Hidup UI !!!!
Salam, Morry Infra +966-533214840 On 7/24/08, Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > (maaf, ini NCB terpanjang, mungkin membosankan) > > UI: BUKU, PESTA dan CINTA > > Pemuda, kemana langkahmu menuju > Apa yang membuat engkau ragu > Tujuan sejati menunggumu sudah > Tetaplah pada pendirian semula > > Dimana artinya berjuang, tanpa sesuatu pengorbanan > Kemana arti kata satu itu > > Bersatulah semua, seperti dahulu > Lihatlah ke muka > Keinginan luhur kan terjangkau semua > > Pemuda, kenapa wajahmu tersirat > Dengan pena yang bertinta belang > Cerminan tindakan akan perpecahan > Bersihkanlah nodamu semua > > Masa depan yang akan tiba > Menuntut bukannya nuansa > Yang selalu menabirimu pemuda > > Lagu ini (Pemuda – Chaseiro) begitu melegenda. Sama > melegendanya dengan kampus tempat musik dan dan pelakunya ini lahir. Di > hari > pertama orientasi mahasiswa baru dulu, kami diberi theme song lagu ini. > Begitu > elegan, keren dan membekas. Paling tidak yang dirasakan saat itu begitulah. > > UI tidak semata kampus tempat belajar saja, ia memiliki > nuansa sakral dunia pergerakan mahasiswa. Bukan mahasiswa UI kalau tidak > ikut > berorganisasi. Belum berasa mahasiswa kalau belum turun ke jalan pakai > jaket > kuning. Karena itu juga, prestasi di bidang akademik dan penelitian > sepertinya tidak > begitu menarik. Tidak seksi. (Tapi bukan tidak ada, selalu ada, tapi jadi > kegiatan yang kurang keren J) > > Semakin dilarang semakin menantang. Semakin diberangus, > apalagi. Ibarat bara api, dikipasi biar mati justru malah menyala. Tidak > peduli > siapa pemerintahannya, demonstrasi selalu ada di dalam kamus pergerakan > mahasiswa. > > Pun ketika membongkar 'gudang', foto-foto dan buku-buku tua. > Ada kisah tentang 66, Malari (75?), gambar pak Marie bawa sekuter, Emil > Salim waktu muda, Ibu Sri Mulyani saat > di make up untuk pentas kampus. Atau bu Miranda S. Gultom, sebagai senior > yang paling > galak. Itu jaman mereka. Setelah itu masih banyak lagi. > > Pak Johantomo (alm., teman sekantor yang meninggal Sabtu kemarin,19/7) dulu > sering bercerita, bagaimana > Salemba di tahun 66, juga peristiwa Malari, sampai kemudian beliau > mengalami > masa reformasi, beberapa saat sebelum pensiun. Saya cuma terpana, kadang > sampai > terkantuk-kantuk mendengar celotehnya. Konon dulu dia sering juga membantu > mengetikkan draft skripsi milik mahasiswa dan mendapat uang tambahan yang > lumayan untuk itu. > > Dulu, sebelum ada rental komputer, perpustakaan memiliki rental mesin tik. > Bantuan dari negara. Kami punya selusin di sini. Kini disimpan di gudang, > sebelum kemudian diloakkan. Beberapa masih di simpan. Karena antik dan > bernilai > sejarah. Suatu saat berharap ada galeri, untuk mendiplay semua > barang-barang > ini, judulnya mungkin: mesin tik dari masa ke masa…hehehe. Soalnya memang > antik > sih.. > > Pak Johantomo juga berkisah, tentang kantin-kantin yang kini > masih setia 'hidup' di belakang Salemba. Bapak ini atau ibu anu, yang > sekarang > sudah beranak cucu, bahkan kantin itu sudah turun-temurun. Dulu mahasiswa > hanya > mengenal jajanan seperti itu. Belum ada pizza hut, dunkin', bread talk dan > Jco, > atau merk-merk lain yang bisa delivery order. Lalu juga tentang kolam dan > taman. Karena dari situ mahasiswa dan mahasiswi 'bertemu', dan tempat > grup-grup musik kampus tumbuh. > > Tapi semua itu hanya ada di alam imaginasi. Saya tidak > mengalaminya (Salemba). Saya hanya mengenal era 90an (Depok). Saat badan > eksekutif mahasiswa > bernama Senat Mahasiswa, bukan lagi Dewan Mahasiswa, dan belum juga berubah > jadi BEM. Konon rektor masih menunjuk langsung siapa ketua Senat Mahasiswa. > Tapi kemudian dilakukan Pemilu Raya (Pemira) pertama di tahun 1995 (kalau > tidak > salah). > > Saya menikmati perdebatan demi perdebatan di mimbar-mimbar > bebas. Di situlah forum 'ilmiahnya' mahasiswa. Tidak perlu pakai call for > paper > dulu. Tentukan temanya, siapkan jaketnya, dan pasang mike-nya, jalan deh. > Di saat > yang sama ada kelompok yang hanya hobi berolok-olok. Mereka berkomentar > asal, > di setiap pernyataan serius yang dilontarkan mereka memberikan tambahan, > cuma > asal teriak, tapi kadang lucu juga, dan mimbar ilmiah itu pun ikut > meledakkan > tawa. > > Atau di perpustakaan, saat mendengarkan mahasiswa sejarah > menguras isi kepalanya dalam 'obrolan ringan'. Ada soal Natsir, Syahrir, > Sukarno (Megawati dan Gusdur belum disinggung) dan banyak tokoh lain. Saya > pikir, mereka hebat sekali. Bisa menarik benang merah > hampir dari semua peristiwa. Dan begitu mengikuti kuliah Pak Anhar > Gonggong, > pantesan saja, gurunya jauh lebih jago lagi. Sejak itu saya melihat > Indonesia > dengan pandangan yang sedikit berbeda. > > Mahasiswa 'hedon' beda lagi. Panggung-panggung musik tak > pernah absen dari rencana kegiatan seni Senat. Student Nite, Sastra Blues > Hours, dll menyaingi JGTC yang sudah mengakar kuat di FE. Selalu ramai > peminat. > Tapi kesan yang mendalam justru ketika mendengarkan petikan gitar dan > lantunan > suara jernih Franky Sahilatua, di suatu sore di teater Kolam Sastra UI. > Atau > tabuhan membahana Kyai Kanjeng-nya Emha di Balairung UI tahun 1995 > (hihihi..ini > soal selera pastinya). Oh iya, di masa itu, grup-grup musik relijius mulai > muncul, salah satunya Snada. > > Sekarang, sepuluh tahun lebih jadi alumni, masih ada yang > tetap, tapi banyak juga yang berubah. Nuansa sakral pergerakan cuma terasa > di > tepi-tepinya saja. Sekarang segala sudah mahal, mahasiswa harus lulus tepat > waktu, cari kerja dan dapat banyak uang. UI harus jadi World Class > University. > Setiap mahasiswa harus punya pikiran ilmiah. Harus menulis paper. > Disediakan > buku-buku teks, ebook, online journal, anggaran untuk itu terus ditambah, > kemarin 2M, sekarang 3M, nanti mungkin sampe 5M, supaya mahasiswa gemar > membaca, kalau perlu seantero UI ter-cover hot spot, sampai ke parkiran, > danau > dan hutan-hutannya hehehe. Ramai-ramai bawa laptop, sesuatu yang tidak > terbayang di masa lalu (jangankan laptop, handphone aja jarang yang punya > J). > "Jangan pindah dari UI ya, ntar kalau kita mau balik ke > kampus nggak ada orang…" > "Tetep di UI ya, siapa tahu kita masih mau main-main ke > kampus…" > "Aku mau bernostalgia jaman kuliah nih, hari ini sibuk > nggak?" > "Vit, kalo mau ke UI naik apa? Udah lama lulus jadi lupa > rutenya…" > "Nanti kalau udah sampe sono, anter ke sana sini ya…" > Weleh…selain jadi librarian saya juga merangkap jadi guide > kampus gratisan :D > > Sebagai penutup (kalau nggak buru-buru di tutup bisa lebih > panjang lagi..hehe), ini puisi yang sempat diciptakan saat masih semangat > jadi > mahasiswa. Jelek-jelek gitu ternyata dibacakan dan ditulis besar di baliho > orientasi mahasiswa baru UI tahun 1996 lhoo… (nggak mau kalah sama > Chaseiro..hahaha) > > Jika kepal jari > Tak lagi jua berani > Dan tangan-tangan > Sudah tak punya tempat lagi > > Maka sekarang > Di sini..! > Bersama kumpulkan nyali > Mahasiswa….!!! > Lantangkan kata hati > Teriakkan…!! > Kami B'rani! > > (pusgiwa UI, Juli 1996) > > Have a nice day! > > (ditulis iseng menyambut acara Homecoming day UI, 26-27 Juli > 2008, Reuni 50 angkatan. Tapi ini nggak ada hubungannya sama sekali dengan > acara > itu J, anda alumni? kalau mau mendengarkan Chaseiro, atau PSP dll, silakan > datang atau info lengkap > kunjungi http://www.alumni.ui.edu/index.php) > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > ------------------------------------ > > Yahoo! Groups <http://groups.yahoo.com/> Links > > > > > > >
