Apakah anda
termasuk orang yang punya kemauan keras? Apakah anda tahu persis tujuan hidup
anda? Apakah anda merasa dapat mengendalikan nasib sendiri? Apakah anda cukup
persisten (bersedia mengorbankan waktu anda) untuk menyelesaikan tugas yang
telah anda tetapkan sendiri? Sulitkah bagi orang lain untuk membelokkan anda
dari tujuan anda? Apakah anda cenderung menetapkan sendiri tujuan anda? Apakah
tujuan yang anda tetapkan sangat menantang? Apakah anda senang terikat dengan
tujuan-tujuan yang anda tetapkan tersebut?
Jika mostly jawaban
anda adalah “ya” pada pertanyaan-pertanyaan di atas, anda telah menunjukkan
“willpower”, salah satu komponen dari “hope” (“harapan”, but I tend to use the
word “hope” hereafter). Willpower saja belum cukup untuk menunjukkan anda punya
PsyCap Hope. Selain itu, anda juga harus memiliki pathways (cara) untuk
mencapai tujuan anda. Agar anda juga memiliki komponen pathways, maka anda
harus memiliki jawaban afirmatif untuk pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah
anda secara proaktif menentukan cara-cara untuk mencapai tujuan anda? Apakah
anda selalu mencari cara alternatif untuk mencapai tujuan anda? Jika menemui
hambatan dalam pencapaian tujuan, apakah anda sudah punya alternatif lain untuk
mengatasi hambatan tersebut? Apakah anda punya kekuatan (strength) untuk
mengimbangi kelemahan-kelemahan anda?
Hope sering
digunakan dalam pembicaraan sehari-hari, dan seringkali pula ada mispersepsi
tentang makna “hope”. Banyak yang mengartikan hope sebagai wishful thinking
(mungkin “harapan” juga dalam bahasa indonesia), tidak lebih dari sebuah sikap
positif, atau bahkan sebuah ilusi. Padahal hope adalah something beyond that,
karena komponen pathways itu.  Jika seseorang gets stuck on the pathway
dan tidak melihat alternatif lain, ia tidak hanya mengalami frustrasi,tetapi
sudah mengalami tahap awal “learned helplessness”.
Orang yang hopeful
(high-hopers) adalah pemikir independen yang memiliki internal locus of
control, membutuhkan tingkat otonomi yang cukup tinggi dan tidak suka diatur.
Mereka memiliki motivasi besar untuk terus bertumbuh dan intrinsically
motivated by enriched jobs. Mereka cenderung kreatif dan resourceful, dan
sangat mungkin menjadi “successful entrepreneurs.”
Sementara itu,
orang yang tidak memiliki hope (low-hopers) seringkali konform dengan peraturan
perusahaan dan patuh pada atasan. Atasan bisa saja melihat low-hopers sebagai
bawahan yang kooperatif, “good soldiers” padahal mereka seringkali menjadi
orang yang disengaged dan suka terlihat “sibuk” di kantor.
Bagaimana dengan
rata-rata orang Indonesia? Kalau boleh jujur, orang Indonesia bukanlah
‘high-hopers’. Seringkali kita melontarkan harapan-harapan, padahal yang kita
maksud lebih kepada ‘harapan kosong’ atau wishful thinking. Instead of using
the word “I hope…”, we are to use the word “I wish…”. Cobalah tanyakan seorang
teman anda apa harapannya dan bagaimana cara ia memenuhi harapan tersebut.
Jawaban terhadap cara memenuhi harapannya  hampir pasti: “belum tahu,
dijalani sajalah…” Kebiasaan menyerahkan segala sesuatu kepada Yang Maha Kuasa
membuat locus of control kita cenderung eksternal. Kita juga tidak terbiasa
melakukan perencanaan, cenderung spontan dan menerima saja keadaan tak
menguntungkan tanpa ada usaha untuk merubah keadaan tersebut. Sounds familiar?
Have a nice day!
by: Debora Eflina
Sumber bacaan:
Luthan, F; Youssef, C.M.; & Avolio, B.J. (2007). Psychological Capital:
Developing the Human Competitive Edge. NY: Oxford University Press.


ps. NCB kali ini diisi oleh penulis tamu, kakak senior yang kemudian mendalami 
psikologi.
Thanks mbak Debby! (debbypepin.multiply.com)


      

Kirim email ke