heran... masih byk aja orang yg mau ngambil KTA dari Bank Asing model SCB dll.. padahal, bunga yg diberlakukan sangat tinggi layaknya rentenir.. mereka selalu bilang bunga rendah, hanya satu koma sekian persen. Tapi tidak pernah disebutkan bahwa bunga itu adalah bunga bulanan, yg kalo ditotal setahun bungan mencapai 20%.
untuk kasus yg dibicarakan, tidak ada comment.. dua-duanya salah. kesalahan konsumen. kenapa bisa nunggak sampai 2 bulan? kalau dikatakan punya itikad baik, seharusnya pas nunggak satu bulan sudah melapor dan menjelaskan permasalahan yg dihadapi. kenapa harus menunggu sampai dua bulan? itu pun setelah ditelp oleh pihak bank. bank juga salah karena menagih dgn cara yg tidak beretika. sudah byk sekali cerita seperti ini, baik itu yg beredar dari milis ke milis, atau yg sempat masuk surat pembaca di media. dari sudut pandang pemasaran (marketing), khususnya branding, ini tidak baik buat merek tersebut karena merusak citranya... tapi, buktinya, data menunjukkan jumlah kredit konsumsi terus meningkat dari tahun ketahun, demikian juga dengan jumlah pengguna kartu kredit. artinya, cerita-cerita kek gini tidak membuat pembacanya menjadi jera. begitu ketemu sama agent (sales) kartu kredit atawa KTA, langsung keingetan sama TV di rumah yg masih layar cembung, dan dalam benaknya berpikir, enak kali yah kalo nonton pake TV LCD. yah ud, mumpung ada yg nawarin utang, disikat ajah jadi, pikir panjang lah sebelum berurusan sama kredit di bank. ingat, jumlah maksimal cicilan kredit adalah 25% dari total penghasilan rumah tangga (suami dan istri bagi yg sudah berkeluarga). lebih dari itu, Anda memang sengaja membuat hidup Anda tidak tenang. 2008/7/9 andito aja <[EMAIL PROTECTED]>: > catatan: yg dimaksud adalah bank konvensional internasional, bukan bank > milik pemerintah RI. > > > ----- Forwarded Message ---- > From: andito aja <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Tuesday, July 8, 2008 11:01:47 AM > Subject: Re: [karisma] Fw: Oh,STANDARDCHARTERED BANK... Nunggak, atau > Ngemplang saja! > > Salam. > > Sejauh yang saya tahu, bank pemberi Kartu Kredit (KK) dan Kredit Tanpa > Agunan (KTA) sejak awal sudah menyadari bahwa posisi mereka lemah karena > memberikan pinjaman tanpa garansi apa pun. Karena itu mereka melakukan teror > psikis melalui surat, telepon hingga debt collector agar si penunggak > bergegas membayar, dengan cara apa pun mereka ga peduli. > > Apakah posisi bank memang lemah? Tidak. Saat mereka memberikan pinjaman > kepada nasabahnya, mereka telah lebih dahulu bekerjasama dengan asuransi.. > Sehingga bila sewaktu2 terjadi kemacetan, nilai tunggakan itu akan dihandle > oleh asuransi. > > Tapi, yg namanya bank selalu berupaya mencari untung segede2nya. Meskipun > asuransi sudah menjamin penggantian uang tsb, mereka masih mencoba sekuat > tenaga agar uang yg di nasabah kembali juga. Artinya, mereka mendapatkan 2 > kali pembayaran: dari nasabah dan asuransi. Makanya tidak heran, bila ada > nasabah yg kesulitan membayar, dan setelah didatangi debt collector jg masih > sulit bayar, maka bank secara "bijaksana" menawarkan program penjadwalan > baru, misalnya rentang pembayarannya diperpanjang sehingga nominalnya tidak > memberatkan. Atau bila tidak berhasil juga, mereka "berbelas kasih" dengan > memotong total tagihan hingga 50% atau lebih. > > Bila ternyata nasabah tetap tidak mampu membayar, maka bank tidak bisa > berbuat apa2. Status hukum pinjaman KK dan KTA bukan semacam pendirian CV yg > kalo bangkrut tetap dikejar2 hingga kalo perlu menjual celana dalamnya. > > Dan bank tidak pernah merugi. Dari bunga yg mereka bebankan saja sudah > luarbiasa. Tiap bulan sekitar 2-4%. Setahun bisa mencapai 48%. Bandingkan > dengan bunga deposito yg paling banter hanya 10% per tahun. Dan kita semua > tahu, dengan sistem minimum payment, nasabah dikondisikan tetap menjadi > pengutang seumur hidup karena hutangnya tidak bisa lunas2. > > Kita semua tahu, bahwa berhubungan dengan bunga bank, apalagi menjadi > pendukungnya, adalah haram. Inilah akar dari kapitalisme. > > Kalo anda berani, tidak membayar pun tidak masalah. > Kalo anda berani tapi sdkt mau kompromis, bayar saja honor debt collector > sekadarnya, atau kontak pengacara yg biasa nangani masalah perhutangan. > Biasanya biayanya 10-15% dari total tagihan. > Kalo anda ingin aman, nego saja agar anda bisa membayar hanya hutang > pokoknya saja (tanpa bunga) dengan penjadwalan baru > Kalo anda agak takut, dengan segala petimbangan psikis dan keluarga, bayar > saja semua hutang dan bunga yg sudah tercetak dengan ketentuan tidak > dibebankan bunga baru (karena itu sama saja bayar hutang seumur hidup) > Kalo anda benar2 takut, bayar saja hutang baru plus bunga sebagaimana > maunya bank. > > Dalam ranah politik, kasus ngemplang kepada bank riba sudah biasa.. > Contohnya Argentina yg hanya mau membayar hutang SETELAH rakyatnya > sejahtera. Teman2 di Koalisi Anti Utang juga menyerukan hal yg sma, mulai > dari moratorium hingga pemutihan. Istilah dari subjek pengutang adalah > ngempalng/tidak membayar. Istilah legalnya adalah pemutihan. > > Dan kita sebagai warga Indonesia telah merasakan derita utang bunga > berbunga-bunga setelah penyerahan kedaulatan. Belanda mau melepas Indonesia > setelah INdonesia mau membayar semu hutang dan biaya perang. Luar biasa! > > Sejauh yg saya tahu, dengan cara inilah zionisme dan kapitalisme bisa > memperkaya dan memperkuat diri tanpa mengeluarkan tenaga dan uang > sedikitpun. > > Mereka cukup mendirikan bank. Mereka tampung uang orang lain. Kemudian > mereka gunakan uang orang lain utk investasi di tempat lain. Bila investasi > itu gagal, bank bisa nyatakan diri bangkrut dan nasabah tidak mendapat > penggantian apapun. > > Bila investasi mereka berhasil, atau saat yg sama ketika menerima uang > orang2 itu, mereka tawarkan uang itu kepada orang2 lain yg mau meminjam > dengan tambahan bunga. Jadi, bank dapat duit gratis dari A, kemudian bank > pinjamkan uang kepada B dengan sistem bunga berbunga (tentu nominalnya lebih > besar daripada bunga yg bank berikan kepada A). Kalo bank tidak punya > nasabah, mereka bisa cetak uang sendiri dengan kolaborasi dengan negara. > > > Oya, sambil berempati kepada korban bank, anda bisa klik http://www.mediakon > sumen.com/ Artikel403. html > <http://www.mediakonsumen.com/Artikel403.html> > atau cari di google item "tunggakan kartu kredit". > > Menurutku, uang/moneter adalah dajjal yg sesungguhnya. Ia awalnya hanya > mediator, alat tukar, bukan realitas. Tapi lama kelamaan alat tukar ini > menjadi komoditi itu sendiri, menjadi makhluk hidup dan kita hidup-hidupkan. > Terbukti, tidak ada orang di dunia ini yg tidak butuh uang. Dulu uang adalah > simbol dari kepemilikan logam mulia seperti emas. Tapi semakin ke sini > negara bisa mencetak uang semaunya dan menuliskan nominalnya sesukanya. > > Ketika anda menunggak/ngemplang hutang dari bank, maka tiada dosa > sedikitpun. Apalagi jika anda gunakan untuk memberdayakan fakir miskin. > Itulah mengapa aktivis2 dan pengamat ekonomi banyak mengatakan bahwa > kemakmuran sebuah negara akan terjadi bila rantai hutang mereka sudah lepas. > > > ----- Original Message ---- > From: MjlhPopular Firdaus <majalahfirdaus@ yahoo.com> > To: kafe-muslimah@ yahoogroups. com; karir-indonesia@ yahoogroups. com; > KARISMA-ITB@ yahoogroups. com; keadilan4all@ yahoogroups. com; > [EMAIL PROTECTED] ps.com; manajemenqolbu- [EMAIL PROTECTED] com; > [EMAIL PROTECTED] s.com > Sent: Saturday, July 5, 2008 1:57:41 PM > Subject: [karisma] Fw: Oh,STANDARDCHARTERE D BANK... > > Mungkin ada rekan2 yang didunia perbankan dan media. > > Apakah pola penagihan seperti ini sudah umum? > > Bagaimana mengelola konflik-toleransi nasabah dan perbankan? > > Terima kasih. > > --- On *Fri, 7/4/08, cucu hasanah <[EMAIL PROTECTED] com>* wrote: > > From: cucu hasanah <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: Oh,STANDARDCHARTERE D BANK... > To: Date: Friday, July 4, 2008, 5:42 AM > > *Kepada Yth,* > > *1.Teman2 Media dan Pengasuh Surat Pembaca* > > *2. Pimpinan Bank-Bank* > > *di * > > *Tempat* > > > > Salam Hormat, > Semoga tetap sukses di tahun 2008. > > Terima kasih dan mohon bantuan masukan dari pimpinan bank dan dapat dimuat > di Surat Pembaca Media dengan niatan saling mengingatkan agar tidak > membudayakan premanisme dan kekerasan di masyarakat kita yang sedang banyak > mengalami cobaan dan penderitaan. Kembali ke Budaya Timur, saling > menghormati dan tepo sliro.. > > > > Curahan Hati: > > *STANDARDCHARTERED BANK: Kok jadi 'PREMAN' dan 'PEMERAS' ?* > > > > *Pengalaman salah seorang nasabah KTA Standard Chartered Bank No > 30615919240 hari ini, sangat mengenaskan dan menyedihkan. * > > > > *Kamis 3 Juli 2008, pukul 09.23, menerima telpon dari (021) 30401400, > pukul 09.53, menerima telpon dari kolektor SCB dengan berusaha baik menerima > dan meminta maaf atas keterlambatan pembayaran, dan menjelaskan kesulitan > yang dialami kenapa sampai mengalami kesulitan pembayaran 2 (dua) bulan, > karena anak dan istri baru masuk rumah sakit sehingga kesulitan dana dan > cash flow kacau, tapi niat tetap berusaha menunaikan kewajiban, > namun tanggapan balik yang diterima berlaku seperti 'PREMAN' tidak > menunjukkan sikap layanan Bank Internasional :* > > > > 1. *Dengan nada 'preman' dan 'meneror' tidak memberi kesempatan > bicara bahkan mengancam-ancam. Berkali-kali ditanyakan namanyapun**(dengan > maksud etika berkomunikasi: menyebut nama lawan bicara lebih > sopan-beretika) > ,** bahkan marah-marah dengan temperamen tinggi BUAT APA TANYA-TANYA! > berkali-kali diucapkan-)* > 2. *Mengancam akan mengalihkan tagihan ke DEBT COLLECTOR YG LEBIH > 'KERAS'dan MEMBEBANKAN BIAYA 11%. Ketika mau di konfirmasi balik (Bebannya > seperti apa?,Beda dengan denda apa? Apakah sudah disampaikan awal kredit > atau aturan baru?), belum sampai ditanyakan. Kembali Kolektor SCB menjawab > dengan gaya PREMAN dan MENGANCAM-ANCAM DAN PELECEHAN. ITU SUDAH KETENTUAN > DI > SEMUA BANK!!!!dengan membentak! (Padahal tidak semua bank membebankan biaya > Debt Collector ke nasabah?!)* > > > > *Apakah ini Standar SCB, memang 'PREMANISME' dan 'PEMERAS' ? * > > *Menganggap nasabah yang mengalami kesulitan, seperti orang pelarian dari > penjara!, harus dikejar, dicurigai, ditekan, diintimidasi! , bahkan harus > 'DIBUNUH' ?* > > *Meskipun , dari data alamat rumah, kantor, telpon-nasabah tidak berubah > sama sekali dari awal kredit , sampai saat ini. Masih dapat > dipertanggungjawabk an. Nasabah Penunggak adalah PENJAHAT!* > > > > *Berlawanan, yang saya tahu awal para nasabah Bank termasuk SCB mengajak > menjadi nasabah dengan berbagai cara bujuk manis bagai raja. Tetapi ternyata > setelah menjadi nasabah SCB, diperlakukan tidak manusiawi, bagai 'Hewan' > yang harus diitimidasi dan dikejar! (Bahkan dengan perasaan nasabah,serasa > akan dibunuh!)* > > > > *Jadilah Bank SCB, lebih manusiawi, nasabah menunggak bukan berarti > pengemplang yang akan melarikan diri langsung kirim debt kollektor, lebih > elegan panggil ketemu bahas bagaimana penyelesaian ketika semua data nasabah > masih valid dapat dipertanggungjawabk an.* > > *Apakah memang SCB, Bank Internasional, mentransfer budaya'Preman' nya > merubah budaya bangsa timur kita ?* > > *Jadilkan SCB bank Manusiawi, bukan bank premanisme.* > > > > > > > -- OpiK http://taufiek.wordpress.com
