

anak-anak Suharto, para kroninya yang bikin ruwet BLBI, soal dana Bank

Indonesia, korupsi di kalangan Mahkamah Agung, DPR, dan Kejaksaan Agung dll

dll dll)



Jelas sekali bahwa negeri kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang betul-betul

mempunyai kemauan keras dan ketulusan hati untuk membongkar

kejahatan-kejahatan di kalangan elite bangsa. Kita butuhkan banyak

sosok-sosok seperti Kapolda Susno Duadji. Mudah-mudahan, apa-apa yang secara

baik dilakukan di Jawa Barat ini akan bisa menjadi teladan bagi seluruh

Indonesia.



A. Umar Said



· * *

·

Teks berita, yang aslinya berjudul “Jangan pernah setori saya” itu adalah

sebagai berikut :



“RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc.,

mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres

hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi

karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.



Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski

dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak".

Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan

mereka menjalani

perintah tersebut.



Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan

(tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak

perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah

cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita

ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur pria

kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.



Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat

AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi

kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat

yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan,

dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang nakal,

saatnya main

copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu.



Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di

lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke

pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak

lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala

PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah

lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)

menggiring para koruptor ke jeruji besi.



Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan

pria

yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.



Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?



Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai

seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ¢kan

betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh

karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di

antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak

sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri

di benak saya,

ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para

pejabat.

Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi

di PPATK.

Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan

menteri, mantan

menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.



Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang

melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?



Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli,

terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi.

Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman

Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup.

Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya

sendiri korupsi.



Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru

membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur,

dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya

korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya,

yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda.

Baru kemudian ke

kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda

Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang

bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau

petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi,

dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.



Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam,

seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha ,

mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh

karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau

kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.



Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan

karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana?



Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.



Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?



Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita

menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita

jatuh

kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam.

Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau

polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya

harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat

gara-gara korupsi, kenapa tidak.

Apa yang harus ditakutkan. Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi

bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya

justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya

banyak korupsi.



Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi

bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar

mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang

mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?



Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih

mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian

jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya,

seperti orang

yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang

anggaran

sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari.

Orang-orang

yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya,

bagian keuangan,

kepala projek, dan rekanan. Itu saja.

Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam

memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui,

itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi,

saat memegang sebuah jabatan.



Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda.

Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang.

Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya,

jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit

banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang

sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah

lebih

 dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih

besar dari saya.



Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus

korupsi?



Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di

dalam, baru

membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami.

Kami akan

genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus

korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu

asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi

kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa

dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang

masuk.



Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot.

Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi,

salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang

terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap

ada perkara yang masuk. Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak

mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu,

bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut,

nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil,

 polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal

lapor

boleh di mana saja.



Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan mengirim

surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan

ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala.

Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui

semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak

suka yang pabaliut-pabaliut.



Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak

tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?



Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan

akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim.

Menurut Anda?



Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran

sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien

yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh?

Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita

tidak perlu sok pahlawan.



Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada

lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor

ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan

pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi

sistem setoran.



Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena

mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari

setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan

penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya.

Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.



Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan

kepolisian?



Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang

boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan

ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.



Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan

dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat

dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng , tetapi

anak

buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan

standar.

Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) ,

sementara

rakyat macet. Itu juga korupsi.



Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup

dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan

pelacur.(Kutipan dari Pikiran Rakyat selesai)



      
____________________________________________________________________________________
Looking for last minute shopping deals?  
Find them fast with Yahoo! Search.  
http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping


--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke