Bagus banget artikelnya.... Make sense banget.... He...he.e..e.e.. buat orang yang suka pindah2 kerja... mungkin bisa ngaca... betul 'nggak yach..... Buat yang dah happy di tempat kerja... hingga pensiun... Selamat... anda memang orang beruntung....
Salam, Morry Infra +966-533214840 ---------- Forwarded message ---------- From: paul kristianto <[EMAIL PROTECTED]> Date: 2008/8/13 Subject: [IATMI-KL] Pindah Kerja ? To: iatmi-kl <[EMAIL PROTECTED]> Hi All, Mungkin ada yang sudah dapat, mungkin juga belum. Cuman ada hal yang bisa menjadi alasan tepat kenapa karyawan pindah (bukan hanya sekedar "mengejar uang semata" (or may be I am wrong) Rgds' Cah Bagus > Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering > ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang > berjudul: Azim Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007). > > > > Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan? > > > > Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian > karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang > meninggalkan perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih > menjanjikan, lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan > pribadi. Tulisan ini mencoba menjelaskan persoalan ini. > > > > Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer > software senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan > internasional prestisius untuk bekerja di cabang operasinya di India > sebagai pengembang software. Dia tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah > mendengar banyak tentang CEO perusahaan ini, pria karismatik yang sering > > dikutip di berita-berita bisnis karena sikap visionernya. Gajinya hebat. > Perusahaan itu memiliki kebijakan SDM ramah karyawan yang bagus, kantor > yang masih baru, dan teknologi mutakhir, bahkan sebuah kantin yang > menyediakan makanan lezat. > > > > Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri > untuk pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", > katanya tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat > dengan teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah > dia bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran > lain di tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana > lagi. Beberapa orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini. > > > > Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia > pusing akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung > karena tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi > walaupun gajinya besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama > yang mendorong banyak orang berbakat pergi. > > > > Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar yang dilakukan > oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari satu juta > karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam > sebuah buku berjudul First Break All the Rules. > > > > Penemuannya adalah sebagai berikut: > > > > Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan > langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia > adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia > adalah alasan mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, > dan relasi bersama mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang > meninggalkan manajer/direktur anda, bukan perusahaan, tulis Marcus > Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku First Break All the Rules. > > > > Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan > mempertahankan orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, > fasilitas dan pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab > kebanyakan orang keluar adalah manajer.. Kalau Anda punya masalah > pergantian karyawan yang tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda > terlebih dahulu. Apakah mereka membuat orang-orang pergi? Dari satu > sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan > uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. > Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. > > > > Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang > bagus. Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa > hampir 75 persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang > sulit. > > > > Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan > yang paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional > dan produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk > tekanan, karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang > paling tidak bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan > mungkin tidak pergi, tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. > Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, > dia mulai mencari pekerjaan yang lain. > > > > Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan secara terbuka, mereka > melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan membandel dan > memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan saja dan > tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang > krusial kepada sang bos. > > > > Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang > tidak menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. > Anda tidak mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. > > > > Para manajer bisa membuat karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: > dengan terlalu mengontrol, terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, > juga terlalu mengecam. Mereka lupa bahwa para pekerja bukanlah aset > tetap, mereka adalah agen bebas. Jika hal ini berlangsung terlalu lama, > seorang karyawan akan berhenti - biasanya karena masalah yang tampak > remeh. > > > > Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan seorang yang baik, melainkan 99 > pukulan sebelumnya. Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan > pekerjaan karena berbagai alasan, untuk kesempatan yang lebih baik atau > alasan khusus, mereka yang keluar itu sebetulnya bisa saja bertahan, > kalau bukan karena satu orang yang mengatakan kepada mereka, seperti > yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya bisa mencari > puluhan orang seperti kamu. > > > > Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat > biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari > penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki > seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan > klien dan relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril > sejawat kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang > dibocorkan oleh orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, > kehilangan reputasi perusahaan. > > > > Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi dutanya, > entah tentang kebaikan atau keburukan. Demikian pesan Azim Premji. > > > > > > Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun atasan) ? -- *"The only thing necessary for the triumph of evil, is for good men to do nothing" * --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Mohon menggunakan mailist sesuai dengan peruntukannya. IATMI-KL : [EMAIL PROTECTED] Cerita santai : [EMAIL PROTECTED] Postingan bebas selama tak menyerang SARA : [EMAIL PROTECTED] -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
