Alhamdulillah...
sebuah bukti nyata bahwa tidak hanya cukup dengan berbicara apalagi
bernada negatif 
tapi sebuah bukti nyata yang dituangkan walaupun dilakukan secara
sporadis
lain kali kalau mau kaya' gini jangan sendirian ya...
siapa tahu banyak donatur yang bisa bantu...
Bukan begitu Bang Komar....
 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Denny Andriyana
Sent: 16 September 2008 14:45
To: [email protected]
Cc: smunsasi98
Subject: [sma1bks] Sahur on the Road Penuh Kesan (Cerita Perjalanan)





T-Cam ngucapin terima kasih yang sebesar2nya buat Nadiah cs, anak2 SMU &
temen2 Prodia Bekasi. Insya Alloh taun depan kita bakal ngadain acara
serupa. 



 
 
Nuhun ah..
 
 
denz2611 <http://dennyandriyana.blogspot.com/> 
 
 <http://www.persib-bandung.or.id/> 
--- Pada Sel, 16/9/08, Nadiah Abidin <[EMAIL PROTECTED]> menulis:


Dari: Nadiah Abidin <[EMAIL PROTECTED]>
Topik: [sma1bks] Sahur on the Road Penuh Kesan (Cerita Perjalanan)
Kepada: [EMAIL PROTECTED]
Cc: [email protected], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Forum Lingkar
Pena" <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED]
Tanggal: Selasa, 16 September, 2008, 2:58 AM



Rumah, pukul 21.30 



Aku tengah mengenakan jilbabku ketika HP di atas meja kecilku berbunyi.
Ada sebuah sms masuk. "Mbak, jadi jalan nggak?" Kujawab dengan singkat,
"Jadi". Kulanjutkan aktivitasku, tapi baru saja kuselesai mengaitkan
ujung besi variasi di bagian belakang jilbabku HP di atas meja kecilku
lagi-lagi berbunyi. "Mbak, aku juga nggak?" Dan lagi-lagi kujawab dengan
singkat, "Jadi...jadi" sambil tertawa geli. Segera kuraih tas kecilku
dan berjalan ke bawah. Kubuka sebuah pintu yang menuju kamar yang paling
ujung. Tampak tiga orang perempuan di dalamnya. Satu wanita hamil yang
tengah tertidur lelap dan dua lainnya yang menatapku dengan pandangan
tahu-sama-tahu. 


            "Yah, kayaknya teknologi jaman sekarang emang canggih
banget. Satu atap, tapi tetep....Komunikasi jalan tanpa tatap muka,"
kataku nyengir. Dua gadis di depanku jadi agak salah tingkah. "Yah,
maklum. Kita nggak sabaran nunggu Mbak turun. Takutnya nggak jadi.
Makanya nanya", jelas gadis yang duluan sms. "Iya, aku juga penasaran.
Jadinya, aku tambahin nanya hal yang sama. Biar pasti gitu," kata gadis
yang kedua dengan bersemangat. Dan ya. Aku pun bersemangat. Karena hari
ini untuk pertama kalinya aku dan dua perawat yang tinggal di rumahku,
Umi dan Ita, akan mengikuti acara Sahur on the Road prakarsa salah
seorang teman SMA-ku yang sekarang sohiban denganku, Deni. Sejak pagi
kami sudah menyiapkan selusin baju, kue, dan tas yang mungkin bisa
disumbangkan selama perjalanan menuju sahur. Adik Deni, Yogi, sudah
mengambilnya sore tadi. Dan sekarang saatnya bergabung. Cuma tinggal
menunggu satu orang lagi yaitu Andi, mahasiswaku, yang katanya mau
mengantar moci. Semula kami berharap bisa berangkat bersama satu teman
SMA-ku yang lain yang katanya mau jalan juga, tapi sayang tak ada
jawaban apapun darinya selama dua hari aku menghubunginya. Dua
mahasiswiku yang dekat rumah, Mega dan Kartini, pun tidak bisa ikut
karena Mega sakit sedangkan Kartini baru menghabiskan seharian dengan
acara Ramadannya di asrama haji. Aku sendiri mestinya siang tadi
berangkat ke Rawamangun untuk ikut buka puasa bersama komunitas puisi
yang kuikuti, tapi setelah seminggu sakit rasanya tak sanggup menghadiri
dua acara sekaligus berturutan. 


            Maka, karena mahasiswaku Andi kebetulan baru balik dari
Sumedang dan berjanji mengantar moci ke rumah, aku pun mengajaknya.
Selain lebih aman membawa laki-laki dalam perjalanan, Andi termasuk anak
jalanan yang tahu kehidupan orang-orang yang malam nanti niatnya kami
bantu. Mungkin lain kali akan aku ceritakan kisah Andi dan kakaknya yang
luar biasa dalam memperjuangkan hidup mereka dan anak-anak yang biasa
kita temui di pinggir jalan atau di angkutan umum sambil membawa gitar
atau kerecekan di tangan. 


            Andi datang sekitar pukul 21.40 dan kami pun langsung
melesat menuju kediaman Deni di Wisma Jaya. Atau persisnya ke depan
Rumah Sakit Sentosa. Selagi kami duduk menunggu jemputan di depan warteg
yang berseberangan dengan rumah sakit, datanglah Deni bersama Yogi. Kami
membuntuti motor mereka dengan susah payah karena mereka sepertinya lupa
kalau mereka antara lain dibuntuti cewek yang sebisa mungkin menghindari
kecepatan lebih dari 50 km/jam. Syukurlah kami sampai dengan selamat di
depan rumahnya. Tampak belasan anak muda, laki-laki dan perempuan, sudah
sabar menunggu di sana. Ada yang duduk di atas motor, jongkok di pinggir
jalan, atau duduk di bangku. Dua anak dengan sigap segera mengangkut
sebuah kursi taman dari rumah Deni dan menempatkannya di belakang tempat
kami berdiri. Kami pun disuguhi es campur yang masih dingin. Wah,
rasanya benar-benar diperlakukan istimewa. 


            Lambat laun kulihat semakin banyak anak yang datang.
Kuhitung-hitung ada sekitar 40 anak lebih yang terkumpul. Aku berdecak
kagum. Ternyata, Deni dan kawan-kawan hebat juga. Dia selalu bilang
kelompoknya yang ia namakan T-Cam termasuk anak-anak radikal, nyatanya
mereka punya kepedulian yang tinggi terhadap sesama mereka. Selagi
orang-orang lain terlelap dalam tidur mereka, kecuali yang tengah
tadarus di mesjid atau kediaman masing-masing, mereka menyiapkan segala
keperluan untuk menjalankan Sahur on the Road buat memberikan sedikit
berbagi keindahan ramadan bersama kaum dhuafa.   


            Tak lama kemudian, Deni dan temannya, Supri, mengomandani
anak-anak untuk bersiap pergi. Masing-masing memegang sebungkus nasi
untuk dibagikan, sementara mobil terdepan mempersiapkan bungkusan kue,
baju, dan minuman. Perjalanan dimulai dari Bulak Kapal sampai Cipinang,
lalu balik ke Bekasi. Dalam rombongan, hanya aku dan Umi yang semotor
sama-sama cewek. Akibatnya, kami sering menjadi buntut rombongan. Semula
kami tidak menyadari itu. Karena kami sudah merasa cukup ngebut.
Apalagi, kami berpatokan pada mobil di depan kami. Nyatanya, semua
pengendara motor yang lain sudah jauh di depan hingga cowok-cowok yang
bertugas sebagai barikade pengaman sering memberi aba-aba untuk
mempercepat laju kendaraan kami. 


            Dingin terasa menerpa wajah dan tanganku. Aku serasa akan
membeku. Tapi, rasa dingin ini kontan pudar ketika kulihat para
gelandangan yang tidur di antara semak, di halte bis, dan pelataran
pertokoan. Sebagian terbangun dengan rasa kaget dan masih dalam kondisi
linglung ketika mendapati bungkusan makanan dan minuman di sisi mereka.
Sebagian lagi cepat-cepat bangkit dan berlari menuju mobil dan deretan
motor kami untuk mendapatkan makanan dan minuman sambil mengucap terima
kasih berkali-kali - walau banyak juga yang berlalu begitu saja setelah
mendapatkan jatah mereka. Kejadian yang paling membuatku kaget adalah
ketika seorang lelaki tua nekad menyeberang jalan tanpa lihat kiri-kanan
hingga nyaris tertabrak mobil gara-gara tak mau ketinggalan dalam
menerima ransum buat dirinya dan istrinya yang duduk di trotoar
beralaskan kardus tua. Kami sedapat mungkin meneriakinya, "Pak, sudah di
seberang saja. Biar kami yang antarkan." Tapi, dia sudah tak lagi
mengandalkan akal sehat dan untungnya masih diselamatkan oleh Allah SWT.



            Dalam lanjutan perjalanan, menjelang perempatan GOR,
segerombolan anak jalanan pelan berdiri dan menghampiri rombongan kami.
Dari kejauhan, kulihat Andi bercakap-cakap akrab dengan sejumlah anak
ini. Dia kelihatannya mengenal mereka. Tapi yah, tentu saja. Mereka
beberapa anak binaan dirinya dan kakaknya, seperti yang diungkapkan Ita
yang diboncengnya kepadaku kemudian. 


            Satu hal yang pasti, aku dan Umi tanpa sadar sama-sama
memanjatkan rasa syukur pada waktu bersamaan karena Allah telah
melimpahi kami dengan keberkahan berupa rumah yang nyaman, makanan yang
berlimpah, kasih sayang berkecukupan, dan hidayah iman dan Islam. Tidak
seperti mereka, kami tak perlu bergumul dengan rasa jijik orang lain,
baju kotor, panas terik, dingin mematikan, atau rasa lapar setiap
harinya. Kami bisa bergelung di atas kasur yang empuk, bersantai di saat
kami menginginkannya, dan bekerja di saat kami memerlukannya. Kami bisa
bersilaturahmi dan bercengkrama bersama teman dan keluarga. Maka, nikmat
Allah manakah yang dapat kami abaikan malam itu, sementara kesengsaraan
dan kemiskinan tampak nyata di pelupuk mata? 


            Pada perhentian selanjutnya, kami parkir tepat di samping
seorang nenek yang baru saja menerima sebungkus nasi. Ia cepat-cepat
menyembunyikan nasinya itu dan berpura-pura seolah belum menerima
apa-apa. Kami merasa lucu sekaligus prihatin. Apalagi, ketika
orang-orang mulai berebut mengambil baju dan makanan dari mobil.
Meskipun diteriaki untuk tertib dan memberikan kesempatan kepada
teman-teman mereka yang belum memperoleh jatah, tak ada yang mau
mengalah. Maka, tampaklah seorang laki-laki yang mendapat daster
kebesaran, anak kecil yang berlari bermil-mil untuk memperoleh tambahan
perbekalan, atau ibu-ibu berbadan gemuk yang dengan ngos-ngosan menyeka
keringat dan nyaris kehabisan napas saking berusaha menyerobot maju di
antara kerumunan. 


            Semua kejadian ini menumbuhkan keharuan dan kesadaran dalam
diriku betapa sumbangsih kita yang terkecil pun bisa begitu berarti bagi
orang lain. Hingga, ketika perbekalan habis dan tak ada yang tersisa,
mereka yang tak kebagian tampak berdesah penuh kecewa dan menunduk
dengan lesu. Beberapa bahkan masih bertanya penuh harap, "Benar udah
habis, Mas?" yang dijawab dengan kepastian "Ya". 


            Apa boleh buat. Kebaikan dalam semalam tak mungkin bisa
mengubah kehidupan semua yang membutuhkan. Tapi, bayangkan bagaimana
jika semua Muslim dan Muslimah melakukan hal yang sama. Membantu sesama
dalam setiap kesempatan. Pasti kesejahteraan merata perlahan-lahan bisa
kita raih dalam negeri tercinta. Tentu saja perlu ada koordinasi yang
baik untuk mengamankan situasi. Karena seperti yang bisa dilihat dari
peristiwa zakat mal maut di Pasuruan yang menewaskan 21 orang dan
diperkirakan akan bertambah jumlah korbannya, tanpa koordinasi yang
baik, kebaikan dapat berujung tragedi. Itu sebabnya, aku merasa salut
kepada teman-teman T-Cam yang berhasil menguasai keadaan tanpa
kericuhan. Tapi, mungkin akan lebih baik jika orang-orang yang
menggelandang ini diberikan keterampilan atau kegiatan bermanfaat
sehingga mereka dapat merasakan hidup yang lebih cerah dalam jangka
waktu yang panjang berdasarkan tenaga dan pemikiran mereka sendiri. Toh
pengalaman telah mengajarkan bahwa bahkan BLT atau pemberian sembako
gratis dari pemerintah yang notabene diamankan petugas kepolisian
sebagian besar berakhir ribut dan diwarnai kekerasan. 


            Menjelang pukul tiga pagi rombongan kami sampai di salah
satu panti asuhan di Bekasi untuk sahur bersama. Kuperhatikan kondisi
panti asuhan itu. Sebuah lukisan bergambar kaligrafi tampak menggantung
miring seolah siap jatuh ke tanah. Dindingnya berwarna kelabu, termakan
oleh waktu. Sementara tangga kayu tampak lapuk hingga memberi kesan
kumuh dalam rumah yang sebetulnya cukup besar itu. 


            Seorang anak laki-laki dengan setengah mengantuk berjalan
menuruni tangga dan malu-malu melewati teman-teman T-Cam yang sudah
terlanjur memadati seluruh lantai bawah. Pemimpin panti dengan hangat
menyambut kami disusul penjelasan perwakilan T-Cam tentang alasan
kedatangan kami. Tapi, selama ramah-tamah ini aku sendiri malah
tenggelam dalam pikiranku sendiri.  Aku berangan-angan bagaimana
seandainya panti bagi anak-anak yatim-piatu itu dipugar dan diperindah
agar nyaman. Selama ini aku bercita-cita membuka tempat serupa karena
aku sangat suka dengan anak-anak. Hanya saja, memang sulit untuk
mewujudkannya. Penghasilanku yang naik-turun, bisnis keluarga yang baru
berjalan, fakta bahwa tak mungkin mendirikan sebuah panti asuhan
sendirian, membuatku mafhum bahwa pengurus panti tentu telah berusaha
sebaik mungkin untuk mempertahankan rumah yang menaungi belasan anak
yang tinggal di sana. Bagaimanapun, kupikir kalau saja mereka lebih
memperhatikan faktor-faktor kecil seperti lukisan di ruang tamu yang
begitu terlihat, tapi dibiarkan miring begitu saja, tentu anak-anak akan
lebih senang dan bergembira. Hatiku rasanya seperti tersayat ketika
melihat beberapa anak bermata sembab dan wajah manis mereka. Bisa
kubayangkan betapa anak-anak seusia mereka membutuhkan kasih sayang
orangtua, namun sedari kecil tak lagi merasakannya. Aku mencium lembut
pipi anak yang terkecil dan berdoa dalam hati untuk kebahagiaan mereka. 


            Tak terasa sudah waktunya untuk pulang. Dan hoho. Sejak yang
terakhir kali kami mengemudi paling belakang, kami kini selalu menjadi
yang paling depan. Yap. Kami bahkan menjadi penunjuk arah menjelang
detik-detik terakhir sebelum kami berpisah di tengah jalan. Aku, Umi,
Ita, dan Andi akhirnya berpamitan dari rombongan T-Cam dengan janji jika
umur kami panjang dan Allah mengijinkan kami akan ikut berpartisipasi
kembali tahun depan. 


            Dan begitulah. Meskipun badan terasa pegal-pegal, kantuk
luar biasa membuat mata nyaris tak dapat membuka lagi, kami merasakan
pencerahan. Semoga saja, melalui sahur on the road ini Allah meluaskan
rejeki dan kehangatan yang terpatri dalam hati hamba-hambanya yang kecil
ini. Terima kasih, khususnya, kami haturkan kepada Deni dan kawan-kawan
untuk hadiah silaturahmi, persaudaraan, dan pengalaman yang sangat
berkesan. 




(Nadiah Abidin, 16 September 2008, pukul 2:40 a.m., sambil menunggu
waktu sahur tiba). 


              


               




  _____  

Nama
<http://sg.rd.yahoo.com/id/mail/domainchoice/mail/signature/*http://mail
.promotions.yahoo.com/newdomains/id/> baru untuk Anda! 
Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan
@rocketmail. 
Cepat sebelum diambil orang lain! 



 


Kirim email ke