Wuih, mbak Vit. Hebat euy jadi lay-outer. Aku dari kemarin-kemarin juga pengen
tuh, tapi baru kesampaian yang berapa halaman doang, ga sampe puluhan lembar
getho.
Liat-liat buat bikin yang begitu bagus pake laptop ato PC yang lebih besar.
Biar teliti dan bisa melihat gambar seukuran aslinya. Btw, pantas aja bawa
laptopnya ke mana-mana. ternyata lagi punya proyek besar langgeng-in majalah.
Boleh tuh ikutan. Yah, itung-itung asah kemampuan nulis yang sudah berkarat
gara-gara nggak pernah dipakai. Kemarin aja sempat kena kritik teman dekat.
katanya, "gimana sih penulis kecil kita ini? Makin umur bertambah bukannya
makin produktif, malah tenggelam dalam rutinitas yang jelas-jelas nggak unjuk
gigi."
Yak, makanya kita memang harus semangat, mbak. Obsesi berikutnya: pengen
bikin buku. Doain yah biar motivasi ga melorot lagi ke ujung sepatu dan proses
kreatif akhirnya berjalan setelah mampat berbulan-bulan seolah tidur di alam
horisontal tanpa tepi.
Salam manis, Nadiah '98
"Lusiana M. Hevita" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dreamlist No. 21
Hai guys, apa kabar? Sepi rasanya lama tidak menulis NCB, dan sepi juga tidak
menyapa-nyapa orang di dunia maya. Sedang sibuk apa? Masih bergelut dengan
aktivitas di pekerjaan dan rutinitas? Bisa jadi, dan sangat mungkin.
Sepertinya, semakin dewasa kita, semakin banyak hal-hal yang sifatnya rutin
kita lakukan. Padahal jaman masih sekolah dulu, selalu ada saja kegiatan seru
yang spontan. Sekarang? Wuih
apalagi buat yang harus menghadapi setumpuk
kerjaan. Biar gimana-gimana, dapur mesti ngebul kan? Belum lagi urusan sekolah
anak. Kalau sudah begitu, teman-teman suka melirik sirik ke saya, enak situ
masih single. Padahal yang dilirik sama siriknya, enak situ punya anak
.
Bicara soal rutinitas memang kadang menyebalkan dan bikin jenuh. Hidup
sepertinya jadi tidak menantang. Nah untuk itu kemarin saya menerima tantangan.
Menyanggupi sebuah pekerjaan yang kalau dipikir-pikir rada nekad juga. Apalagi
sudah menginjak akhir pekan yang kedua (atau ketiga? Jangan-jangan ke
empat...), pekerjaan itu belum selesai juga.
Berawal dari kebijakan baru, mau tidak mau membuat kami (saya dan
teman-teman) mengatur strategi dalam mengatur anggaran Majalah Profesi yang
kami kelola. Dan demi membuat para pelanggan puas, saya menawarkan diri jadi
lay outer majalah kami no 3 mendatang. Apalagi ternyata itu berkaitan dengan
obsesi pribadi. Pasti menyenangkan kan? Pendapat ini tentu berlaku sebelum saya
benar-benar tahu apa sebenarnya yang musti dilakukan.
Nah begitu ngerjain
.alamak, setengah mati. Asyik sih, tapi jadi nggak asyik
lagi karena pada saat yang sama kita harus mengerjakan pekerjaan yang lain.
Pekerjaan yang lebih wajib dari sekedar mencapai obsesi pribadi. Seorang
teman bahkan mencemooh, kayak gini sih serahin orang lain aja, Mbak. Ngapain
kita kerjain sendiri
Hmm, iya juga sih.. tapi, bagaimana bisa saya serahkan ke orang lain kalau
pekerjaan yang satu ini jelas-jelas ada di daftar mimpi saya nomor 21 (bisa
me-lay out majalah pake program komputer). Oh, tentu tidak akan saya lewatkan
kan? Karena gara-gara mimpi yang satu ini (salah satunya sih
) saya memutuskan
untuk beralih ke Mac. Celakanya, harusnya iMac, bukan Macbook. So, pekerjaan
me-lay out yang butuh ketelitian luar biasa itu harus dilakukan dalam layar 13
inch saja! Gimana nggak berantakan, nekad sih hehehe
Tapi gimana ya, demi mencoret satu lagi daftar mimpi itu, kerja lembur
dijabanin deh. Dan hiks, maaf Bu editor dan pimpinan redaksi, kalau kali ini
majalah kita yang sudah terlambat akan semakin terlambat gara-gara lay outer
amatiran yang sok tahu dan sok pinter. Yang selalu merasa nggak puas sama lay
outer mana pun yang ada di Indonesia
*halah (karena nge lay out-nya nggak
sekeren Oprah Magazine hehehe). Sekarang baru deh berasa, bahwa untuk mencapai
tampilan yang keren, emang butuh waktu, tenaga dan kreatifitas yang tinggi.
Tapi, pantang mundur lah
ini aja udah sampe halaman 59 kok J
Have a nice day!
(Thanks to Ayi yang udah kasih no registrasi abal-abal buat iWork di
Macbook gue..:p)