Apakah anda percaya kalau 1 dari 4 orang Indonesia sakit jiwa? Seperti yang
dibincangkan Media Indonesia Minggu lalu dalam Editorial (dan headline
24/8)nya, konon kalau ada empat orang (Indonesia) berkumpul, satu diantaranya
gila. Weleh…
Gara-gara itu, kemarin saya menebak-nebak dari empat orang ini siapa ya yang
gila hehehe… kebetulan kami berkumpul satu meja berempat. Ada ibu Dosen dari
Manado, rekan sejawat dari Paramadina, Kakak senior saya yang kerja di LPPM,
dan saya. Keempatnya sama sekali tidak mencirikan kegilaan apapun. Apalagi kami
bertemu dalam sebuah kegiatan ‘intelektual’ yang keren gitu loh…:p
Penyakit gila memang banyak ragamnya. Kalau Andrea Hirata dalam Trilogi Laskar
Pelanginya pernah mengemukakan penyakit gila nomor enambelas (dst..) mungkin
sebenarnya lebih banyak dari itu. Jenisnya bisa 1-100 atau 1000? Kalau sudah
begitu, bisa jadi berita dari Media itu benar. Gila karena cinta, harta,
kekuasaan, mungkin masuk dalam 3 besarnya ☺
Menurut teman saya yang psikolog, semua orang memang punya potensi sakit jiwa,
mungkin ada 0,00 sekian prosen. Hampir sama seperti penyakit asam urat (kaku di
persendian?). Konon hampir semua orang berpotensi asam urat, tinggal bagaimana
gaya hidupnya. Nah, sakit jiwa juga begitu, kalau ‘gaya hidupnya’ condong terus
pada ‘kegilaan’ ya jadi gila betulan…hehehe. Bedanya orang yang kadar
kewarasannya masih tinggi, masih bisa lah ngebedain mana yang gila dan mana
yang normal :p (hihi kalee yeee)
Cerita yang satu ini memang ‘gila’ betulan. Kemarin di bis yang saya tumpangi
menuju Bekasi, kemasukan pengamen (ini sih normal ya..). Tapi begitu si
pengamen mulai nyanyi..ya ampun syairnya ngaco-ngaco deh. Nadanya juga nggak
jelas… bahkan hampir semua nyanyiannya tidak ada yang kami kenali (ini nyanyi
lagu apaan sih?) Begitu ada nyanyian yang rada mendingan, pengamen itu
mengulang-ulang bait yang sama sekali bukan reff. (syair yang biasa
diulang-ulang). Kayak kaset rusak beneran..pusiiiing dengernya.
Sepertinya, sedikit saja kita meluangkan waktu memerhatikan sekeliling (juga
diri kita sendiri? :D), semakin jadi mengerti kenapa Media (Indonesia)
mengeluarkan editorial macam itu. Mudah-mudahkan Ramadhan besok bisa
mengembalikan diri kita semua pada fitrah manusia yang sebenarnya. Membersihkan
lagi dari unsur-unsur yang mungkin membawa ‘kegilaan’. Membersihkan dari
virus-virus penyakit jiwa, mental, hati dll. Amiiin. Maaf lahir batin atas
semua perkataan yang salah, baik sengaja maupun tidak disengaja. Tiga puluh
hari membersihkan diri, semoga ke depan kita menjadi manusia yang jauh lebih
baik lagi dan…tidak sakit jiwa tentunya..:)
Selamat menjalankan Ibadah puasa…