Dreamlist No. 21
 
Hai guys, apa kabar? Sepi rasanya lama tidak menulis NCB,
dan sepi juga tidak menyapa-nyapa orang di dunia maya. Sedang sibuk apa? Masih
bergelut dengan aktivitas di pekerjaan dan rutinitas? Bisa jadi, dan sangat
mungkin. Sepertinya, semakin dewasa kita, semakin banyak hal-hal yang sifatnya
rutin kita lakukan. Padahal jaman masih sekolah dulu, selalu ada saja kegiatan
seru yang spontan. Sekarang? Wuih… apalagi buat yang harus menghadapi setumpuk
kerjaan. Biar gimana-gimana, dapur mesti ngebul kan? Belum lagi urusan sekolah
anak. Kalau sudah begitu, teman-teman suka melirik sirik ke saya, “enak situ
masih single.” Padahal yang dilirik sama siriknya, “enak situ punya anak….”
 
Bicara soal rutinitas memang kadang menyebalkan dan bikin
jenuh. Hidup sepertinya jadi tidak menantang. Nah untuk itu kemarin saya
menerima tantangan. Menyanggupi sebuah pekerjaan yang kalau dipikir-pikir rada
nekad juga. Apalagi sudah menginjak akhir pekan yang kedua (atau ketiga?
Jangan-jangan ke empat...), pekerjaan itu belum selesai juga.
 
Berawal dari kebijakan baru, mau tidak mau membuat kami
(saya dan teman-teman) mengatur strategi dalam mengatur anggaran Majalah
Profesi yang kami kelola. Dan demi membuat para pelanggan puas, saya menawarkan
diri jadi lay outer majalah kami no 3 mendatang. Apalagi ternyata itu berkaitan
dengan obsesi pribadi. Pasti menyenangkan kan? Pendapat ini tentu berlaku
sebelum saya benar-benar tahu apa sebenarnya yang musti dilakukan.
 
Nah begitu ngerjain….alamak, setengah mati. Asyik sih, tapi
jadi nggak asyik lagi karena pada saat yang sama kita harus mengerjakan
pekerjaan yang lain. Pekerjaan yang lebih ‘wajib’ dari sekedar mencapai obsesi
pribadi. Seorang teman bahkan mencemooh, “kayak gini sih serahin orang lain
aja, Mbak. Ngapain kita kerjain sendiri…”
Hmm, iya juga sih.. tapi, bagaimana bisa saya serahkan ke
orang lain kalau pekerjaan yang satu ini jelas-jelas ada di daftar mimpi saya
nomor 21 (bisa me-lay out majalah pake program komputer). Oh, tentu tidak akan
saya lewatkan kan? Karena gara-gara mimpi yang satu ini (salah satunya sih…)
saya memutuskan untuk beralih ke Mac. Celakanya, harusnya iMac, bukan Macbook.
So, pekerjaan me-lay out yang butuh ketelitian luar biasa itu harus dilakukan
dalam layar 13 inch saja! Gimana nggak berantakan, nekad sih hehehe… 
 
Tapi gimana ya, demi mencoret satu lagi daftar mimpi itu,
kerja lembur dijabanin deh. Dan hiks, maaf Bu editor dan pimpinan redaksi,
kalau kali ini majalah kita yang sudah terlambat akan semakin terlambat
gara-gara lay outer amatiran yang sok tahu dan sok pinter. Yang selalu merasa
nggak puas sama lay outer mana pun yang ada di Indonesia…*halah (karena nge lay
out-nya nggak sekeren Oprah Magazine hehehe). Sekarang baru deh berasa, bahwa
untuk mencapai tampilan yang keren, emang butuh waktu, tenaga dan kreatifitas
yang tinggi. Tapi, pantang mundur lah… ini aja udah sampe halaman 59 kok J
 
Have a nice day!
 
 
(Thanks to Ayi yang udah kasih no registrasi ‘abal-abal’
buat iWork di Macbook gue..:p)


      

Kirim email ke