(maaf, ini NCB terpanjang, mungkin membosankan) UI: BUKU, PESTA dan CINTA
Pemuda, kemana langkahmu menuju Apa yang membuat engkau ragu Tujuan sejati menunggumu sudah Tetaplah pada pendirian semula Dimana artinya berjuang, tanpa sesuatu pengorbanan Kemana arti kata satu itu Bersatulah semua, seperti dahulu Lihatlah ke muka Keinginan luhur kan terjangkau semua Pemuda, kenapa wajahmu tersirat Dengan pena yang bertinta belang Cerminan tindakan akan perpecahan Bersihkanlah nodamu semua Masa depan yang akan tiba Menuntut bukannya nuansa Yang selalu menabirimu pemuda Lagu ini (Pemuda – Chaseiro) begitu melegenda. Sama melegendanya dengan kampus tempat musik dan dan pelakunya ini lahir. Di hari pertama orientasi mahasiswa baru dulu, kami diberi theme song lagu ini. Begitu elegan, keren dan membekas. Paling tidak yang dirasakan saat itu begitulah. UI tidak semata kampus tempat belajar saja, ia memiliki nuansa sakral dunia pergerakan mahasiswa. Bukan mahasiswa UI kalau tidak ikut berorganisasi. Belum berasa mahasiswa kalau belum turun ke jalan pakai jaket kuning. Karena itu juga, prestasi di bidang akademik dan penelitian sepertinya tidak begitu menarik. Tidak seksi. (Tapi bukan tidak ada, selalu ada, tapi jadi kegiatan yang kurang keren J) Semakin dilarang semakin menantang. Semakin diberangus, apalagi. Ibarat bara api, dikipasi biar mati justru malah menyala. Tidak peduli siapa pemerintahannya, demonstrasi selalu ada di dalam kamus pergerakan mahasiswa. Pun ketika membongkar ‘gudang’, foto-foto dan buku-buku tua. Ada kisah tentang 66, Malari (75?), gambar pak Marie bawa sekuter, Emil Salim waktu muda, Ibu Sri Mulyani saat di make up untuk pentas kampus. Atau bu Miranda S. Gultom, sebagai senior yang paling galak. Itu jaman mereka. Setelah itu masih banyak lagi. Pak Johantomo (alm., teman sekantor yang meninggal Sabtu kemarin,19/7) dulu sering bercerita, bagaimana Salemba di tahun 66, juga peristiwa Malari, sampai kemudian beliau mengalami masa reformasi, beberapa saat sebelum pensiun. Saya cuma terpana, kadang sampai terkantuk-kantuk mendengar celotehnya. Konon dulu dia sering juga membantu mengetikkan draft skripsi milik mahasiswa dan mendapat uang tambahan yang lumayan untuk itu. Dulu, sebelum ada rental komputer, perpustakaan memiliki rental mesin tik. Bantuan dari negara. Kami punya selusin di sini. Kini disimpan di gudang, sebelum kemudian diloakkan. Beberapa masih di simpan. Karena antik dan bernilai sejarah. Suatu saat berharap ada galeri, untuk mendiplay semua barang-barang ini, judulnya mungkin: mesin tik dari masa ke masa…hehehe. Soalnya memang antik sih.. Pak Johantomo juga berkisah, tentang kantin-kantin yang kini masih setia ‘hidup’ di belakang Salemba. Bapak ini atau ibu anu, yang sekarang sudah beranak cucu, bahkan kantin itu sudah turun-temurun. Dulu mahasiswa hanya mengenal jajanan seperti itu. Belum ada pizza hut, dunkin’, bread talk dan Jco, atau merk-merk lain yang bisa delivery order. Lalu juga tentang kolam dan taman. Karena dari situ mahasiswa dan mahasiswi 'bertemu', dan tempat grup-grup musik kampus tumbuh. Tapi semua itu hanya ada di alam imaginasi. Saya tidak mengalaminya (Salemba). Saya hanya mengenal era 90an (Depok). Saat badan eksekutif mahasiswa bernama Senat Mahasiswa, bukan lagi Dewan Mahasiswa, dan belum juga berubah jadi BEM. Konon rektor masih menunjuk langsung siapa ketua Senat Mahasiswa. Tapi kemudian dilakukan Pemilu Raya (Pemira) pertama di tahun 1995 (kalau tidak salah). Saya menikmati perdebatan demi perdebatan di mimbar-mimbar bebas. Di situlah forum ‘ilmiahnya’ mahasiswa. Tidak perlu pakai call for paper dulu. Tentukan temanya, siapkan jaketnya, dan pasang mike-nya, jalan deh. Di saat yang sama ada kelompok yang hanya hobi berolok-olok. Mereka berkomentar asal, di setiap pernyataan serius yang dilontarkan mereka memberikan tambahan, cuma asal teriak, tapi kadang lucu juga, dan mimbar ilmiah itu pun ikut meledakkan tawa. Atau di perpustakaan, saat mendengarkan mahasiswa sejarah menguras isi kepalanya dalam 'obrolan ringan'. Ada soal Natsir, Syahrir, Sukarno (Megawati dan Gusdur belum disinggung) dan banyak tokoh lain. Saya pikir, mereka hebat sekali. Bisa menarik benang merah hampir dari semua peristiwa. Dan begitu mengikuti kuliah Pak Anhar Gonggong, pantesan saja, gurunya jauh lebih jago lagi. Sejak itu saya melihat Indonesia dengan pandangan yang sedikit berbeda. Mahasiswa ‘hedon’ beda lagi. Panggung-panggung musik tak pernah absen dari rencana kegiatan seni Senat. Student Nite, Sastra Blues Hours, dll menyaingi JGTC yang sudah mengakar kuat di FE. Selalu ramai peminat. Tapi kesan yang mendalam justru ketika mendengarkan petikan gitar dan lantunan suara jernih Franky Sahilatua, di suatu sore di teater Kolam Sastra UI. Atau tabuhan membahana Kyai Kanjeng-nya Emha di Balairung UI tahun 1995 (hihihi..ini soal selera pastinya). Oh iya, di masa itu, grup-grup musik relijius mulai muncul, salah satunya Snada. Sekarang, sepuluh tahun lebih jadi alumni, masih ada yang tetap, tapi banyak juga yang berubah. Nuansa sakral pergerakan cuma terasa di tepi-tepinya saja. Sekarang segala sudah mahal, mahasiswa harus lulus tepat waktu, cari kerja dan dapat banyak uang. UI harus jadi World Class University. Setiap mahasiswa harus punya pikiran ilmiah. Harus menulis paper. Disediakan buku-buku teks, ebook, online journal, anggaran untuk itu terus ditambah, kemarin 2M, sekarang 3M, nanti mungkin sampe 5M, supaya mahasiswa gemar membaca, kalau perlu seantero UI ter-cover hot spot, sampai ke parkiran, danau dan hutan-hutannya hehehe. Ramai-ramai bawa laptop, sesuatu yang tidak terbayang di masa lalu (jangankan laptop, handphone aja jarang yang punya J). “Jangan pindah dari UI ya, ntar kalau kita mau balik ke kampus nggak ada orang…” “Tetep di UI ya, siapa tahu kita masih mau main-main ke kampus…” “Aku mau bernostalgia jaman kuliah nih, hari ini sibuk nggak?” “Vit, kalo mau ke UI naik apa? Udah lama lulus jadi lupa rutenya…” “Nanti kalau udah sampe sono, anter ke sana sini ya…” Weleh…selain jadi librarian saya juga merangkap jadi guide kampus gratisan :D Sebagai penutup (kalau nggak buru-buru di tutup bisa lebih panjang lagi..hehe), ini puisi yang sempat diciptakan saat masih semangat jadi mahasiswa. Jelek-jelek gitu ternyata dibacakan dan ditulis besar di baliho orientasi mahasiswa baru UI tahun 1996 lhoo… (nggak mau kalah sama Chaseiro..hahaha) Jika kepal jari Tak lagi jua berani Dan tangan-tangan Sudah tak punya tempat lagi Maka sekarang Di sini..! Bersama kumpulkan nyali Mahasiswa….!!! Lantangkan kata hati Teriakkan…!! Kami B’rani! (pusgiwa UI, Juli 1996) Have a nice day! (ditulis iseng menyambut acara Homecoming day UI, 26-27 Juli 2008, Reuni 50 angkatan. Tapi ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan acara itu J, anda alumni? kalau mau mendengarkan Chaseiro, atau PSP dll, silakan datang atau info lengkap kunjungi http://www.alumni.ui.edu/index.php) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Yahoo! Groups Links
