Anarkis No, Kesesatan Yes
On 6/7/08, Adi Pradana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> "Islam Menjawab Ahmadiyah"
>
>
>
>
>
> Senin, 02 Juni 2008
>
>
> var sburl7873 = window.location.href; var sbtitle7873 = document.title;
>
> var sbtitle7873=encodeURIComponent(""Islam Menjawab Ahmadiyah""); var
> sburl7873=decodeURI("http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6948");
> sburl7873=sburl7873.replace(/amp;/g,
> "");sburl7873=encodeURIComponent(sburl7873);
>
>
> Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, permainan media sangat canggih
> bisa menjadi fitnah bagi umat Islam. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian
> ke-236
>
> Oleh: Adian Husaini
> Harian Republika (23 Mei 2008) menurunkan artikel berjudul "Ahmadiyah
> Menjawab", karya MB Shamsir Ali SH SHD, Plt. Sekretaris Media dan Informasi
> Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Isinya berupa penegasan bahwa Ahmadiyah adalah
> satu Jamaah Islam. Sejak keluarnya artikel tersebut, saya menerima sejumlah
> SMS yang meminta agar artikel tersebut dijawab.
> Syukurlah, pada 26 Mei 2008, Republika menurunkan artikel Dr. Syamsuddin
> Arif yang berjudul "Solusi Masalah Ahmadiyah". Artikel ini dengan
> sangat gamblang menjelaskan apa dan bagaimana Ahmadiyah dan mengapa para
> cendekiawan dan ulama besar di dunia Islam sudah menegaskan bahwa Ahmadiyah
> adalah aliran di luar Islam. Catatan berikut ini akan lebih memperjelas
> bagaimana sebenarnya posisi Ahmadiyah dan Islam, khsusunya dari sisi pandang
> Ahmadiyah sendiri.
> Dalam berbagai artikel dan dialog di media massa Indonesia, para tokoh
> Ahmadiyah dan pendukungnya – yang biasanya mengaku bukan pengikut Ahmadiyah
> – sering mengangkat "logika persamaan". Bahwa, Ahmadiyah adalah bagian dari
> Islam, karena banyak persamaannya. Al-Quran-nya sama, syahadatnya sama,
> shalatnya sama, dan hal-hal yang sama lainnya. Maka, kata mereka, demi
> keharmonisan hidup dan kerukunan masyarakat, mengapa Ahmadiyah tidak diakui
> saja sebagai bagian dari Islam.
> Benarkah logika semacam ini?
> Penyair dan cendekiawan Muslim terkenal asal Pakistan, Dr. Muhammad Iqbal
> (1873-1938), pernah menulis sebuah buku berjudul "Islam and Ahmadism" (Tahun
> 1991 di-Indonesiakan oleh Makhnun Husein dengan judul "Islam dan Ahmadiyah".
> Terhadap klaim Mirza Ghulam Ahmad bahwa dia adalah nabi dan penerima wahyu,
> Iqbal mencatat: "Orang yang mengakui mendapatkan wahyu seperti itu adalah
> orang yang tidak patuh kepada Islam. Karena kelompok Qadiani mempercayai
> pendiri gerakan Ahmadiyah sebagai penerima wahyu semacam itu, berarti mereka
> menyatakan bahwa seluruh dunia Islam adalah kafir."
> Lebih jauh Iqbal menyatakan: "Setiap kelompok masyarakat keagamaan yang
> secara historik timbul dari Islam, yang mengakui kenabian baru sebagai
> landasannya dan menyatakan semua ummat Muslim yang tidak mengakui kebenaran
> wahyunya itu sebagai orang-orang kafir, sudah semestinya dianggap oleh
> setiap Muslim sebagai bahaya besar terhadap solidaritas Islam. Hal itu
> memang sudah semestinya, karena integritas ummat Islam dijamin oleh Gagasan
> Kenabian Terakhir (Khatamun Nabiyyin) itu sendiri."
> Dalam menilai Ahmadiyah, Iqbal tidak terjebak kepada retorika logika
> persamaan. Iqbal mengacu pada inti persoalan, bahwa Ahmadiyah berbeda dengan
> Islam, sehingga dengan tegas ia menulis judul bukunya, Islam and Ahmadism.
> Titik pokok perbedaan utama antara Islam dan Ahmadiyah adalah pada status
> kenabian Mirza Ghulam Ahmad; apakah dia nabi atau bukan? Itulah pokok
> persoalannya.
> Umat Islam yakin, setelah nabi Muhammad saw, tidak ada lagi manusia yang
> diangkat oleh Allah sebagai nabi dan mendapatkan wahyu. Tidak ada! Secara
> tegas, utusan Allah itu sendiri (Muhamamd saw) yang menegaskan:
> "Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta. Masing-masing
> mengaku sebagai nabi. Padahal, akulah penutup para nabi, tidak ada lagi nabi
> sesudahku." (HR Abu Dawud).
> Jadi, umat Islam yakin, siapa pun yang mengaku sebagai nabi dan mendapat
> wahyu setelah nabi Muhammad saw – apakah Musailamah al-Kazzab, Lia Eden,
> atau Mirza Ghulam Ahmad – pasti bohong. Itu pasti! Inilah keyakinan Islam.
> Karena itu, pada 7 September 1974, Majelis Nasional Pakistan menetapkan
> dalam Konstitusi Pakistan, bahwa semua orang yang tidak percaya kepada Nabi
> Terakhir Muhammad secara mutlak dan tanpa syarat telah keluar dari kelompok
> umat Islam.
> Sikap umat Islam terhadap Ahmadiyah sebenarnya juga dilakukan berbagai agama
> lain. Protestan harus menjadi agama baru karena menolak otoritas Gereja
> Katolik dalam penafsiran Bibel, meskipun antara kedua agama ini banyak
> sekali persamaannya. Tahun 2007, sebagian umat Hindu di Bali membentuk agama
> baru bernama agama Hindu Bali, yang berbeda dengan Hindu lainnya. Agama
> Kristen dan Yahudi mempunyai banyak persamaan. Bibel Yahudi juga dipakai
> oleh kaum Kristen sebagai kitab suci mereka (Perjanjian Lama). Tapi,
> karena Yahudi menolak posisi Yesus sebagai juru selamat, maka keduanya
> menjadi agama yang berbeda.
> Logika persamaan harus diikuti dengan logika perbedaan, sebab "sesuatu"
> menjadi "dirinya" justru karena adanya perbedaan dengan yang lain. Meskipun
> banyak persamaannya, manusia dan monyet tetap dua spesies yang berbeda.
> Akal-lah yang menjadi pembeda utama antara manusia dengan monyet. Setampan
> apa pun seekor monyet, dia tidak akan pernah bisa menjadi seorang manusia.
> Jika umat Islam bersikap tegas dalam soal kenabian Mirza Ghulam Ahmad, pihak
> Ahmadiyah juga bersikap senada. Siapa pun yang tidak beriman kepada kenabian
> Ghulam Ahmad, dicap sebagai sesat, kafir, atau belum beriman. Itu bisa
> dilihat dalam berbagai literatur yang diterbitkan Ahmadiyah.
> Pada tahun 1989, Yayasan Wisma Damai – sebuah penerbit buku Ahmadiyah –
> menerjemahkan buku berjudul Da'watul Amir: Surat Kepada Kebenaran, karya
> Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Oleh pengikut Ahmadiyah, penulis
> buku ini diimani sebagai Khalifah Masih II/Imam Jemaat Ahmadiyah
> (1914-1965). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Urdu, dan pada tahun
> 1961, terbit edisi Inggrisnya dengan judul "Invitation to Ahmadiyyat".
> Para pendukung Ahmadiyah – dari kalangan non-Ahmadiyah – baiknya membaca
> buku ini, sebelum bicara kepada masyarakat tentang Ahmadiyah. Ditegaskan di
> sini: "Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak dapat
> menjumpai Allah Ta'ala di luar Ahmadiyah." (hal. 377).
> Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku sebagai Masih al-Mau'ud mewajibkan umat
> Islam untuk mengimaninya. Kata Bashiruddin Mahmud Ahmad: "Kami sungguh
> mengharapkan kepada Anda agar tidak menangguh-nangguh waktu lagi untuk
> menyongsong dengan baik utusan Allah Ta'ala yang datang guna menzahirkan
> kebenaran Rasulullah saw. Sebab, menyambut baik kehendak Allah Taala dan
> beramal sesuai dengan rencana-Nya merupakan wahana untuk memperoleh banyak
> keberkatan. Kebalikannya, menentang kehendak-Nya sekali-kali tidak akan
> mendatangkan keberkatan." (hal. 372).
> Menurut Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad – yang oleh kaum Ahmadiyah juga
> diberi gelar r.a. (radhiyallahu 'anhu), setingkat para nabi --
> bukti-bukti kenabian Mirza Ghulam Ahmad lebih kuat daripada
> dalil-dalil kenabian semua nabi selain Nabi Muhammad saw. Sehingga, kata
> dia: "Apabila iman bukan semata-mata karena mengikuti dengaran dari tuturan
> ibu-bapak, melainkan hasil penyelidikan dan pengamatan, niscaya kita
> mengambil salah satu dari kedua hal yaitu mengingkari semua nabi atau
> menerima pengakuan Hadhrat Masih Mau'ud a.s." (hal. 372).
> Jadi, oleh kaum Ahmadiyah, umat Islam diultimatum: iman kepada Ghulam Ahmad
> atau ingkar kepada semua nabi? Bandingkan logika kaum Ahmadiyah
> ini dengan ultimatum Presiden George W. Bush: "You are with us or with the
> terrorists". Oleh Ahmadiyah, umat Islam dipojokkan pada posisi yang
> tidak ada pilihan lain kecuali memilih beriman kepada para nabi dan menolak
> klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad.
> Masih belum puas! Umat Islam diultimatum lagi oleh pemimpin Ahmadiyah ini:
> "Jadi, sesudah Masih Mau'ud turun, orang yang tidak beriman kepada beliau
> akan berada di luar pengayoman Allah Taala. Barangsiapa yang menjadi
> penghalang di jalan Masih Mau'ud a.s, ia sebenarnya musuh Islam dan ia tidak
> menginginkan adanya Islam." (hal. 374).
> Jadi, begitulah pandangan dan sikap resmi Ahmadiyah terhadap Islam dan umat
> Islam. Dan itu tidak aneh, sebab Mirza Ghulam Ahmad sendiri mengaku pernah
> mendapat wahyu seperti ini: Anta imaamun mubaarakun, la'natullahi
> 'alalladzii kafara (Kamu – Mirza Ghulam Ahmad – adalah imam yang diberkahi
> dan laknat Allah atas orang yang ingkar/Tadzkirah hal. 749). Ada lagi wahyu
> versi dia: "Anta minniy bimanzilati waladiy, anta minniy bimanzilatin laa
> ya'lamuha al-khalqu. (Kamu bagiku berkedudukan seperti anak-Ku, dan kamu
> bagiku berada dalam kedudukan yang tidak diketahui semua makhluk/Tadzkirah,
> hal. 236).
> Itulah Ahmadiyah, yang katanya bersemboyan: "Love for all. Hatred for None".
> Namanya juga slogan! Zionis Israel pun juga mengusung slogan "menebar
> perdamaian, memerangi terorisme". Kaum Ahmadiyah pun terus-menerus
> menteror kaum Muslim dengan penyebaran pahamnya.
> Dalam Surat Edaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia tanggal 25 Ihsan 1362/25 Juni
> 1983 M, No. 583/DP83, perihal Petunjuk-petunjuk Huzur tentang Tabligh dan
> Tarbiyah Jama'ah, dinyatakan:
> "Harus dicari pendekatan langsung dalam pertablighan. Hendaknya
> diberitahukan dengan tegas dan jelas bahwa sekarang dunia tidak dapat
> selamat tanpa menerima Ahmadiyah. Dunia akan terpaksa menerima Pimpinan
> Ahmadiyah. Tanpa Ahmadiyah dunia akan dihimpit oleh musibah dan kesusahan
> dan jika tidak mau juga menerima Ahmadiyah, tentu akan mengalami
> kehancuran."
> Umat Islam sangat cinta damai. Tetapi, umat Islam tentunya lebih cinta
> kepada kebenaran. Demi cintanya kepada kebenaran dan juga pada ayahnya, maka
> Nabi Ibrahim a.s. berkata kepada ayahnya, "Aku melihatmu dan kaummu dalam
> kesesatan yang nyata!"
> Nabi Ibrahim a.s. dan semua Nabi adalah para pecinta perdamaian. Rasulullah
> saw juga pecinta damai. Tetapi, dalam masalah aqidah, kebenaran lebih
> diutamakan. Nabi Ibrahim harus mengorbankan kehidupannya yang harmonis
> dengan keluarga dan kaumnya, karena beliau menegakkan kalimah tauhid. Beliau
> menentang praktik penyembahan berhala oleh kaumnya, meskipun beliau harus
> dihukum dan diusir dari negerinya.
> Dalam kasus Nabi palsu, misalnya, Nabi Muhammad saw dan juga sahabat Abu
> Bakar ash-Shiddiq lebih memilih mengambil sikap yang tegas, sebab ini sudah
> menyangkut soal aqidah, soal keimanan. Jangankan dalam soal kenabian. Dalam
> masalah kenegaraan saja, orang yang membuat gerakan separatis atau merusak
> dasar negara juga dikenai tuntutan hukum. Kaum separatis, meskipun melakukan
> aksi damai, berkampanye secara damai untuk mendukung aksi separatisme, tetap
> tidak dapat dibenarkan. Jadi, kalau orang berkampanye merusak Islam, seperti
> yang dilakukan oleh Ahmadiyah dan para pendukungnya, tetap tidak dapat
> dibenarkan dalam ajaran Islam.
> Masalah aqidah, masalah iman, inilah yang jarang dipahami, atau sengaja
> diketepikan dalam berbagai diskusi tentang Ahmadiyah. Padahal, Ahmadiyah
> eksis adalah karena iman. Berbagai kelompok yang mendukung Ahmadiyah di
> Indonesia sebenarnya sudah sangat keterlaluan, karena mencoba untuk
> menafikan masalah iman ini. Bahkan tindakan-tindakan mereka – apalagi yang
> mengatasnamakan Islam dan menggunakan dalil-dalil Al-Quran -- lebih merusak
> Islam ketimbang Ahmadiyah itu sendiri.
> Umat Islam Indonesia memang sedang menghadapi ujian berat. Hal-hal yang
> jelas-jelas bathil malah dipromosikan. Lihatlah TV-TV kita saat ini, begitu
> gencarnya menyiarkan aksi-aksi kaum homo dan lesbi, seolah-olah mereka tidak
> takut pada azab Allah yang telah ditimpakan kepada kaum Luth. Bahkan, para
> aktivis Liberal seperti Guntur Romli, pada salah satu tulisannya di Jurnal
> Perempuan, dengan sangat beraninya memutarbalikkan penafsiran ayat-ayat
> Al-Quran, sehingga akhirnya menghalalkan perkawinan sesama jenis.
> Aktivis liberal yang satu ini juga sudah sangat keterlaluan dalam menghina
> Al-Quran. Dia menulis dalam salah satu artikelnya (Koran Tempo, 4 Mei 2007),
> yang berjudul "Pewahyuan Al-Quran: Antara Budaya dan Sejarah" bahwa:
> "Al-Quran adalah "suntingan" dari "kitab-kitab" sebelumnya, yang disesuaikan
> dengan "kepentingan penyuntingnya". Al-Quran tidak bisa melintasi "konteks"
> dan "sejarah", karena ia adalah "wahyu" budaya dan sejarah."
> Kita juga tidak mudah memahami pemikiran dan kiprah tokoh liberal lain
> seperti Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, dosen UIN Jakarta, yang begitu
> beraninya membuat-buat hukum baru yang menghalalkan perkawinan
> muslimah dengan laki-laki non-Muslim dan perkawinan manusia sesama jenis.
> Meskipun sudah mendapat kritikan dari berbagai pihak, tetap saja dia tidak
> peduli. Bahkan, di Jurnal Perempuan edisi khusus tentang Seksualitas
> Lesbian, dia memberikan wawancara yang sangat panjang. Judul wawancara itu
> pun sangat provokatif: "Allah Hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual
> Manusia."
> Di zaman yang penuh dengan fitnah saat ini, karena permainan media yang yang
> sangat canggih, berbagai fitnah dapat menimpa umat Islam. Orang-orang yang
> jelas-jelas merusak Islam ditampilkan sebagai pahlawan kemanusiaan.
> Sedangkan yang membela Islam tidak jarang justru dicitrakan sebagai
> "penjahat" kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, disamping terus-menerus
> berusaha menjelaskan, mana yang haq dan mana yang bathil, kita juga
> diwajibkan untuk berserah diri kepada Allah SWT. Kita yakin, dan tidak
> pernah berputus asa, bahwa Allah adalah hakim Yang Maha Adil. [Depok, 25 Mei
> 2008/www.hidayatullah.com]Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah
> hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
>
>
>
--
The New World is not America
It is Internet
.....and I wanna take my share in the New World
------------------------------------
--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].
Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks,
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sma1bks/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/