menarik untuk dicermati langkah yang dilakukan oleh Kapolda Jabar, mudah2an bukan sekedar lips service
2008/2/19 Ardian Pettrucci <[EMAIL PROTECTED]>: > lumayan untuk intermezzo, dan semoga ini tidak menjadi anget-anget tai > ayam... > > ================================================================ > Berita menarik > > Kapolda Jabar bikin kejutan > > yang menggembirakan > > Berikut di bawah ini disajikan berita yang sangat menarik -- dan sangat > > penting !--, yang dimuat oleh harian Pikiran Rakyat (Bandung) edisi 10 > > Februari 2008, tentang tekad Kapolda Jabar Drs Susno Duadji dalam > menangani > > pemberantasan korupsi. Tekadnya yang keras itu tercermin dalam ungkapannya > > yang berani, terus-terang, dan jelas tentang jahatnya korupsi yang sudah > > sejak lama merajalela di negeri kita. Mengingat bahwa pandangan-pandangan > > Kapolda Jabar ini merupakan sesuatu yang "agak lain" daripada pernyataan > > para "tokoh" lainnya di negeri kita, dan mengingat juga bahwa banyak > > kalangan perlu mengetahui tentang adanya fenomena yang memberikan harapan > > akan adanya perbaikan moral yang sudah sangat bobrok di negeri kita ini, > > maka berikut ini disiarkan kembali teks berita itu selengkapnya. > > Bisa diharapkan bahwa suara Kapolda Jabar Susno Duadji akan merupakan > "angin > > segar" bagi kehidupan negara yang sudah lama dipenuhi bau busuk karena > > kebejatan moral yang berupa korupsi (ingat, antara lain : kekayaan > Suharto, > > anak-anak Suharto, para kroninya yang bikin ruwet BLBI, soal dana Bank > > Indonesia, korupsi di kalangan Mahkamah Agung, DPR, dan Kejaksaan Agung > dll > > dll dll) > > Jelas sekali bahwa negeri kita memerlukan pemimpin-pemimpin yang > betul-betul > > mempunyai kemauan keras dan ketulusan hati untuk membongkar > > kejahatan-kejahatan di kalangan elite bangsa. Kita butuhkan banyak > > sosok-sosok seperti Kapolda Susno Duadji. Mudah-mudahan, apa-apa yang > secara > > baik dilakukan di Jawa Barat ini akan bisa menjadi teladan bagi seluruh > > Indonesia. > > A. Umar Said > > · * * > > · > > Teks berita, yang aslinya berjudul "Jangan pernah setori saya" itu adalah > > sebagai berikut : > > "RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc > ., > > mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres > > hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak > pagi > > karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB. > > Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski > > dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak". > > Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang > kesiapan > > mereka menjalani > > perintah tersebut. > > Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di > lapangan > > (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak > > perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah > > cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita > > ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur > pria > > kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu. > > Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat > > AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. > Isi > > kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada > masyarakat > > yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya. > > Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, > > dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang > nakal, > > saatnya main > > copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu. > > Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di > > lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke > > pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak > > lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala > > PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah > sebuah > > lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) > > menggiring para koruptor ke jeruji besi. > > Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri > dengan > > pria > > yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi. > > Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi? > > Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai > > seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ¢kan > > betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh > > karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis. > > Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di > > antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak > > sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, > terpatri > > di benak saya, > > ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh > para > > pejabat. > > Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat > mengabdi > > di PPATK. > > Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan > > menteri, mantan > > menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin. > > Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang > > melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar? > > Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, > > terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. > > Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman > > Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. > > Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau > kitanya > > sendiri korupsi. > > Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru > > membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, > > dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya > > korupsi, tamatlah republik ini. > > Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, > > yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di > Polda. > > Baru kemudian ke > > kapolwil, kapolres, dan seterusnya. > > Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda > > Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang > > bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau > > petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi, > > dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu. > > Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, > > seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha , > > mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh > > karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau > > kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka. > > Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan > > karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? > > Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu. > > Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai > kapan? > > Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita > > menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama > kita > > jatuh > > kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. > > Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau > > polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran. > > Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya > > harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat > > gara-gara korupsi, kenapa tidak. > > Apa yang harus ditakutkan. Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi > > bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya > > justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang > anggotanya > > banyak korupsi. > > Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi > > bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda > Jabar > > mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang > > mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama? > > Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih > > mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus > pencurian > > jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, > > seperti orang > > yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya. > > Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, > uang > > anggaran > > sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. > > Orang-orang > > yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, > > bagian keuangan, > > kepala projek, dan rekanan. Itu saja. > > Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam > > memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, > > itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, > > saat memegang sebuah jabatan. > > Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. > > Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. > > Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau > saya, > > jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit > > banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang > > sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. > Sudah > > lebih > > dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih > > besar dari saya. > > Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap > kasus > > korupsi? > > Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih > di > > dalam, baru > > membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target > kami. > > Kami akan > > genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar. > > Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus > > korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu > > asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi > > kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa > > dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang > > masuk. > > Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. > > Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, > > salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang > > terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap > > ada perkara yang masuk. Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak > > mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, > > bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, > > nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, > polwil, > > polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal > > lapor > > boleh di mana saja. > > Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan mengirim > > surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan > > ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. > > Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui > > semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak > > suka yang pabaliut-pabaliut. > > Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak > > tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak? > > Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar > kemungkinan > > akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang > minim. > > Menurut Anda? > > Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau > anggaran > > sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien > > yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? > > Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita > > tidak perlu sok pahlawan. > > Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada > > lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse > setor > > ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan > > pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi > > sistem setoran. > > Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena > > mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari > > setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan > > penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta. > > Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. > > Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha. > > Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan > > kepolisian? > > Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang > > boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang > dan > > ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik. > > Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan > > dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat > > dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng , > tetapi > > anak > > buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan > > standar. > > Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , > > sementara > > rakyat macet. Itu juga korupsi. > > Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup > > dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan > > pelacur.(Kutipan dari Pikiran Rakyat selesai) > > __________________________________________________________ > Looking for last minute shopping deals? > Find them fast with Yahoo! Search. > http://tools.search.yahoo.com/newsearch/category.php?category=shopping > > -- Kurniawan I Kanwil DJP Kaltim www.kurniawan.co.nr
