Dear all,
Masalah crude mana yang diolah tergantung dari konfigurasi kilangnya. Seperti 
contoh di kilang cilacap dimana ada 2 fuel oil complex. Fuel Oil Complex I (FOC 
I) berkapasitas 118 MBPD (ribu bbl per hari) didesain mengolah ALC Arabian 
Light Crude yang lebih bersifat parafinik (hidrokarbon rantai lurus) dan sour 
(kandungan sulfurnya tinggi) yang residuenya dapat diolah lebih lanjut menjadi 
lube base (bahan dasar pelumas). Sedangkan Fuel Oil Complex II (FOC II) 
berkapasitas 230 MBPD didesain untuk crude domestik Ardjuna-Attaka yang 
bersifat naftenik (hidrokarbon rantai siklis) dan sweet (kandungan sulfur 
rendah) yang diharapkan produk naphtha-nya dapat diolah lebih lanjut menjadi 
produk petrokimia (para-Xylene & Benzene).
 
Sedangkan kualitas produk PKS yang dihasilkan tetap mengacu spesifikasi yang 
ada. Jadi walaupun FOC I mengolah sour crude, terdapat beberapa unit yang 
mencegah tingginya kandungan sulfur di produk PKS misalnya NHT (Naphtha 
Hydrotreater) dan Naphtha Merox (Mercaptan Oxydation) untuk produk premium dan 
HDS (Hydro Desulfurization) untuk produk Kero sedangkan untuk ADO (Automotive 
Diesel Oil)/Solar dilakukan blending dengan solar dari FOC II yang lebih rendah 
kandungan sulfurnya hingga sesuai spec max 3500 ppm-wt sulfur.
 
Dalam pengolahan heavy crude (lebih atraktif dari segi harga), kilang cilacap 
terlebih dahulu melakukan blending dengan light & medium crude sehingga 
diperoleh crude blend yang mendekati spesifikasi crude desain dan  mempunyai 
yield (perolehan) PKS yang optimum tapi tetap mengacu pada batasan kualitas 
produk PKS yang diinginkan. Pada umumnya pengolahan heavy crude hanya akan 
berpengaruh terhadap kinerja alat penukar panas (lebih cepat kotor/buntu), 
meningkatnya kebutuhan refinery fuel (bahan bakar untuk pemanas crude di 
kilang) dan produk residue yang meningkat. Sehingga pengolahan heavy crude 
sebenarnya tidak akan menurunkan kualitas produk PKS tapi hanya mengurangi 
yield (perolehan) PKS karena produk residue yang bertambah. Untuk itu dalam 
rangka menaikkan yield valuable produk, Pertamina Cilacap sedang dalam tahap 
pembangunan unit RFCC (Residual Fluid Catalytic Cracking) untuk mengolah 
residue menjadi produk2 valuable seperti PKS.  
 
Kembali lagi ke masalah subsidi sesuai pertanyaan bang Komar, jadi sebelum 
harga BBM subsidi naik pun sudah diprediksi jika gonjang-ganjing harga crude 
pada level yang sekarang ini, maka defisit anggaran tahun 2008 diperkirakan 
adalah 3%. Maka dengan menaikkan harga BBM bersubsidi diharapkan beban subsidi 
tidak bertambah atau bahkan berkurang dan akan membantu menurunkan defisit 
anggaran tsb. CMIIW. 
 
Tapi apakah tidak ada pos anggaran lain yang bisa ditekan selain subsidi BBM 
yang hanya 3% GDP. Sebab kita tahu bersama bahwa inflasi sangat sensitif 
terhadap kenaikan harga BBM. 
 
rgds,
 
Arafat Bayu Nugroho
Nothing
Nowhere
 

________________________________

From: [email protected] on behalf of Morry Infra
Sent: Mon 5/19/2008 4:12 PM
To: [email protected]
Subject: [Likely Spam]Re: [sma1bks] Subsidi BBM



Export minyak mentah yang bagus (light crude) yang harganya mahal... terus beli 
heavy crude yang harganya lebih murah buat di-refinary.... itukan menguntungkan 
dari selisih harga sejumlah volume yang dijual dan dibeli.
Walaupun at the end rugi juga... karena turunan minyak (Premium, Solar, Kerosin 
dll) yang dihasilkan kualitasnya gak bagus dan bahkan ngerusak mesin.... lebih 
banyak biaya buat perbaikan mesin.

Salam,
Morry Infra
+966-533214840
On 5/19/08, komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote: 

        gue coba memahami cuma antena gue gak nyampe yah. intinya khan kalo 
maen itung2an eksisting emang bener yah BBM kudu naik gitu. Cuman defisitnya 
cuma 3% gitu ya fat...
        
        yang mau gue tanya emangnya segoblok bangsa ini sehingga kita cuman 
bisa nyedot minyak mentah trus ekspor lalu kita kudu impor lagi.
        
        tolong jelasin pak....Morry juga yah....
        
        
        2008/5/19 Morry Infra <[EMAIL PROTECTED] <mailto:[EMAIL PROTECTED]> >:
        

                

                Boss Arafat,
                 
                Thanks udah share dari sisi Down Stream.....
                Kalau dari orang up stream (mong omong orang2 IATMI di KL dan 
Saudi), itung2an kasar Pak Kwik soal Crude perlu dikoreksi biaya lifting... 
yang berbeda di tiap field dan operator.... artinya walaupun jumlah produksi 
kita let's say 900 ribu per hari paling yang milik negara setelah dipotong 
ongkos lifting dan PSC term cuma 450 ribuan per hari (CMIIW)...
                Belum lagi ketika dijual dan terus beli dari luar dan 
diolah.... keuntungan jual crude bagus (light crude) dan beli crude jelek 
(heavy crude) buat diolah jadi abis karena crude jelek presentasi hasilnya juga 
rendah.... belum lagi fuel yang dihasilkan, kualitasnyapun kurang bagus 
dibandingkan kalau me-refine light crude.
                Belum lagi kebutuhan dalam negeri soal fuel yang luar biasa 
besarnya.... plus harus mensubsidi dari Sabang sampai Merauke...
                Praktis kita memang sedikit kekurangan... walau tidak sebesar 
angka2 yang dibilang pemerintah...
                Negara kita saat ini memang untung sangat sedikit ketimbang 
dibilang banyak seperti hitungan Pak Kwik dan Arafat di bawah.
                Dan usulan Arafat di alinea terakhir.... sangat bener dan 
didukung.....
                 
                Salam,
                Morry Infra
                +966-533214840
                 
                On 5/19/08, Arafat Bayu. Nugroho <[EMAIL PROTECTED] 
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 

                        

                        Dear all,
                        Sorry for late response.
                         
                        Kind regards,
                         
                         
                        Arafat Bayu Nugroho
                        Nothing
                        Nowhere
                         

                        

                        



                 
                




        -- 
        Komarudin Ibnu Mikam
        WTS - Writer Trainer Speaker
        komarmikam.multiply.com <http://komarmikam.multiply.com/> 
        0818721014
        karya-karya ;
        sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
        prahara buddenovsky (GIP)
        dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
        sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
        nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
        merit yuk! (qultum media)
        rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
        

        

        

        


 

<<winmail.dat>>

Kirim email ke